Penyebab Penyakit AIDS dan HIV yang Wajib Diketahui, Kenali Gejala yang Muncul
Merdeka.com - Membahas tentang penyakit AIDS, tentu tidak lepas dari HIV. AIDS merupakan penyakit yang berkembang pada seseorang yang menderita HIV. AIDS adalah tahap HIV yang paling lanjut. Tetapi perlu diingat bahwa hanya karena seseorang mengidap HIV, belum tentu dirinya juga mengidap AIDS.
HIV adalah virus yang merusak sistem kekebalan tubuh. HIV yang tidak diobati dapat memengaruhi dan membunuh sel CD4, yang merupakan jenis sel kekebalan yang disebut sel T. Seiring waktu, karena HIV membunuh banyak sel CD4, tubuh lebih rentan terkena berbagai jenis gangguan dan kanker.
Orang dewasa yang sehat umumnya memiliki jumlah sel CD4 antara 500 hingga 1.600 per milimeter kubik. Seseorang dengan HIV dengan jumlah CD4 di bawah 200 per milimeter kubik akan didiagnosis dengan AIDS.
Seseorang juga dapat didiagnosis dengan AIDS jika mereka mengidap HIV dan mengembangkan infeksi oportunistik atau kanker yang jarang terjadi pada orang yang tidak mengidap HIV. Infeksi oportunistik seperti jenis pneumonia Pneumocystis jiroveci adalah salah satu yang hanya terjadi pada orang dengan gangguan kekebalan yang parah, seperti seseorang dengan infeksi HIV lanjut (AIDS).
Jika tidak diobati, HIV dapat berkembang menjadi AIDS dalam kurun waktu satu dekade. Saat ini tidak ada obat untuk AIDS, dan tanpa pengobatan, harapan hidup setelah diagnosis adalah sekitar 3 tahun. Ini bisa menjadi lebih singkat jika orang tersebut juga mengidap penyakit oportunistik yang parah. Namun, pengobatan dengan obat antiretroviral dapat mencegah AIDS berkembang.
Jika seseorang mengembangkan AIDS, salah satu penyebab penyakit AIDS karena sistem kekebalan yang terganggu dan melemah sehingga tidak dapat merespons sebagian besar penyakit dan infeksi dengan baik.
Penjelasan lebih lanjut mengenai penyebab penyakit AIDS dan HIV tersebut telah kami rangkum dari Healthline berikut ini.
Hubungan HIV dan AIDS

©www.bet.com
Sebelum menjelaskan penyebab penyakit AIDS dan HIV, kita juga harus mengetahui apa hubungan dari AIDS dan HIV. Karena seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa AIDS dan HIV adalah dua kondisi yang berbeda.
Untuk mengembangkan AIDS, seseorang harus tertular HIV. Tetapi seseorang yang mengidap HIV belum tentu mengidap AIDS.
Kasus HIV berkembang melalui tiga tahap:
• tahap 1: tahap akut, terjadi beberapa minggu pertama setelah penularan• tahap 2: latensi klinis, atau tahap kronis• tahap 3: AIDS
Ketika HIV menurunkan jumlah CD4, sistem kekebalan akan melemah. Seberapa cepat kasus HIV dapat berkembang melalui tahap kronis bervariasi dari orang ke orang. Tanpa adanya pengobatan, penyakit ini dapat bertahan hingga satu dekade sebelum berkembang menjadi penyebab penyakit AIDS. Dengan pengobatan, penyakit ini bisa bertahan sampai kapan pun.
Saat ini tidak ada obat untuk HIV, meski penyakit ini masih dapat dikelola. Orang yang mengidap HIV juga banyak yang memiliki rentang usia yang hampir normal apabila diberikan pengobatan dini dengan terapi antiretroviral.
Sejalan dengan itu, secara teknis tidak ada obat untuk AIDS saat ini. Namun, dengan pengobatan dapat meningkatkan jumlah CD4 seseorang ke titik di mana mereka dianggap tidak lagi mengidap AIDS. Selain itu, pengobatan yang diberikan biasanya juga dapat membantu mengatasi infeksi oportunistik.
HIV dan AIDS memang saling berkaitan, tetapi keduanya bukanlah kondisi yang sama.
Penyebab Penyakit AIDS dan HIV

