Pasca kemerdekaan Indonesia di tahun 1945, pemerintahan negara baru ini terus menggencarkan pembangunan. Sejumlah fasilitas dibangun di ibu kota negara yakni Jakarta, untuk membantu laju pertumbuhan pasca kolonialisme.
Salah satu yang ketika itu dimasifkan adalah pembangunan kota satelit Kebayoran Baru. Rumah-rumah didirikan, gedung-gedung dirancang hingga beberapa pabrik digencarkan menggunakan teknologi yang belum semaju sekarang.
Meski demikian, pembangunan saat itu rupanya telah menggunakan alat-alat berat canggih. Bahkan tak dikira ukurannya, karena terbilang besar. Pembangunan kota penunjang pusat pemerintahan pun kemudian terlaksana dengan baik.
Jejak bangunan yang dirancang pada masa itu pun masih bisa disaksikan di masa sekarang.
Advertisement
Menunjang Jakarta sebagai Pusat Pemerintahan Indonesia
Merujuk selatan.jakarta.go.id, setelah perang revolusi di tahun 1947 sampai 1948, Indonesia telah resmi terbebas dari berbagai tindakan kolonialisme. Saat itu, Soekarno merencanakan pertumbuhan fasilitas kota, salah satunya rumah tinggal.
Di wilayah Kebayoran Baru (sekarang Jakarta Selatan), daerah yang semula hutan dan rawa mulai dibabat. Timbunan tanah, batu hingga pasir digunakan untuk menguruk area tersebut agar bisa didirikan kompleks bangunan.
Dalam pembangunan ini, arsitek yang memegang tanggung jawab besar adalah H. Moh. Soesilo yang merupakan murid Thomas Karsten, arsitek Hindia Belanda yang merancang Kota Bandung, Malang, dan Bogor pada masa penjajahan.
Advertisement
Ingin Dijadikan Kota Taman
Soesilo yang diajar penuh oleh Karsten terbayang bahwa Kebayoran Baru harus dibuat serapi dan semenarik mungkin. Ini kemudian membuatnya menciptakan konsep kota taman yang memang menjadi daya tarik di wilayah Eropa.
Dalam konsep ini, sebuah kota setidaknya harus memiliki ruang terbuka hijau sebagai suguhan untuk kenyamanan penghuninya. Titik taman yang dipilih ketika itu berada di sisi timur kali Grogol, yang kemudian menjadi stasiun Kebayoran.
Pembangunan kemudian mulai dilaksanakan usai peletakan batu pertama pada 8 Maret 1949. Pembangunan terus digencarkan sampai 1955.
Advertisement
Gunakan Alat Berat Raksasa
Mengutip Youtube Bimo K.A, peralatan yang saat itu digunakan sudah terbilang sangat modern. Ukurannya pun tidak main-main, yakni cukup besar.
Terlihat dalam arsip lawas itu, bulldozer yang membabat pohon-pohon besar, loader beroda raksasa yang menyeret tanah berpasir untuk membuat jalan dan scrapper yang berukuran besar untuk mengangkut dan menimbun tanah.
Kemudian ada juga paku bumi yang bertugas menekan tiang beton pondasi dan molen pengaduk semen yang ditanam dan berukuran amat besar.
Advertisement
Pekerja Asli Indonesia
Terlihat yang bekerja adalah para pekerja Indonesia, namun beberapa tampak dibantu oleh orang luar negeri.
Mereka terlihat bergotong royong, seperti memasang besi, mengatur tiang pancang sampai meratakan beton cair saat dicetak menjadi bangunan jembatan. Ada juga orang yang bertugas menurunkan batu kerikil dari atas kereta api.
Dalam waktu beberapa bulan saja, desain kota yang semua di dalam sketsa pun mulai terwujud.
Advertisement
Kondisi Kebayoran Baru saat Ini
Sesuai rencana awal, wilayah Kebayoran Baru akan dijadikan sebagai kota satelit. Di masa sekarang mimpi itu terwujud.
Seperti terlihat di Youtube Raja Drone Id, tampak wilayah Kebayoran Baru sudah dipenuhi gedung-gedung bertingkat. Boleh dibilang, keadaannya sekarang termasuk kawasan elit, karena banyaknya area perkantoran dan permukiman mewah.
Wilayah kecamatan Kebayoran Baru sekarang tidak hanya mencakup wilayah pengembangan yang asli, dengan tambahan perkampungan seperti daerah Radio Dalam, sebagian Kampung Gandaria (Gandaria Utara) dan sebagian Cipete (Cipete Utara).
Karakteristik penamaan jalan komplek Kebayoran Baru menggunakan nama jalan yang berbeda dan saat ini wilayah tersebut lebih dikenal sebagai area di Jakarta yang memiliki banyak blok (kecuali jalan besar).
Saat ini, rumah-rumah yang dibangun pada 1940-an itu masih terlihat di beberapa sisi seperti di Jalan Martimbang, Pakubuwono VI dan Wijaya di Jakarta Selatan.