LKB Dukung Revitalisasi TIM, tapi Mesti Beri 'Ruang' Strategis Kesenian Betawi

Sabtu, 4 Januari 2020 10:26 Reporter : Syakur Usman
LKB Dukung Revitalisasi TIM, tapi Mesti Beri 'Ruang' Strategis Kesenian Betawi Diskusi revitalisasi Taman Ismail Marzuki. ©2020 Merdeka.com/LKB

Merdeka.com - Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) mendukung program pemerintah provinsi DKI Jakarta merevitalisasi Taman Ismail Marzuki (TIM) di Cikini, Jakarta Pusat. Lembaga yang menaungi ratusan sanggar seni-budaya Betawi ini mengharapkan kesenian Betawi mendapat 'ruang' lebih strategis saat program revitalisasi TIM rampung kelak, bila mengingat jasa dan kontribusi masyarakat Betawi terhadap ibu kota ini.

Beki Mardani, Ketua Umum LKB, mengatakan Republik Indonesia berutang banyak kepada orang Betawi. Dengan kelapangan hati orang Betawi, Jakarta menjadi ibu kota negara RI. LKB pun mendukung penuh revitalisasi TIM ini.

"Seniman Betawi terus berkarya di LKB, apa yang dikemukan secara simbolik terasa. Sepakat soal republik berutang ke Betawi karena nilai-nilai budaya Betawi tumbuh berkembang mewarnai di ibu kota. Gubernur Anies cukup sadar. Dalam berbagai kesempatan dia menyebut Jakarta berutang ke Betawi. Aspirasi sudah masuk," kata Beki Mardani dalam siaran persnya, saat diskusi “Revitalisasi TIM dan Seniman Betawi” di kantor LKB, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat sore (3/1).

Perlu diketahui, program revitalisasi TIM dikerjakan oleh BUMD PT Jakarta Propertindo. Program ini menelan biaya Rp 1,8 triliun dan rampung pada Juni 2021 bertepatan dengan ulang tahun ke-494 kota Jakarta.

Program ini sempat ramai diperbincangkan publik akhir-akhir ini, terutama setelah mencuat isu penolakan pembangunan hotel dari kalangan seniman. Padahal, saat ground breaking program ini, Gubernur Anies Baswedan menegaskan bahwa revitalisasi TIM bertujuan untuk meningkatkan citra TIM sebagai pusat kesenian bertaraf dunia.

Kalangan seniman Betawi juga mendukung proses revitalisasi TIM.

Iwan Aswan, pelukis Betawi, mengatakan, “TIM harus punya seniman kelas dunia, kurator kelas dunia, dan pengelola kelas dunia.”

Kata dia, terserah TIM mau dibikin apa. Yang jelas memberi kemaslahatan bagi orang Betawi.

1 dari 2 halaman

Selain fisik, revitalisasi juga 'konsep' TIM

diskusi revitalisasi taman ismail marzuki

2020 Merdeka.com/LKB

Di lain pihak, Bambang Bujono, kurator seni rupa yang pernah menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) selama dua periode, berpendapat zaman Gubernur Ali Sadikin merancang tempat berkumpul para seniman setelah Planet Senen digusur, Bang Ali tidak pernah berkonsultasi kepada siapa pun.

Bukannya tidak ada penolakan, ada. Malah seniman kaget, kok mewah benar gedungnya (TIM), kata Bambang dalam kesempatan diskusi yang sama.

Sejauh yang saya tahu, kata dia, yang dikonsultasikan oleh Pemda DKI (Gubernur Ali Sadikin) ke seniman adalah konsep TIM. Dalam pidato pembukaan TIM pada 10 November 1968, Bang Ali mengatakan ada kesenian yang perlu didukung, ada yang tidak. Dan soal ini sepenuhnya diserahkan kepada seniman, maka ada DKJ.

Menurut Bambang dalam materi presentasinya, revitalisasi jangan hanya soal prasarana fisik TIM. "Saya kira diskusi tentang konsep TIM lebih penting. Tapi bukan berarti perihal prasarana fisik tidak penting," ujarnya.

Dia menyarankan DKJ disederhanakan dan hanya ada dua komite, yakni kesenian modern tradisional dan kesenian tradisi. Kemduian revitalisasi tidak hanya menyangkut fisik dan pengelolaan aset, tapi juga manajemen pertunjukan, sehingga impian agar TIM menjadi pusat seni budaya dunia dapat terwujud.

Yang juga penting adalah pelibatan seniman Betawi dalam proses revitalisasi dan kegiatan ke depan. Kebudayaan Betawi hendaknya lebih mewarnai TIM, seturut namanya yang diambil dari nama pahlawan nasional Betawi dan lokasinya di Jakarta. Memang sudah dimulai, seperti kegiatan Pekan Sastra Betawi 2019 serta beberapa seniman yang terlibat di Dewan Kesenian Jakarta, seperti Yahya Andi Saputra dan Atin Kisam.

Roni Adi, Ketua Betawi Kita, menegaskan, Seniman Betawi harus lebih diberi tempat di TIM, seperti lenong Betawi dulunya meramaikan TIM. Jangan sampai seniman Betawi tak diberi peran strategis.

"Revitalisasi jangan fokus pada pembangunan fisik saja. Revitalisasi juga harus difokuskan pada ekosistem kebudayaannya. Banyak harapan yang terkuak dalam diskusi, termasuk mengembalikan Masjid Amir Hamzah yang merupakan cagar budaya dengan prasasti bertanda tangan Ali Sadikin di depannya. Juga agar TIM tidak hanya bersifat Indonesia, tapi juga lebih memperhatikan Betawi sebagai tuan rumah," pungkas Roni yang asal Tanah Abang ini.

2 dari 2 halaman

Sejarah TIM

taman ismail marzuki

tulisantertulis.files.wordpress.com

Taman Ismail Marzuki (TIM) sendiri merupakan sebuah pusat kesenian dan kebudayaan yang didirikan oleh Gubernur Ali Sadikin pada 10 November 1968. TIM dikenal sebagai Ruang Rekreasi Raden Saleh. Berlokasi di Jalan Cikini Raya 73, Menteng, Jakarta Pusat, sentra kesenian ini mengambil nama Ismail Marzuki, orang Betawi kelahiran Kwitang, Senen, yang juga seorang komposer terkenal.

TIM sendiri memang punya sejarah yang lekat dengan orang Betawi. TIM menjadi awal tempat populernya lenong di tahun 1970-an hingga 1980-an. Bahkan, lenong yang saat itu dipertunjukkan membuat bangku pementasan hampir selalu terisi penuh. Lenong yang saat itu megap-megap pun berhasil diselamatkan.

Berbagai pertunjukan yang kreatif dan inovatif lahir di TIM. Sebab, TIM memang menjadi wadah bagi seniman untuk melahirkan karya yang didasari eksperimen dan kaya dengan ide. Sejumlah seniman besar melahirkan karya di TIM, seperti Rendra dengan Bengkel Teater, Nano Riantiarno dengan Teater Koma, atau Sardowo W Kusumo dengan pentas tarinya.

Kemudian pelukis Affandi, Trisno Soemardjo, Hendra Gunawan, Agus Jaya Oesman Effendi, dan S Sudjojono yang mengisi TIM dengan karya-karya artistik mereka. Seniman Betawi juga aktif di TIM, macam Firman Muntaco dan Sarnadi Adam.

Kini, di tengah revitalisasi TIM, yang lebih penting adalah mengembalikan fungsi utama TIM sebagai taman terbuka publik dan pusat seni budaya serta edukasi.

Muhammad Taufiqurachman, Direktur Operasional Jakarta Propertindo, menjelaskan pihaknya melalukan revitalisasi TIM setelah mendapat mandat dari Gubernur Anies Baswedan sesuai Pergub No 327 tahun 2018. Dia menyebut ada beberapa hal yang diperbaiki usai revitalisasi, antara lain penambahan kapasitas Graha Bakti Budaya, pembuatan amphitheater, Kineforum, dan Teater Arena yang dulu pernah ada tapi sekarang hilang.

Bahkan, ruang terbuka hijau naik dari 11 persen menjadi 27 persen, katanya.

[sya]
Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. DKI Jakarta
  3. Betawi
  4. Kesenian
  5. Jakarta
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini