Niat Mandi Haid dan Tata Caranya yang Perlu Diperhatikan, Jangan Sampai Salah

Mandi haid merupakan proses pembersihan fisik yang sifatnya wajib bagi seorang Muslim. Tujuannya untuk membersihkan tubuh dan mensucikan diri dari hadas besar. Tata cara mandi haid pun sudah ada kaidahnya sendiri, jadi harus dilakukan dengan benar sesuai dengan ajaran Islam.

Novi Fuji Astuti
Oleh Novi Fuji Astuti - Reporter
Niat Mandi Haid dan Tata Caranya yang Perlu Diperhatikan, Jangan Sampai Salah
ilustrasi mandi. ©www.huffingtonpost.com

Mandi haid merupakan proses pembersihan fisik yang sifatnya wajib bagi seorang Muslim. Tujuannya untuk membersihkan tubuh dan mensucikan diri dari hadas besar. Tata cara mandi haid pun sudah ada kaidahnya sendiri.

Oleh karena itu, harus dilakukan dengan benar sesuai ajaran Islam. Ketika hendak melaksanakan salat, Muslim harus berwudhu terlebih dahulu sebagai cara untuk menghilangkan hadas kecil.

Sementara ketika selesai haid mereka harus mandi haid sebelum melakukan ibadah. Melaksanakan mandi haid bukan sekedar mandi biasa, namun memiliki tata cara dan doa yang harus dilakukan.

Berikut niat mandi haid dan tata caranya yang telah dirangkum merdeka.com melalui liputan6.com pada Kamis, (29/07/2021).

Niat Mandi Haid dan Artinya

Mandi haid merupakan salah satu mandi wajib yang harus dilakukan seorang Muslim seusai haid. Berikut niat yang harus dibaca saat mandi haid:

Bismillahirahmandirahim nawaitul ghusla liraf'il hadatsil akbar minal janabati fardlon lillahita'ala

Artinya:"Dengan menyebut nama Allah aku niat mandi untuk menghilangkan hadas besar dari jinabah.

Tata Cara Mandi Haid yang Benar Menurut Ajaran Islam

Berikut tata cara mandi haid lengkap sesuai urutannya:

  1. Bacalah niat mandi haid terlebih dahulu. Membaca doa niat di awal-awal hukumnya wajib. Doa niat inilah yang membedakan mandi haid dan mandi biasa. Cara membaca doa niat mandi haid ini bisa dalam hati atau bersuara.
  2. Bersihkan telapak tangan sebanyak 3 kali, kemudian lanjutkan dengan membersihkan dubur dan alat kemaluan.
  3. Bersihkan kemaluan berikut kotoran yang menempel di sekitarnya dengan tangan kiri. Bagian tubuh yang biasanya kotor dan tersembunyi tersebut adalah bagian kemaluan, dubur, bawah ketiak, pusar dan lain–lain.
  4. Setelah membersihkan kemaluan, cuci tangan dengan menggosok-gosoknya dengan tanah atau sabun. Setelah membersihkan bagian tubuh yang kotor dan tersembunyi, tangan perlu dicuci ulang. Caranya mengusap-usapkan tangan ke tanah/tembok kemudian dibilas air langsung atau dicuci dengan sabun baru dibilas.
  5. Lakukan gerakan wudhu yang sempurna seperti ketika kita akan shalat, dimulai dari membasuh tangan sampai membasuh kaki.
  6. Masukkan tangan ke dalam air, kemudian sela pangkal rambut dengan jari-jari tangan sampai menyentuh kulit kepala. Jika sudah, guyur kepala dengan air sebanyak 3 kali. Pastikan pangkal rambut juga terkena air.
  7. Bilas seluruh tubuh dengan mengguyurkan air. Dimulai dari sisi yang kanan, lalu lanjutkan dengan sisi tubuh kiri.
  8. Saat menjalankan tata cara mandi haid, pastikan seluruh lipatan kulit dan bagian tersembunyi ikut dibersihkan.

Adab-Adab Wanita saat Haid

1. Tidak Boleh Menjalankan Salat
Dari Aisyah RA, “Bukankah bila si wanita haid ia tidak salat dan tidak pula puasa? Itulah kekurangan agama si wanita”. (Muttafaqun ‘alaih, HR. Bukhari dan Muslim).

Berdasarkan hadist tersebut, para ulama bersepakat bahwa wanita haid tidak boleh salat dan tidak boleh berpuasa. Hal ini sama seperti mengeluarkan najis secara terus menerus. Untuk itu tidak diperkenankan menunaikan ibadah shalat.

2. Tidak Boleh Membaca Al-Qur’an
Dari pendapat 4 ulama, mahdzab keempatnya sepakat bahwa wanita Muslim yang sedang dalam kondisi haid dilarang untuk menyentuh Al-Qur'an yang suci. Sebagaimana diambil dalam QS Al-Waqi’ah: 79 "Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan".

Namun masih diperbolehkan jika ingin tetap belajar Al-Qur'an, yakni menggunakan Al-Qur'an terjemahan atau juga Al-Qur'an dalam ponsel pintar.

3. Tidak Boleh Berpuasa
Larangan ini sesuai dengan Hadis riwayat Aisyah ra yang berbunyi: “Bahwa seorang wanita bertanya kepadanya: ‘Apakah salah seorang di antara kami harus mengganti salat pada masa haid?’ Aisyah berkata: ‘Apakah engkau termasuk golongan Haruriyyah (salah satu golongan Khawarij)?’ Dahulu, pada masa Rasulullah SAW di antara kami ada yang haid, tetapi tidak diperintahkan mengganti (salat).” (Shahih Muslim No.506).

4. Tidak Melakukan Hubungan Badan
Berdasarkan QS. Al Baqarah : 222, saat wanita Muslim mendapatkan haid, maka ia diharamkan oleh untuk melakukan hubungan suami istri atau berjimak dengan suaminya.

5. Dilarang Tawaf Saat Haji
Rasulullah menyampaikan kepada Aisyah, “Lakukanlah segala sesuatu yang dilakukan orang yang berhaji selain dari melakukan tawaf di Ka’bah hingga engkau suci.” (HR. Bukhari dan Muslim).

6. Tidak Masuk ke Masjid
Dari Aisyah RA berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ku halalkan masjid bagi orang yang junub dan haid.” Namun berdasar pada sebuah pendapat lain bahwa masuk ke masjid dalam keadaan haid boleh dilakukan asal darah haid atau darah kotor tidak mengotori masjid.

7. Memuji Asma Allah SWT dan Bersalawat
Meskipun haram hukumnya wanita haid menjalankan salat wajib maupun sunnah, namun wanita haid harus tetap menjalankan ibadah lain seperti bersalawat kepada Allah SWT. Memuji Asma Allah seperti menghafal asmaul husna, mengkaji, dan memahami terjemahan Al-Qur'an, atau dengan membaca dan menghafal kitab-kitab Hadis lainnya.

Rekomendasi