Teteskan Air Mata, Ridwan Kamil Ceritakan Filosofi Mendalam Museum Tsunami Aceh

Menurut gubernur yang kerasan disapa Kang Emil itu, bangunan tersebut memiliki kesan yang mendalam. Terlebih saat melihat ruangan sumur doa, di mana banyak tertulis nama warga yang telah menjadi korban.

Nurul Diva Kautsar
Oleh Nurul Diva Kautsar - Reporter
Teteskan Air Mata, Ridwan Kamil Ceritakan Filosofi Mendalam Museum Tsunami Aceh
Ridwan Kamil di Aceh. ©2021 jabarprov.go.id/Merdeka.com

Gubernur Jawa Barat, Mochamad Ridwan Kamil menghadiri peringatan 17 Tahun Tsunami Aceh, di area parkir Pelabuhan Ulee Lheue, Minggu (26/12). Di sana Ia melakukan sejumlah kegiatan, salah satunya napak tilas di bangunan museum Tsunami yang dirancangnya.

Menurut gubernur yang kerasan disapa Kang Emil itu, bangunan tersebut memiliki kesan yang mendalam. Terlebih saat melihat ruangan sumur doa, di mana banyak tertulis nama warga yang telah menjadi korban.

"Dari semua bagian museum, ini adalah ruangan yang paling emosional buat saya," ungkap Kang Emil, sambil meneteskan air mata. Dikutip dari jabarprov.go.id

Terselip Doa dengan Penuh Kesabaran

Setelah belasan tahun berlalu, ia masih merasakan getaran kuat lewat memori kolektifnya sejak pertama kali mendesain konstruksi bangunan.

Menurutnya, di dalam ruangan terdapat pencahayaan yang temaram. Hal itu akan membuat siapapun yang masuk bisa merenungi dan mendoakan ratusan ribu warga Aceh yang meninggal dunia akibat gempa dan tsunami pada 2004 silam.

"Ini tempat kita berdoa untuk korban-korban tsunami dan di atas ada lafadz Allah, artinya apapun yang terjadi harus tawakal," imbuhnya.

Terbesit Memori Korban Tsunami

Sebagai seseorang yang mendesain Museum Tsunami, Emil mengaku rasa sedih sudah terbersit semenjak mendesain hingga mempresentasikan sayembara bangunan.

Ia memang dipercaya menjadi arsitek Museum Tsunami, usai memenangkan sayembara tingkat internasional yang diselenggarakan pada 2007.

"Saya banyak meneteskan air mata dalam proses sketsanya, termasuk dalam proses presentasinya pun saya terbata-bata karena ratusan ribu nyawa melayang akibat tsunami Aceh," ungkapnya.

Merepresentasikan Ketakutan, Kesedihan, dan Harapan

Didampingi Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Aceh Jamaluddin dan rombongan, Emil melanjutkan bahwa filosofi mendalam dari bangunan tersebut merupakan penggambaran merepresentasikan ketakutan, kesedihan, dan harapan.

Pada bagian atap bangunan, juga disebut Emil memiliki fungsi sebagai tempat evakuasi yang bisa menampung ribuan orang. Di sana diibaratkan sebagai dataran tinggi untuk tempat penyelamatan.

"Jadi setelah rasa takut yang ditandai lorong gelap dan gemiricik air di bagian pintu masuk, lalu kesedihan dengan adanya sumur doa, dan terakhir harapan dengan hadirnya lorong menuju atap bangunan," terangnya.

Jadi Simbol Kebangkitan Warga Aceh

Emil menambahkan, Museum Tsunami Aceh juga menjadi simbol kebangkitan warga Aceh sekaligus sebagai tempat untuk mengenang peristiwa menggemparkan tersebut. Dibangun pada 2008 dan diresmikan 2009 silam, museum ini mulai dibuka untuk umum pada 2011.

Dari sisi rancang bangunanya, Ridwan Kamil sukses memadukan rumah tradisional Aceh yang dibentuk seperti gelombang besar layaknya gelombang tsunami dalam tema besar bertajuk "Rumah Aceh as Escape Hill".

Kini, Museum Tsunami Aceh menjadi destinasi wisata favorit wisatawan yang berkunjung ke Aceh, selain Masjid Baiturrahman yang jaraknya berdekatan dengan museum.

 

Rekomendasi