Seorang produsen jamu rumahan asal Kelurahan Pakojan, Kecamatan Pinang, Kota Tangerang bernama Nandaini tengah berinovasi dengan membuat beragam varian jamu berbentuk celup yang diminati oleh lapisan masyarakat.
Bahkan saat ini dirinya tengah sibuk melayani permintaan jamu bermerek I’Jaah Moe tersebut dari berbagai kota di Indonesia, hingga ke negara tetangga seperti Malaysia.
“Alhamdulillah, 40 kemasan produk jamu I’Jaah Moe sudah ekspor ke Malaysia. Semoga ke depannya terus berjalan orderannya. Kalau di dalam negeri, saya sudah rutin terima orderan dari Surabaya, Makassar, Padang dan kota-kota lainnya,” tutur Nandaini, Selasa (25/8/20) via www.tangerangkota.go.id.
Advertisement
Diketahui jika Nandaini sehari-harinya memproduksi berbagai jenis jamu berbentuk celup, dengan berbagai varian rempah seperti Ketumbar Celup, Rempah Celup, Jahe Merah Gula Semut dan Kunyit Gula Semut.
Selain membuat jenis celup layaknya teh, dirinya juga membuat produk jamu olahan dengan kemasan praktis seperti botol siap minum dan jamu serbuk yang bisa diseduh kapanpun.
Advertisement
Menariknya, hanya dengan bermodalkan olahan rempah yang menyehatkan tersebut dirinya bisa meraih untung hingga Rp 30 juta setiap bulannya. Melalui beberapa cara pemasaran baik via e-commerce dan Instagram @Ijaahmoe_official, maupun offline di beberapa apotek di kawasan Pinang.
“Tapi, di masa pandemi ini pendapatan terjun bebas, hanya di kisaran Rp10 juta hingga Rp15 juta setiap bulannya. Tapi ya, kita sebagai ibu rumah tangga, pedagang rumahan, modalnya semangat, yakin dan terus mencari jaringan. Semoga lancar terus dan bisa jadi inspirasi banyak orang,” harapnya.
Biasanya ia memproduksi jamunya sekitar dua minggu sekali, dengan dasar pengolahan sekitar 80 hingga 100 ton rempah-rempah di setiap produksinya.
Advertisement
Selain di negara tetangga Malaysia, saat ini Nandaini juga tengah menyiapkan pemesanan produk jamu miliknya dari negara Tiongkok sebanyak 15 ton setiap bulannya.
Namun ia mengakui jika saat ini masih terdapat beberapa kendala dari proses penjualan ke pasar Tiongkok, baik sistem kontraknya yang cukup sulit maupun kondisinya yang masih bersifat home industri.
“Tapi, untuk kerja sama dengan China ini, masih saya pelajari sistem kontraknya. Karena sedikit rumit, sedangkan jumlah permintaan mereka tidak sedikit. Saya pun masih home industry, jadi masih saya pelajari untuk tindak lanjut kerjasamanya,” katanya.