Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Pesan Kebaikan di Balik Menu Lalapan Khas Sunda, Jaga Ketahanan Pangan Lewat Alam

Pesan Kebaikan di Balik Menu Lalapan Khas Sunda, Jaga Ketahanan Pangan Lewat Alam lalapan. ©2020 Merdeka.com

Merdeka.com - Masyarakat Sunda memang terkenal dengan kegemarannya menyantap sayuran mentah maupun sayuran rebus sebagai pendamping makanan utama. Kudapan khas bernama lalapan ini ternyata sukses menjadi kawan bersantap andalan mayoritas masyarakat di Jawa Barat.

Namun, tahukah bagaimana lalapan bisa sangat identik dengan masyarakat Sunda tersebut? Usut punya usut, memakan lalapan sudah menjadi kebiasaan sejak seribu tahun lalu.

Sejarah Lalapan

prasasti taji

Prasasti Taji via metrum.co.id

©2020 Merdeka.com

Dilansir dari Dream.co.id, sejarah lalapan ternyata sudah tertuang dalam catatan historis "Prasasti Taji" yang menurut sejarawan Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran, Fadly rahman sudah ada sejak abad ke-10.

Menurut Fadli, pada saat itu masyarakat menganggap lalap tidak hanya berwujud daun-daunan seperti daun singkong, pepaya, atau selada, melainkan umbi-umbian, buah muda, bunga, hingga biji-bijian juga kerap disebut lalapan.

Selain itu, pada abad ke-15 terdapat sebuah naskah Sanghyang Siksa Kandang Karesian yang mengungkap tentang beragam rasa dari masakan di Sunda. Menurutnya masakan Sunda pada saat itu terdapat beragam rasa yang identik, yaitu lawana (asin), kaduka (pedas), tritka (pahit), amba (masam), kasaya (gurih), dan madura (manis).

Pembiasaan Orang Tua Agar Anak Bisa Makan Sayur

Dilansir dari Goodnewsfromindonesia.id, salah satu pesan kebaikan dari mengonsumsi lalapan adalah bentuk pembiasaan dari para orang tua. Di mana tujuannya agar anak mengonsumsi sayuran ketika melihat orang tuanya gemar memakan lalapan.

“Kalau aku sih diceritainnya biar kita suka makan sayur. Dan sayur kan ngenyangin, jadi alibi orang tua biar anaknya ga minta jajan lagi,” ujar Dini, masyarakat asli Jawa Barat yang menggemari lalapan.

Sinergisitas Dengan Alam

                                            baby buncis lembang  

topbusiness.id ©2020 Merdeka.com

Menurut Unus Suriawiria, selaku Pakar Mikrobiologi, Institut Teknologi Bandung, dalam karya tulisnya menyebutkan jika 60 dari 80% makanan masyarakat Sunda di Jawa Barat berasal dari tumbuh-tumbuhan serta umbi-umbian.

Dalam bukunya yang berjudul "Lalab dalam Budaya dan Kehidupan Masyarakat Sunda", Ia juga menuliskan jika lalapan merupakan bentuk ketahanan pangan bagi masyarakat Sunda di Jawa Barat dengan melimpahnya ketersediaan tumbuh-tumbuhan dan kacang-kacangan di provinsi yang mayoritas merupakan wilayah dataran tinggi tersebut.

Berangkat dari situ, masyarakat Sunda pun seakan terbiasa untuk membedakan jenis-jenis tumbuhan di alam, baik yang bisa dimakan maupun tidak melalui kebiasaan mengonsumsi lalapan.

Merupakan Bentuk Moral Antara Manusia dengan Ciptaan Tuhan

Senada dengan Unus, Samson cms yang merupakan seorang pengamat budaya serta dosen dari Universitas Padjajaran mengungkapkan bahwa dalam kultur Sunda, budaya tidak hanya terkait suku atau etnis semata. Melainkan terdapat unsur kebaikan dan keburukan yang salah satunya berasal dari kebiasaan menyantap lalapan.

Menurutnya, terdapat 6 aspek kemanusiaan yang terkandung dalam Sad Rasa Kemanusiaan. Lebih lanjut Samson menjelaskan jika aspek tersebut merupakan hakikat manusia yang wajib dijalankan ketika ia dilahirkan ke dunia.

Enam nilai aspek kemanusiaan tersebut yang pertama adalah moral manusia terhadap Tuhan. Dari sini bisa tercermin bahwa manusia harus menghormati setiap kehendak yang diberikan oleh Tuhan. Kedua adalah moral manusia terhadap pribadinya (pemenuhan hak yang dibutuhkan dalam hidup). Ketiga, moral manusia dengan manusia lain (nilai interaksi). Keempat, moral manusia terhadap waktu. Kelima, moral manusia terhadap alam dan terakhir moral manusia terhadap kesejahteraan lahir batin.

Keenam aspek tersebut merupakan nilai dari harmonisitas yang dibangun oleh masyarakat sunda lebih dari 900 tahun lalu melalui rasa saling memberi dan memanfaatkan alam sebagai sumber kehidupan (penyediaan makanan) dan merupakan bentuk rasa syukur terhadap sang pencipta.

Hidup Dalam Kesederhanaan

kangkung rebus

indonesiakaya.com ©2020 Merdeka.com

Selain itu, dalam lalapan juga mengandung nilai kesederhanaan yang membuat siapapun yang mengonsumsinya menjadi sehat. Masyarakat Sunda tidak perlu membuat makanan dengan berbagai bahan yang rumit.

Berbekal sayuran, beberapa jenis tumbuhan, serta umbi-umbian sudah bisa dijadikan makanan untuk bertahan hidup dan menjaga originalitas masyarakat Sunda yang memegang teguh unsur kebudayaannya. 

(mdk/nrd)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP