Mengenang Wafatnya Tokoh Pers dan Budayawan Mochtar Lubis, 2 Juli 2004
Merdeka.com - Mochtar Lubis lahir di Padang pada 7 Maret 1922. Ia merupakan anak ke enam dari sepasang suami istri Mara Husein Lubis dan Siti Madinah Nasution. Ayah Mochtar adalah pegawai tinggi negeri dalam pemerintahan kolonial Belanda yang sekaligus juga seorang bangsawan suku Mandailing yang bergelar Raja Padapotan dan anggota majelis pengadilanatau Namora-Natoras (para bangsawan atau tetua), yang merupakan lembaga pemerintahan adat Mandailing yang di dalamnya paman dari pihak ayahnya adalah raja (Namora) yang berkuasa.
Saat selesai menempuh HIS (Holands Inlandse School atau sekolah Dasar di zaman Belanda) selama empat tahun, pria yang memiliki tinggi 182 sentimeter ini memasuki Sekolah Ekonomi INS di Kayutanam, Sumbar. Setelah bekerja di Bang Factory di Jakarta, dia mulai aktif di radio militer Jepang dan menjadi wartawan di zaman pendudukan "Saudara Tua".
Setelah Proklamasi Kemerdekaan, Mochtar langsung bergabung dengan Adam Malik menjadi wartawan di Kantor Berita Antara. Di mana ia ikut membidani kelahiran Harian Indonesia Raya pada 1949. Terkenal sebagai salah satu tokoh pers dan budayawan yang berani pada zamannya membuat Mochtar beberapa kali masuk penjara.
Laki-laki yang terkenal dengan karyanya novel Harimau melepaskan napas terakhir pada 2 Juli 2004 dalam usia 82 tahun.Lebih jauh berikut ini informasi lengkap mengenai mengenang wafatnya tokoh pers dan budayawan Mochtar Lubis, 2 Juli 2004 yang telah dirangkum dari Liputan6.com dan eprints.walisongo.ac.id:
Kiprah Mochtar Lubis
Selama kariernya sebagai jurnalis, Mochtar beberapa kali masuk penjara. Pria yang ketika kecil bercita-cita menjadi dokter ini pernah dikenai tahanan rumah pada 1957. Sembilan tahun kemudian, tokoh yang senang bercocok tanam ini dikenai tahanan penjara. Bahkan, penghargaan Ramon Magsaysay dari Filipina baru bisa diterima Lubis delapan tahun kemudian setelah bebas dari tahanan.
Dua kali Koran Indonesia Raya diberedel di zaman Presiden Soekarno karena keteguhan Lubis mengkritisi Demokrasi Terpimpin gaya Orde Lama. Mochtar dan Mohammad Roem pernah sama-sama merasakan penjara di Madiun, Jawa Timur. Di zaman Orde Baru pimpinan Soeharto, Indonesia Raya bersama koran lain diberangus karena peristiwa "Malari" 1974. Saat itu, Mochtar yang dijuluki wartawan jihad ini sempat ditahan selama dua bulan.
Sementara, sepak terjangnya di bidang sastra dimulai dengan buku pertamanya Si Djamal (1950). Karya sastra lainnya seperti Djalan Tak Ada Udjung (1952), Senja di Jakarta (1970), Cinta dan Maut, Catatan Subversif (1981), dan Kuli Kontrak (1982). Mochtar Lubis juga mendirikan Majalah Sastra Horison dan menjadi Direktur Yayasan Obor Indonesia yang berprestasi menerbitkan buku-buku bermutu, baik yang dari luar negeri maupun lokal.
Wafat Diusia 82 Tahun
Meskipun sering kali dibredel dan pada akhirnya koran Indonesia Raya tak lagi terbit, Mochtar Lubis masih terus berkarya di luar redaksi surat kabar. Ada beberap buku yang ia terbitkan seperti Cinta dan Maut, Catatan Subversif (1981), dan Kuli Kontrak (1982).
Mochtar Lubis tutup usia di Rumah Sakit Medistra, Jakarta Selatan pada hari Jumat, 2 Juli 2014 pukul 19.15 WIB dalam usia 82 tahun. Sebagai penghormatan terakhir terhadap sastrawan dan tokoh pers nasional, jenazah Mochtar Lubis disemayamkan di Gedung Galery Cipta III, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Sabtu 3 Juli 2004.
Di mana sejumlah tokoh yang hadir dalam prosesi ini, di antaranya Jacob Oetama, Muhammad Assegaf, Salim Said, dan Jimly Asshidiqie. Selain itu, calon wakil presiden Jusuf Kalla juga turut memberikan penghormatan terakhir pada almarhum. Mochtar Lubis dikebumikan di Taman Pemakaman Umum Jeruk Purut, Jaksel.
(mdk/nof)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya