Sejarah 12 Juli 1975: Monumen Nasional Resmi Dibuka untuk Umum
Merdeka.com - Siapa yang tak tahu dengan Tugu Monumen Nasional? Tugu yang lebih populer dengan sebutan Monas ini adalah sebuah monumen peringatan, untuk mengenang perjuangan rakyat Indonesia dalam merebut kemerdekaan dari tangan Belanda.
Tugu Monumen Nasional terletak di Lapangan Merdeka, yang sesuai dengan keinginan dari Ir. Soekarno, di mana beliau menginginkan adanya sebuah monumen lambang perjuangan di suatu tempat yang heroik.
Pembangunan Monas dimulai dari tanggal 17 Agustus 1961 dan resmi dibuka untuk umum pada tanggal 12 Juli 1975. Ya, dibutuhkan waktu selama 14 tahun untuk mendirikan tugu setinggi 132 meter ini. Panjangnya waktu pembangunan menggambarkan bahwa terdapat beberapa permasalahan dalam proses pembuatan tugu ini.
Diawali Sayembara
Soekarno memang membayangkan sebuah tugu perjuangan di lokasi yang bersejarah. Namun, Soekarno belum membayangkan bagaimana bentuk dari tugu tersebut.
Dilansir dari laman Historia, saat itu pemerintah Indonesia membentuk Panitia Tugu Nasional pada 17 September 1954 untuk membantu mewujudkan rencana pembangunan monumen perjuangan. Panitia pun membuka sayembara pada 17 Februari 1955 sehingga masyarakat dapat mengirimkan rancangan Tugu Nasional dengan lima kriteria tertentu.
Rancangan tugu harus menggambarkan dinamika, kepribadian, dan cita-cita bangsa Indonesia. Kemudian tugu juga harus menggambarkan sesuatu yang bergerak meski tersusun dari benda mati dan dapat bertahan berabad-abad.
Sayangnya, tidak mudah untuk menemukan karya yang sesuai dengan keinginan Soekarno sebagai ketua juri. Karena dinilai tidak ada yang sesuai, Soekarno pun menunjuk langsung dua arsitek ternama, yaitu Friedrich Silaban dan R.M. Soedarsono untuk membuat rancangan tugu.
Kritik Masyarakat

©2020 Merdeka.com/Iqbal S Nugroho
Awalnya Soekarno tertarik pada rancangan yang diajukan oleh Silaban. Namun karena anggarannya tidak sesuai dengan keuangan negara, maka beliau beralih ke rancangan Soedarsono.
Selesai dengan urusan rancangan tugu, pemerintah pun mengumumkan pembangunan Monumen Nasional akan segera dilaksanakan di Lapangan Merdeka pada Agustus 1961. Oleh karena itu, Lapangan Merdeka pun harus segera dibersihkan dari berbagai bangunan yang ada di sana. Bangunan-bangunan yang terkena dampaknya akan dipindahkan ke tempat lain.
Untuk urusan dana pemindahan bangunan dan pembangunan tugu, berasal dari sumbangan masyarakat, pengusaha, ekspor kopra, dan karcis bioskop.
''Tidak saya bangunkan dengan satu sen pun daripada budget negara!'' kata Sukarno kala itu.
Ucapan Soekarno tersebut sekaligus sebagai respon terhadap kritik masyarakat. Rakyat yang mengkritik berpikir bahwa Soekarno menghambur-hamburkan uang dan melupakan kebutuhan rakyat di tengah kondisi ekonomi yang masih belum stabil.
Namun Soekarno berpendapat bahwa monumen juga sama pentingnya dengan kebutuhan rakyat seperti pangan dan sandang. Soekarno percaya pada kekuatan sebuah monumen dan makna yang ada di baliknya.
Namun para pengkritik tidak peduli dengan pendapat tersebut. Beberapa peristiwa internal seperti G30S 1965 dan peristiwa lainnya pun sempat membuat pembangunan terhenti. Tetapi pada akhirnya Monumen Nasional terus tumbuh semester demi semester.
Monas saat Ini
Era Soekarno pun runtuh, dan diganti dengan penguasa selanjutnya. Namun, berakhirnya kekuasaan Soekarno bukan berarti pembangunan juga berakhir. Monumen Nasional tersebut terus dikerjakan hingga akhirnya selesai dan resmi dibuka untuk umum pada 12 Juli 1975. Sayangnya, pembukaan Monas tidak bisa disaksikan oleh Soekarno, yang wafat lima tahun sebelumnya.

©2021 Merdeka.com/Imam Buhori
Monumen Nasional itu pun berdiri hingga saat ini, dan menjadi bangunan ikonik di Jakarta dan juga Indonesia. Yang menarik dari tugu ini tentu saja lidah api yang berada di puncaknya, yang memiliki diameter 6 meter dan dilapisi oleh emas 35 kilogram.
Monas pun kini menjadi salah satu destinasi wisata populer yang ada di Jakarta. Banyak orang, baik orang Jakarta, orang luar daerah, atau orang asing, yang datang berkunjung ke tugu ini.
Di dalam Monas bagian dasarnya, terdapat Museum Sejarah Nasional Indonesia. Ruangan besar berlapis marmer ini memiliki 48 diorama di keempat sisinya dan 3 diorama di bagian tengah. Diorama ini menampilkan sejarah Indonesia sejak masa pra sejarah hingga masa Orde Baru.
Di bagian dalam cawan monumen kita bisa menemukan Ruang Kemerdekaan berbentuk amphitheater. Ruangan ini menyimpan simbol kenegaraan dan kemerdekaan Republik Indonesia, di antaranya naskah asli Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, lambang negara Indonesia, dan peta kepulauan Negara Kesatuan Republik Indonesia berlapis emas.
Kemudian kita bisa menaiki lift yang menuju pelataran puncak. Di sini, pengunjung dapat melihat panorama Jakarta melalui teropong yang telah disediakan. Dari pelataran puncak tugu Monas, pengunjung juga dapat menikmati pemandangan seluruh penjuru kota Jakarta.
(mdk/ank)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya