Tanda Emosional Akibat Stres, Jangan Diabaikan

Terlalu banyak atau lama mengalami stres dapat menghasilkan gejala dan tanda emosional yang akan berpengaruh buruk bagi kesehatan mental.

Andre Kurniawan Kristi
Oleh Andre Kurniawan Kristi - Reporter
Tanda Emosional Akibat Stres, Jangan Diabaikan
Ilustrasi stres di tempat kerja. ©Shutterstock

Stres adalah bagaimana kita bereaksi ketika kita merasa di bawah tekanan atau saat terancam. Ini biasanya terjadi ketika kita berada dalam situasi di mana kita merasa tidak bisa mengelola atau mengendalikannya.

Tapi terkadang, sedikit stres dapat membantu kita menyelesaikan tugas. Dan jika tidak dikelola dengan baik, stres bisa menjadi masalah karena berlangsung lama atau terjadi sangat intens. Dalam beberapa kasus, stres dapat mempengaruhi kesehatan fisik dan mental kita.

Terlalu banyak atau lama mengalami stres dapat menghasilkan gejala fisik dan emosional. Tanda fisik dari stres yang mungkin biasa dirasakan antara lain ketegangan otot, sulit tidur, penglihatan kabur, sakit kepala, mual, hingga nyeri dada.

Lalu bagaimana dengan tanda emosional akibat stres? Berikut ini kami ulas lebih lanjut tentang apa saja tanda emosional akibat stres yang perlu Anda ketahui.

Tanda emosional akibat stres yang pertama adalah depresi. Mengutip dari healthline, para peneliti telah menemukan hubungan antara tingkat stres yang tinggi dan timbulnya depresi.

Studi observasional tahun 2015 memeriksa tentang tingkat stress dari populasi usia kerja, mengukur tingkat dan gejala stres peserta secara keseluruhan. Depresi lebih sering terjadi pada orang yang melaporkan tingkat stres yang lebih tinggi.

Untuk mengatasinya Anda bisa meminta bantuan pada profesional kesehatan mental. Baik psikoterapi maupun pengobatan dapat menjadi cara yang efektif. Kelompok pendukung, teknik mindfulness, dan olahraga juga dapat membantu.

Kecemasan

Tanda emosional akibat stres yang kedua yaitu kecemasan. Kecemasan berbeda dari depresi karena dicirikan oleh perasaan ketakutan dan kekhawatiran yang luar biasa. Namun, seperti depresi, penelitian menunjukkan bahwa stres mungkin terkait dengan kecemasan dan gangguan kecemasan.

Dalam satu studi tahun 2015, para peneliti menyelidiki efek tingkat stres di rumah dan tempat kerja pada tingkat kecemasan dan depresi. Mereka menemukan bahwa orang yang mengalami stres kerja tingkat tinggi lebih cenderung memiliki lebih banyak gejala kecemasan dan depresi.

Untuk mengatasinya Anda bisa meminta bantuan pada profesional kesehatan mental. Pilihan pengobatan seperti psikoterapi dan obat-obatan juga dapat membantu.

Tanda emosional akibat stres ketiga yakni mudah marah. Iritabilitas dan sifat marah bisa menjadi ciri umum pada orang yang stres. Dalam satu studi tahun 2014, tingkat kemarahan yang lebih tinggi dikaitkan dengan stres mental dan kemungkinan serangan jantung terkait stres.

Studi lain menyelidiki hubungan antara kemarahan, depresi, dan tingkat stres pada pengasuh. Para peneliti menemukan hubungan antara stres kronis yang berhubungan dengan perawatan dan tingkat kemarahan.

Untuk mengatasinya, Anda perlu mencari tahu cara mengendalikan sifat marah Anda.Teknik relaksasi, pemecahan masalah, dan komunikasi adalah metode yang bagus untuk membantu mengekang kemarahan. Teknik manajemen kemarahan dapat membantu mengurangi stres dalam situasi yang biasanya membuat Anda frustrasi, tegang, atau marah.

Gairah Seks Menurun

Tanda emosional akibat stres keempat yaitu menurunnya gairah seks. Pada beberapa orang, terlalu banyak stres dapat berdampak negatif pada dorongan seks dan keinginan untuk berhubungan intim.

Sebuah studi yang diterbitkan pada tahun 2014 menemukan bahwa tingkat stres kronis memiliki dampak negatif pada gairah seksual. Penelitian menunjukkan bahwa tingkat kortisol yang tinggi dan terganggu dapat menyebabkan tingkat gairah yang lebih rendah.

Sebagian besar penelitian seputar stres dan libido rendah melibatkan wanita, tetapi tentu saja dapat mempengaruhi yang lain juga.

Untuk mengatasinya, mencari cara untuk meredakan stres dapat membantu memulihkan gairah seks dan meningkatkan libido. Meningkatkan komunikasi dengan pasangan juga dapat meningkatkan keintiman dan mengembalikan perasaan positif terhadap seks.

Tanda emosional akibat stres yang kelima yakni munculnya masalah memori dan konsentrasi. Jika Anda mengalami masalah dengan konsentrasi dan memori, kemungkinan stres adalah sumber dari masalahnya.

Tinjauan tahun 2014 lainnya menyelidiki jalur respons stres di otak dan efeknya pada memori jangka panjang. Para peneliti menemukan bahwa hormon tertentu setelah stres atau traumatis dapat menyebabkan kerusakan memori.

Untuk mengatasinya, perubahan gaya hidup dapat membantu meningkatkan daya ingat. Mempertahankan diet seimbang dan menjaga tubuh serta pikiran tetap aktif juga dapat membuat Anda tetap fokus. Menghindari aktivitas seperti minum alkohol dan merokok juga dapat membantu menjaga kesehatan otak.

Perilaku Kompulsif

Hubungan antara stres dan perilaku kompulsif sudah lama diketahui. Satu makalah menyebut gagasan bahwa perubahan terkait stres di otak dianggap berperan dalam pengembangan kecanduan. Menurut para peneliti, stres kronis dapat mengubah sifat fisik otak untuk mendorong perilaku yang membentuk kebiasaan dan kecanduan.

Untuk mengatasinya, kebiasaan gaya hidup sehat akan membantu mengurangi perilaku kompulsif. Namun untuk perilaku kompulsif yang lebih serius, mungkin dibutuhkan bantuan profesional.

Perubahan Suasana Hati

Tanda emosional akibat stres yang terakhir adalah munculnya perubahan suasana hati. Satu studi dari 2014 meneliti peran berbagai jenis tes stres pada fisiologi, suasana hati, dan kognisi. Penelitian menunjukkan bahwa stresor sosial dan fisik dapat berdampak besar pada kesejahteraan emosional dan suasana hati.

Dengan banyaknya tanda emosional stres, mudah untuk melihat pengaruh stres terhadap suasana hati secara keseluruhan. Untuk mengatasinya, Anda perlu mengetahui bagaimana cara untuk meningkatkan suasana hati Anda.

Rekomendasi