Menilik Arti Hompimpa Alaium Gambreng dalam Permainan Tradisional Sunda, Ajarkan Anak-anak Legawa
Ada makna mendalam di balik Hompimpa Alaium Gambreng.
Ada makna mendalam di balik Hompimpa Alaium Gambreng.
Menilik Arti Hompimpa Alaium Gambreng dalam Permainan Tradisional Sunda, Ajarkan Anak-anak Legawa
Hompimpa Alaium Gambreng selama ini dikenal sebagai pembuka setiap permainan tradisional.
Biasanya ini dilakukan oleh lebih dari dua orang anak, dengan cara saling mengibaskan tangan.
Hompimpa Alaium Gambreng jadi penentu siapa yang akan memulai permainan terlebih dahulu.
Tidak ada yang tahu persis asal dari permainan ini karena setiap daerah di nusantara memiliki tradisi Hompimpanya tersendiri berikut maknanya.
Di daerah Jawa Barat, tradisi Hompipa juga sudah dilakukan oleh anak-anak sejak zaman nenek moyang.
Menariknya, anak-anak akan diajarkan untuk menerima dengan legawa terkait hasil permainan. Yuk simak selengkapnya.
Berasal dari Bahasa Sansekerta
Dari hasil penelusuran sejarah, rupanya tradisi Hompipa Alaium Gambreng sudah ada sejak ratusan tahun silam.
Ini terlihat dari penggunaan kata Hompimpa Alaium Gambreng yang ternyata berasal dari bahasa Sansekerta.
Sudah sejak dulu tradisi ini selalu hadir di setiap permainan tradisional anak-anak, dan asyik dilakukan bersama-sama.
Punya Makna Dekat dengan Tuhan
Sampai saat ini masih sangat sulit mencari asal-usul Hompimpa Alaium Gambreng yang jadi pembuka permainan tradisional anak-anak.
Namun dari berbagai catatan arsip, Hompimpa Alaium Gambreng memiliki arti yang positif yakni "dari Tuhan kembali ke Tuhan, ayo bermain".
Kalimat tersebut merupakan terjemahan dari bahasa Sansekerta, yang artinya sudah ada sejak zaman Hindu-Buddha di awal abad ke-5.
Latih Kesabaran
Sementara itu, anak-anak dari wilayah Jawa Barat juga menggunakan kalimat tersebut sebelum memulai permainan tradisional.
Namun makna Hompimpa Alaium Gambreng sendiri sedikit berbeda karena dimaknai untuk melatih kesabaran dan keikhlasan saat bermain.
Ini terkait dengan adanya penambahan kalimat “Ulah Sisirikan” setelah kata Hompimpah Alaihum Gambreng yang artinya jangan syirik atau iri hati terhadap yang menang.
Ulah Sisirikan di sini juga diartikan sebagai anak-anak yang ingin bermain harus memiliki sikap mental yang kuat serta tidak mudah menyerah, namun tetap menerima apapun hasil kesepakatan permainan sebagai juara sejati.
Adapun hompimpa ini biasa digunakan untuk permainan boy-boyan, petak umpet, gobak sodor dan yang dilakukan secara kolektif lainnya.