Soeharto Berunding dengan Ulama dan Tokoh Masyarakat pada 19 Mei 1998, Enggan Mundur

Rabu, 19 Mei 2021 06:01 Reporter : Novi Fuji Astuti
Soeharto Berunding dengan Ulama dan Tokoh Masyarakat pada 19 Mei 1998, Enggan Mundur Kerusuhan Mei 1998. ©REUTERS

Merdeka.com - Soeharto membangun sebuah pemerintahan di Indonesia yang dikenal dengan nama Orde Baru untuk membedakan dengan masa pemerintahan sebelumnya oleh Soekarno. Pembangunan ekonomi, stabilitas politik, dan keamanan menjadi tolak ukur keberhasilan pemerintahan Soeharto, meskipun harus mengabaikan demokrasi dan hak asasi manusia yang menjadi landasan politik pemerintahan Soeharto.

Dengan demikian, masyarakat merasa kecewa atas berbagai penyimpangan yang dilakukan oleh pemerintahan presiden Soeharto. Kekecewaan tersebut justru kian bertambah mana kala Indonesia mengalami krisis ekonomi. Di mana krisis tersebut bermula dari Thailand pada Juli 1997, sehingga mempengaruhi nilai tukar rupiah yang menunjukkan kecenderungan melemah.

Seiring dengan upaya menstabilkan ekonomi yang tak kunjung berhasil, kepercayaan masyarakat mulai menurun. Perekonomian yang dibangun Orde Baru selama lebih dari 32 tahun berkuasa hancur dengan ditandai harga-harga barang mulai naik, banyaknya hubungan kerja diputus sehingga menyebabkan berkurangnya lapangan kerja dan maraknya tindakan KKN (Kolusi, Korupsi dan Nepotisme) di Indonesia.

Kondisi demikian membuat mahasiswa dan rakyat Indonesia mengadakan demonstrasi untuk meminta Soeharto mundur dari jabatannya sebagai presiden Republik Indonesia karena dipandang tak bisa menyelesaikan masalah yang terjadi.

Namun meskipun sudah terjadi demo di seluruh penjuru negeri, Soeharto nyatanya pada saat itu masih enggan mundur dari kursi kepresidenannya. Usaha mempertahankan jabatan dilakukan Soeharto dengan berunding dengan ulama dan toko masyarakat di istana kepresidenan. Lebih jauh berikut ini informasi lengkap mengenai Soeharto berunding dengan ulama dan tokoh masyarakat pada 19 Mei 1998, enggan mundur dari jabatan telah dirangkum merdeka.com melalui liputan6.com dan repository.unej.ac.id.

2 dari 3 halaman

Gerakan Mahasiswa 1998


Pemerintahan presiden Soeharto melakukan berbagai penyimpangan sehingga membuat rakyat merasa kecewa terhadap tindakan yang dilakukan oleh pemerintah. Kebencian rakyat pun tidak dapat dibendung lagi sehingga semakin hari sikap anti pemerintah terus bermunculan. Ditambah lagi dengan aksi-aksi mahasiswa yang menuntut presiden turun dari jabatannya dan segera melaksanakan reformasi.

Aksi mahasiswa yang terjadi sepanjang Februari 1998 memuncak pada tanggal 12 Mei 1998 di Kampus Universitas Trisakti di Jalan Kyai Tapa, Grogol, Jakarta. Peristiwa ini telah merenggut nyawa empat orang mahasiswa Trisakti akibat tembakan peluru tajam oleh aparat kepolisian.

Tanggal 13-15 Mei 1998 diadakan aksi keprihatinan dan berkabung atas gugurnya mahasiswa Trisakti. Kerusuhan yang terjadi tanggal 13-15 Mei 1998 menyebabkan lebih dari seribu orang tewas di Jakarta. Ratusan orang tewas ketika mereka berusaha menjarah ratusan pusat-pusat perbelanjaan.

Puncak demonstrasi terjadi pada 18 Mei 1998 ketika mahasiswa berhasil menduduki gedung DPR RI. Keesokan harinya tanggal 19 Mei 1998 presiden Soeharto diminta mundur dari kursi kepresidenan. Namun presiden masih enggan mundur ia justru berunding dengan ulama dan tokoh masyarakat. Perundingan tersebut tidak mendapat sambutan baik dari masyarakat.

3 dari 3 halaman

Soeharto Enggan Mundur

Meskipun demonstrasi telah berlangsung di berbagai penjuru negeri, kenyataan tersebut tidak cukup menjadi alasan bagi Soeharto untuk mundur. Presiden Soeharto bersikukuh bahwa keadaan bisa diperbaiki. Untuk mengatasi keadaan tersebut, presiden Soeharto mengundang beberapa ulama dan tokoh masyarakat untuk berunding seperti Nurcholis Madjid dan Abdurrahman Wahid. Pertemuan tersebut dilakukan di Istana Negara pada tanggal 19 Mei 1998.

Presiden Soeharto tetap menyatakan tekad untuk tak mundur dari jabatannya dan justru hendak membentuk Komite Reformasi yang akan dipimpin langsung olehnya. Setelah berkuasa selama tiga dekade lebih, ia bahkan tidak memahami situasi dan kondisi yang berkembang. Ia tetap keras kepala mempertahankan jabatan dan kekuasaannya.

Presiden justru merespons situasi yang berkembang dengan mengadakan perundingan dengan ulama dan tokoh masyarakat di Istana Negara yang berlangsung kurang lebih selama 2,5 jam. Usai pertemuan, Soeharto menyatakan akan mengundurkan diri secara konstitusional dengan mekanisme pergantian presiden dan wakil presiden tetap melalui Sidang Umum MPR. Soeharto juga akan membantu Komite Reformasi dan memimpin sendiri reformasi tersebut di berbagai bidang .

Terang saja upaya presiden Soeharto tidak mendapat sambutan rakyat. Hingga pada dini hari tanggal 21 Mei 1998 Amien Rais selaku Ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah menyatakan "Selamat tinggal pemerintahan lama dan selamat datang pemerintahan baru". Ini Ia lakukan setelah mendengar kepastian dari Yuzril Ihza Mahendra. Akhirnya, pada pukul 09.00 WIB Presiden Soeharto membacakan pengunduran dirinya. [nof]

Baca juga:
Peristiwa 18 Mei: Peringati Hari Museum Internasional, Ketahui Temanya Tahun Ini
Peristiwa 17 Mei: Proklamasi Kalimantan, Wujud Kesetiaan Rakyat Menjadi Indonesia
Sejarah 16 Mei 1929: Perhelatan Perdana Piala Oscar
Peristiwa 10 Mei: Kelahiran Rosihan Anwar, Tokoh Pers Berpengaruh di Indonesia
Peristiwa 7 Mei : Jerman Menyerah pada Sekutu saat Perang Dunia II
Peristiwa 6 Mei 1937: Tragedi Terbakarnya Balon Raksasa Hindenburg di New Jersey

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini