Meledaknya bom bunuh diri di Kantor Polisi Sektor (Polsek) Astanaanyar, Kota Bandung, Jawa Barat, meninggalkan luka. Bukan hanya kepanikan, salah satu anggota Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) Ajun Inspektur Polisi Dua (Aipda) Sofyan telah dinyatakan gugur.
Aipda Sofyan diketahui meninggal usai menyelamatkan rekan-rekannya saat apel di area kantor Polsek Astanaanyar, Rabu (7/12). Ia sempat menghalau pelaku bom bunuh diri yang mencoba merangsek masuk sebelum ledakan mengenai lehernya.
Polisi 41 tahun itu meninggalkan seorang istri dan tiga orang anak. Berkat keteladanannya ia mendapat penghargaan yakni naik pangkat satu tingkat. Berikut kisah heroik Aipda Sofyan.
Advertisement
Gerak Gerik Mencurigakan Pelaku Dibaca Almarhum
Mengutip ANTARA, Kamis (8/12), Rabu pagi saat kejadian merupakan jadwal apel bagi seluruh jajaran dari Mako Polsek Astanaanyar. Ketika apel masih belum berakhir terdapat gerak gerik mencurigakan dari seseorang yang hendak memasuki area kantor polisi.
Berdasar keterangan di lapangan, saat apel berlangsung, kondisi pintu markas tertutup. Namun seseorang yang mencurigakan itu memaksa masuk, hingga Sofyan bergerak untuk menghalau pelaku.
Merasa tak terima, pelaku yang kemudian diidentifikasi bernama Agus Muslim itu justru mengacungkan senjata tajam kepada polisi-polisi yang tengah apel di lokasi.
Advertisement
Halau Pelaku agar Tidak Lukai Anggota Lain
Dalam situasi genting, Aipda Sofyan kemudian mencoba menghalangi pelaku agar tidak melukai anggota polisi lain dengan senjata tajamnya. Sayangnya tak berapa lama, sebuah bom tiba-tiba meledak dari pelaku hingga membuat Aipda Sofyan terluka di bagian leher.
Setelah terjadi ledakan, muncul asap pekat di sekitar lokasi kejadian hingga menimbulkan kepanikan. Suara bom pun turut terdengar begitu keras hingga radius beberapa meter dari kejadian.
Menurut saksi, antara Aipda Sofyan dengan pelaku sempat bersitegang karena pelaku memaksa untuk masuk ke lokasi. Setelah peristiwa berlangsung Aipda Sofyan juga mundur, namun sayang serpihan paku dari bom mengenai lehernya.
Menurut informasi, ledakan terjadi sekitar pukul 08.20 WIB, di mana Aipda Sofyan tengah berjaga di pagar masuk kantor polisi.
Advertisement
Dilarikan ke Rumah Sakit
Kemudian, terdapat saksi yang menyebut jika setelah kejadian Aipda Sofyan masih terlihat sadar dan berjalan ke luar kantor sambil memegang lehernya. Pelakunya langsung tewas seketika.
Dari hasil identifikasi, pelaku Agus Muslim merupakan mantan napi terorisme yang tergabung dengan Jamaah Ansharut Daulah (JAD).
Beberapa saat kemudian Aipda Sofyan langsung dilarikan ke Rumah Sakit Immanuel dalam kondisi terluka di leher. Sayangnya nyawa Aipda Sofyan tidak tertolong dan dinyatakan meninggal dunia pada pukul 10.00 WIB pagi.
Selain anggota polisi itu, terdapat korban lain yang terluka yakni seorang wanita bernama Nur Hasanah. Ketika itu, dirinya tengah melintas di depan polsek dan tidak dapat menghindari ledakan bom
Advertisement
Jadi Pahlawan
Kini Aipda Sofyan telah gugur, setelah menyelamatkan rekan-rekannya di kantor Polsek Astanaanyar. Dikonfirmasi Kasatbinmas Polrestabes Bandung AKBP Sutorih, Aipda Sofyan dianggap sebagai pahlawan karena berani menghalau pelaku yang mengancam anggota kepolisian di sana.
"Beliau adalah seorang pahlawan, karena beliau menyelamatkan anggota lainnya. Kalau saat kejadian tidak ada beliau, hanya Allah yang tahu. Yang jelas beliau adalah pahlawan karena menyelamatkan teman-temannya," katanya, usai upacara pemakaman jenazah Sofyan.
Aipda Sofyan kemudian dikebumikan melalui serangkaian upacara pemakaman. Di sana turut hadir anggota polisi dan keluarga dengan suasana penuh haru.
Advertisement
Diteladani Keluarga
Untuk menghargai jasa besarnya, Sofyan dianugerahi kenaikan pangkat satu tingkat lebih tinggi, menjadi Ajun Inspektur Polisi Satu (Aiptu) Anumerta. Menurut keluarga dan rekan-rekan, Sofyan dikenal sebagai sosok yang rajin beribadah.
Bahkan anggota keluarga juga menjadikannya sebagai sosok yang teladan, karena semasa hidup ia tidak pernah terlihat mengeluh.
"Jadi, Sofyan yang menjadi polisi di antara lima bersaudara di keluarga kami. Sejak kecil Sofyan sudah bercita-cita menjadi polisi," kata kakak korban bernama Salman (45)
Sofyan dikebumikan di tempat pemakaman keluarga (TPK) Sukahaji, Sukasari, Kota Bandung, Jawa Barat secara upacara kepolisian. Prosesi pemakamannya berlangsung pada pukul 17.00 WIB.
Selama ini, ia tinggal di Kelurahan Sukawarna, Kecamatan Sukajadi, Kota Bandung. Aipda Sofyan merupakan polisi yang lulus dari Sekolah Calon Bintara atau Secaba Polri pada tahun 2003. Ia merupakan anak terakhir, dari lima bersaudara.