Mengenal Afasia dan Gejalanya, Gangguan Komunikasi Akibat Kerusakan Otak

Afasia adalah gangguan komunikasi akibat kerusakan otak pada satu atau lebih area otak yang mengontrol bahasa. Kondisi ini dapat mengganggu komunikasi verbal, komunikasi tertulis, atau juga bisa keduanya.

Andre Kurniawan Kristi
Oleh Andre Kurniawan Kristi - Reporter
Mengenal Afasia dan Gejalanya, Gangguan Komunikasi Akibat Kerusakan Otak
Ilustrasi berbicara pada diri sendiri. google

Afasia adalah gangguan komunikasi akibat kerusakan otak pada satu atau lebih area otak yang mengontrol bahasa. Kondisi ini dapat mengganggu komunikasi verbal, komunikasi tertulis, atau juga bisa keduanya.

Afasia dapat menyebabkan masalah dengan kemampuan Anda untuk membaca, menulis, berbicara, memahami ucapan, dan mendengarkan. Afasia juga ada beberapa jenis yang tergantung pada bagian otak mana yang mengalami kerusakan.

Afasia biasanya terjadi secara tiba-tiba setelah stroke atau cedera kepala. Tapi, gangguan ini juga bisa datang secara bertahap dari tumor otak yang tumbuh lambat atau penyakit yang menyebabkan kerusakan permanen dan progresif (degeneratif). Tingkat keparahan afasia tergantung pada beberapa hal, termasuk penyebab dan tingkat kerusakan otak.

Penanganan utama untuk afasia melibatkan perawatan kondisi yang menyebabkannya, serta terapi wicara dan bahasa. Orang dengan afasia akan belajar kembali dan mempraktikkan keterampilan bahasa dan belajar menggunakan cara lain untuk berkomunikasi.

Dan perlu diingat, bahwa hanya karena seseorang memiliki gangguan afasia, bukan berarti mereka memiliki gangguan mental atau kecerdasan yang rendah.

Gejala Afasia

Gejala afasia dapat bervariasi mulai dari yang ringan hingga berat. Mengutip dari Healthline, gejala afasia ini muncul bergantung pada di mana kerusakan terjadi dan tingkat keparahan kerusakan itu.

Banyak gejala dari berbagai jenis afasia dapat tumpang tindih, itulah mengapa penting untuk melakukan konsultasi dengan profesional medis jika Anda yakin Anda atau orang terdekat Anda hidup dengan afasia.

Afasia dapat memengaruhi:

  • cara berbicara
  • pemahaman
  • membaca
  • menulis
  • komunikasi ekspresif, yang melibatkan penggunaan kata-kata dan kalimat
  • komunikasi reseptif, yang melibatkan pemahaman kata-kata orang lain

Gejala yang mempengaruhi komunikasi ekspresif dapat meliputi:

  • berbicara dalam kalimat atau frasa yang pendek dan tidak lengkap
  • berbicara dalam kalimat yang orang lain tidak bisa mengerti
  • menggunakan kata-kata yang salah atau kata-kata yang tidak masuk akal
  • menggunakan kata-kata dalam urutan yang salah

Gejala yang mempengaruhi komunikasi reseptif dapat meliputi:

  • kesulitan memahami ucapan orang lain
  • kesulitan mengikuti cara bicara lawan yang cepat
  • kesalahpahaman terhadap kiasan

Penyebab Afasia

Afasia sering terjadi sebagai akibat dari kerusakan pada satu atau lebih area otak yang mengontrol bahasa. Penyebab afasia sendiri terjadi karena:

  • tumor otak
  • infeksi
  • demensia atau gangguan neurologis lainnya
  • penyakit degeneratif
  • cedera kepala
  • stroke

Stroke adalah penyebab paling umum dari afasia. Menurut Asosiasi Afasia Nasional, afasia terjadi pada 25 hingga 40 persen orang yang pernah mengalami stroke.

Penyebab afasia sementara

Kejang atau migrain dapat menyebabkan afasia sementara. Afasia sementara juga dapat terjadi karena serangan iskemik transien (TIA), yang untuk sementara mengganggu aliran darah ke otak Anda. Kondisi TIA ini terkadang juga disebut sebagai "ministroke."

Efek dari TIA meliputi:

  • kelemahan
  • mati rasa pada bagian tubuh tertentu
  • kesulitan berbicara
  • kesulitan memahami ucapan

TIA berbeda dari stroke karena efeknya bersifat sementara, tetapi juga dapat menjadi pendahulu dari stroke yang sebenarnya.

Cara Mengobati Afasia

Penanganan spesifik yang mungkin direkomendasikan dokter tergantung pada jenis, atau pola, afasia. Jenis afasia tertentu dapat membaik dengan terapi wicara-bahasa. Terapi ini biasanya berlangsung perlahan dan bertahap, dan harus dimulai sedini mungkin setelah mengalami cedera otak. Rencana perawatan khusus mungkin melibatkan:

  • melakukan latihan untuk meningkatkan keterampilan komunikasi
  • bekerja dalam kelompok untuk melatih keterampilan komunikasi
  • menguji keterampilan komunikasi dalam situasi kehidupan nyata
  • belajar menggunakan bentuk komunikasi lain, seperti gerak tubuh, gambar, dan komunikasi yang dimediasi computer
  • menggunakan komputer untuk mempelajari kembali bunyi kata dan kata kerja
  • mendorong keterlibatan keluarga untuk membantu komunikasi di rumah

Dukungan emosional dalam bentuk terapi bicara dan keterlibatan keluarga juga dapat direkomendasikan, terutama jika seseorang sedang berjuang dengan diagnosis dan gejalanya.

Stimulasi magnetik transkranial (TMS), yang merupakan bentuk stimulasi otak non-invasif, adalah salah satu metode baru yang juga menunjukkan peluang untuk memperbaiki gejala afasia tertentu. Namun, sebagian besar studi seputar metode ini saat ini hanya digunakan dalam setting penelitian.

Rekomendasi