Penularan COVID-19 Dikabarkan Bisa Melalui Pakaian dan Sepatu, Begini Penjelasannya

Ketika Anda pergi keluar dalam kondisi wabah virus Corona yang sudah tidak terkontrol, pasti Anda akan mengkhawatirkan banyak hal. Selain kebersihan badan, terkadang masih ada perasaan khawatir dengan barang yang dibawa, termasuk pakaian yang dikenakan.

Andre Kurniawan Kristi
Oleh Andre Kurniawan Kristi - Reporter
Penularan COVID-19 Dikabarkan Bisa Melalui Pakaian dan Sepatu, Begini Penjelasannya
Ilustrasi Sepatu. ©mocah.org

Ketika Anda pergi keluar dalam kondisi wabah virus Corona yang sudah tidak terkontrol, pasti Anda akan mengkhawatirkan banyak hal. Meskipun Anda sudah menjaga jarak dengan orang lain, mencuci tangan, mengenakan masker, dan selalu membersihkan permukaan yang sering Anda sentuh, terkadang itu semua masih belum cukup.

Ada perasaan khawatir dengan barang yang dibawa, termasuk pakaian yang Anda kenakan. Apakah barang yang dibawa steril? Bagaimana dengan kantong plastiknya? Atau pakaian yang dipakai, apakah bersih dari virus?

Apakah benar pakaian dan sepatu yang dibawa keluar dapat menjadi sumber penularan virus bagi orang rumah? Dilansir dari healthline.com, berikut penjelasannya.

Kecil peluang penularan melalui pakaian

Dr. Vincent Hsu, MPH,seorang dokter penyakit dalam, penyakit menular, dan dokter obat pencegahan di AdventHealth, Orlando mengatakan bahwa pakaian dan sepatu bukanlah sumber penularan bagi virus seperti COVID-19.

"Ada banyak hal yang tidak kita ketahui tentang virus ini, dan kita masih perlu belajar lebih banyak tentang virus itu setiap hari. Tapi ini adalah pemahaman kami saat ini: Jika Anda keluar untuk berolahraga di lingkungan atau pergi ke toko membeli makanan, sangat tidak mungkin Anda akan membawa COVID-19 melalui pakaian atau sepatu. Kami tidak percaya sepatu atau pakaian adalah sumber penularan yang signifikan," ucap Hsu, dikutip dari healthline.com.

Menurut Hsu, belum ada kasus yang terdokumentasi mengenai penularan virus Corona jenis baru ini melalui pakaian dan sepatu pada saat ini. Batuk dan bersin oleh orang yang terinfeksi adalah cara yang paling mungkin dalam penularan langsung.

Tapi, kita juga tahu bahwa virus Corona mampu bertahan hidup pada permukaan yang tidak steril, sehingga dapat mengakibatkan penularan jika permukaan tersebut disentuh. Para ahli memperkirakan bahwa virus dapat bertahan hidup hanya beberapa jam hingga beberapa hari, tergantung pada jenis permukaan.

Logam dan plastik dapat menjadi tempat berdiam diri bagi virus dalam 2 hingga 3 hari. Sedangkan pakaian dianggap sebagai bahan yang tidak baik untuk kehidupan virus.

"Pakaian secara umum tidak dianggap sebagai inkubator virus yang baik," Dr. Kathleen Jordan, spesialis penyakit menular dan wakil presiden di CommonSpirit Health.

Penularan virus melalui pakaian sangat kecil peluangnya, tetapi para ahli juga sepakat untuk mencuci pakaian setelah dibawa keluar adalah ide yang baik.

Bagaimana penularan virus lewat sepatu?

Sepatu cenderung jauh lebih kotor daripada pakaian. Karena itu, sepatu dianggap lebih mungkin membawa bakteri dan kontaminasi lainnya ke rumah. Meskipun demikian, para ahli sepakat bahwa sepatu bukanlah sumber penularan virus Corona. Hal itu juga didukung dengan perilaku dan perawatan kita terhadap sepatu.

"Kita tidak menaruh sepatu di meja dapur. Kita juga tidak menaruh sepatu di mulut kita. Sepatu bukan benda yang sering kita sentuh. Jadi, pola harian kita sudah mencerminkan bagaimana kita memperlakukan sepatu sebagai benda yang kotor," kata Jordan.

Tetapi, Anda dapat mengambil langkah-langkah yang lebih aman sebagai tambahan untuk memastikan bahwa bakteri atau kontaminan yang dibawa sepatu tidak memasuki rumah Anda.

Caranya dengan membersihkan sepatu dan melepaskannya di depan pintu atau di rak sepatu yang jauh dari area berkumpulnya keluarga di rumah. Disarankan melepas sepatu dan membersihkannya sebelum Anda memasuki rumah (dan meninggalkannya di garasi atau teras).

Cara tersebut akan mencegah masuknya virus dan bakteri ke dalam rumah. "Pastikan Anda membersihkannya di luar rumah atau apartemen anda, dan biarkan mereka mengering secara alami," ucap Dr. Robert Glatter, seorang dokter darurat di Lenox Hill Hospital di New York City.

Rekomendasi