Mengenang Aksi Mahasiswa di Gejayan Yogyakarta 8 Mei 1998, Tewaskan Moses Gatutkaca

Demo yang berlangsung tanggal 8 Mei 1998 tersebut menewaskan Moses Gatutkaca seorang mahasiswa MIPA Universitas Sanata Dharma (USD). Untuk menghormati Moses, kini Jalan Kolombo yang berada tepat di sebelah kampus USD tersebut diubah namanya menjadi jalan Moses Gatutkaca sejak 20 Mei 1998.

Novi Fuji Astuti
Oleh Novi Fuji Astuti - Reporter
Mengenang Aksi Mahasiswa di Gejayan Yogyakarta 8 Mei 1998, Tewaskan Moses Gatutkaca
Ilustrasi Demo. ©2016 Merdeka.com

Indonesia pada tahun 1998 berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Krisis keadilan serta bencana alam yang sempat terjadi hampir bersamaan menyebabkan sebagian sektor perekonomian lumpuh. Hal itu juga membuat kondisi sosial masyarakat menjadi terganggu. Salah satu fenomena signifikan dan relevan untuk melihat krisis pada tahun tersebut adalah fenomena gerakan massa yang di dalamnya melibatkan mahasiswa.

Buntut dari perekonomian Indonesia yang semakin memburuk dan keadilan terhadap rakyat di bawah kepemimpinan Soeharto yang semakin tertindas adalah terjadinya demonstrasi sejumlah mahasiswa menuntut reformasi dan turunnya Presiden Soeharto. Salah satu demo menuntut reformasi dan turunnya Presiden Soeharto juga terjadi di Gejayan yang merupakan nama jalan di Yogyakarta.

Demo yang berlangsung tanggal 8 Mei 1998 tersebut menewaskan Moses Gatutkaca seorang mahasiswa MIPA Universitas Sanata Dharma (USD). Untuk menghormati Moses, kini Jalan Kolombo yang berada tepat di sebelah kampus USD tersebut diubah namanya menjadi jalan Moses Gatutkaca sejak 20 Mei 1998.

Berikut ini informasi lengkap mengenai aksi mahasiswa di Jalan Gejayan Yogyakarta 8 Mei 1998, tewaskan Moses Gatutkaca telah dirangkum dari eprints.uny.ac.id:

Mahasiwa Tuntut Reformasi dan Turunya Presiden Soeharto

Pada tanggal 8 Mei 1998, sejumlah mahasiswa menggelar aksi demonstrasi menuntut reformasi dan turunnya Presiden Soeharto. Pemicunya tak lain karena kondisi perekonomian Indonesia yang semakin buruk dan ketidakadilan terhadap rakyat di bawah kepemimpinan Soeharto yang semakin tertindas.

Aksi pada mulanya berlangsung damai namun berujung bentrokan dengan aparat. Ratusan aparat mencoba membubarkan secara paksa unjuk rasa dengan melakukan penyerbuan dengan panser penyemprot air dan tembakan gas air mata terhadap mahasiswa yang berada di depan Hotel Radison tepatnya terletak di pertigaan antara Jalan Gejayan dan Jalan Kolombo.

Menewaskan Moses Gatutkaca

Aparat memukul mundur pendemo di lokasi tersebut untuk mencegah mereka bergabung dengan mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM). Namun yang terjadi, tak hanya mahasiswa pendemo, aparat juga memukuli pedagang kaki lima dan warga di sekitaran lokasi.

Kemudian, mahasiswa dibantu masyarakat untuk melawan aparat dengan lemparan batu hingga molotov di sekitar Jalan Gejayan, yang membentang dari perempatan Jalan Padjajaran (Ring Road Utara) hingga perempatan Jalan Adi Sutjipto dan Jalan Urip Sumoharjo.

Akibat betrok tersebut, ratusan korban terluka yang umumnya didominasi dari mahasiswa dan satu orang mahasiswa bernama Moses Gatutkaca tewas.

Moses yang merupakan mahasiswa MIPA Universitas Sanata Dharma (USD) ditemukan sekitar Posko PMI Sanata Dharma sesaat setelah aparat melakukan pembersihan di daerah bentrokan sekitar Hotel Radison. Namun nyawanya tak tertolong saat dibawa menuju Rumah Sakit Panti Rapih. Dari hasil visum, Moses mengalami pendarahan di kepala sekitar telinga akibat hantaman benda tumpul.

Moses yang kelahiran Banjarmasin ini diketahui tinggal di Gang Brojolamatan No 9A Mrican Yogyakarta. Lokasi itu juga tak jauh dari kampus Sanata Dharma dan sama-sama berada di wilayah Jalan Gejayan Yogyakarta.

Pasca peristiwa tersebut tepatnya pada tanggal 20 Mei 1998, untuk menghormati Moses, Jalan Kolombo yang berada tepat di sebelah kampus Universitas Sanata Dharma Yogyakarta diubah namanya menjadi Jalan Moses Gatutkaca.

Rekomendasi