Shutterstock/Roobcio
Penyebab Penyakit HIV
HIV adalah salah satu jenis virus yang dapat ditularkan ke simpanse Afrika. Ilmuwan menduga virus imunodefisiensi simian (SIV) melompat dari simpanse ke manusia ketika seseorang mengonsumsi daging simpanse yang mengandung virus.
Begitu masuk ke dalam populasi manusia, virus bermutasi menjadi apa yang sekarang kita kenal sebagai HIV. Kemungkinan hal ini terjadi sejak tahun 1920-an.
HIV menyebar dari orang ke orang di seluruh Afrika selama beberapa dekade. Akhirnya, virus tersebut bermigrasi ke belahan dunia lain. Ilmuwan pertama kali menemukan HIV dalam sampel darah manusia pada tahun 1959.
©medimoon.com
Penyebab Penyakit AIDS
Penyebab penyakit AIDS adalah HIV. Seseorang tidak akan terkena AIDS jika tidak tertular HIV.
Orang sehat memiliki jumlah sel CD4 antara 500 hingga 1.500 per milimeter kubik. Tanpa pengobatan, HIV akan terus berkembang biak dan menghancurkan sel CD4. Jika jumlah CD4 seseorang turun hingga berada di bawah 200, seseorang akan dikatakan mengidap AIDS.
Selain itu, jika seseorang dengan HIV mengembangkan infeksi oportunistik yang terkait dengan HIV, mereka juga dapat didiagnosis dengan AIDS, meskipun jumlah CD4-nya di atas 200.
Gejala
Tahap 1: Infeksi HIV Akut
Melansir dari hiv.gov, dalam 2 hingga 4 minggu setelah terinfeksi HIV, sekitar dua per tiga orang akan mengalami penyakit mirip flu. Ini adalah respons alami tubuh terhadap infeksi HIV.
Gejala mirip flu ini bisa meliputi:
• Demam• Panas dingin• Ruam• Keringat malam• Nyeri otot• Sakit tenggorokan• Kelelahan• Kelenjar getah bening membengkak• Sariawan
Gejala ini bisa berlangsung dari beberapa hari hingga beberapa minggu. Tetapi ada juga beberapa orang yang tidak memiliki gejala sama sekali selama tahap awal HIV ini.Jangan berasumsi Anda mengidap HIV hanya karena Anda memiliki salah satu dari gejala ini, karena gejala tersebut bisa serupa dengan yang disebabkan oleh penyakit lain. Tetapi jika Anda curiga bahwa Anda mungkin telah terpapar HIV, coba lakukan tes HIV.
Tahap 2: Latensi Klinis
Pada tahap ini, virus masih berkembang biak, tetapi pada tingkat yang sangat rendah. Orang di tahap ini mungkin tidak akan merasa sakit atau memiliki gejala apa pun. Tahap ini disebut juga infeksi HIV kronis.
Tanpa pengobatan HIV, seseorang dapat bertahan dalam tahap ini selama 10 hingga 15 tahun, tetapi ada juga beberapa orang yang melewati tahap ini lebih cepat.
Jika Anda meminum obat HIV setiap hari, persis seperti yang ditentukan dan didapatkan, serta juga dapat mempertahankan viral load yang tidak terdeteksi, Anda dapat melindungi kesehatan Anda dan secara efektif tidak memiliki risiko penularan HIV ke pasangan seksual Anda.
Tetapi jika viral load dapat dideteksi, Anda dapat menularkan HIV dalam tahap ini, bahkan ketika Anda tidak memiliki gejala. Penting untuk menemui penyedia layanan kesehatan secara teratur untuk memeriksakan viral load Anda.
Tahap 3: AIDS

©2013 Merdeka.com/Shutterstock/Africa Studio
Jika Anda mengidap HIV dan tidak melakukan pengobatan yang tepat, virus tersebut akan melemahkan sistem kekebalan tubuh dan akan berkembang menjadi AIDS. Ini adalah tahap akhir dari infeksi HIV.
Gejala AIDS bisa meliputi:
• Penurunan berat badan yang cepat• Demam berulang atau keringat malam yang banyak• Kelelahan yang ekstrem dan tidak bisa dijelaskan• Pembengkakan yang berkepanjangan pada kelenjar getah bening di ketiak, selangkangan, atau leher• Diare yang berlangsung lebih dari seminggu• Luka pada mulut, anus, atau alat kelamin• Radang paru-paru• Bercak merah, coklat, merah muda, atau keunguan pada atau di bawah kulit atau di dalam mulut, hidung, atau kelopak mata• Kehilangan memori, depresi, dan gangguan neurologis lainnya
Masing-masing gejala ini juga bisa dikaitkan dengan penyakit lain. Satu-satunya cara untuk mengetahui dengan pasti apakah Anda mengidap HIV adalah dengan melakukan tes. Jika Anda positif HIV, penyedia layanan kesehatan akan mendiagnosis jika HIV Anda telah berkembang ke tahap 3 (AIDS) berdasarkan kriteria medis tertentu.
(mdk/ank)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya
