China Miskin Ibu Kota
hidup miskin di tengah gemerlap ibu kota
Eng Sin (70), keturunan Tionghoa hidup sebatangkara dalam Gemerlap Metropolitan
China Miskin Ibu Kota
Pengemis Pekong, begitu Eng Sin biasa dipanggil teman-temannya. Sudah 30 tahun hidup miskin semenjak ditinggal istri dan anak-anaknya.
Dia kini hidup dari belas kasih orang-orang. Padahal dahulu, hidupnya tak sesulit ini.
Petaka hadir setelah rumah tangganya hancur.
Eng Sin Pernah Kaya
"Dulu saya hidup cukup dari usaha agen rokok dan distributor kue. Tapi setelah perceraian, hidup dan usaha saya mulai sepi dan terpaksa tutup," kenang Eng Sin saat ditemui di Wihara Dharma Bhakti.
merdeka.com
Eng Sin tinggal bersama temannya di sebuah kamar indekos. Kondisi kamarnya 3x3 meter. Tidur hanya beralas tikar plastik dan atap bocor yang kerap menemaninya.
Eng Sin mengaku sudah bertahun-tahun mencari uang di Wihara Dharma Bakti. Hanya sekadar untuk mencukupi makan sehari-hari dan biaya indekos sebesar Rp250 ribu per bulan.
Eng Sin terpaksa menjalani hidup di tempat kumuh, lembab, sempit. Jauh dari kata layak.
Cuma satu harapan Eng Sin kini. Dia dapat berjumpa kembali dengan buah hati. Setidaknya sebelum dirinya dipanggil sang kuasa.
"Saya sudah pasrah, hanya bisa bertahan hidup dan menunggu meninggal doang." Pilu Eng Sin.
"Rumah, mobil, motor saya jual. Saya stres karena sudah tidak ada tujuan hidup lagi," ujar Eng Sin.
Meski hidupnya serba kekurangan. Eng Sin mengaku tak pernah minta-minta.
Namun, dia tidak menolak apabila ada dermawan yang memberikannya sedikit rezeki untuk bertahan hidup di tengah himpitan ekonomi.