Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Mengenal Tan Deseng, Pejuang Musik Sunda yang Berjuluk "Setan" Melodi dari Bandung

Mengenal Tan Deseng, Pejuang Musik Sunda yang Berjuluk Tan Deseng. ©2022 YouTube Dedi Mulyadi/Merdeka.com

Merdeka.com - Budaya Sunda mengakar kuat di tubuh Mohammad Deseng atau Tan Deseng. Pria kelahiran Kota Bandung, 22 Agustus 1942 ini mengabdikan hidupnya untuk terus mengangkat musik karawitan dan pelog agar tetap bertahan.

Mengutip buku Tokoh-tokoh Etnis Tionghoa di Indonesia keluaran Kepustakaan Populer Gramedia, Kamis (10/11), Tan Deseng banyak menghabiskan waktunya dengan menekuni musik tradisional Sunda juga mempelajari musik Tionghoa dan barat.

Sejak kecil, ia memang sudah aktif memainkan beberapa instrumen seperti suling, hingga kecapi berkat arahan dari sang ayah. Hingga akhir hayatnya, Tan Deseng masih terus mengangkat kesenian lokal Parahyangan, dengan menjadi bintang tamu di berbagai platform media sosial.

Berkenalan dengan Musik Sunda melalui Radio

tan deseng

©2022 Dokumentasi Jurnal Untirta/Merdeka.com

Tan Deseng pernah mengungkapkan bahwa dirinya memulai dengan musik Sunda saat merantau bersama sang ayah, di wilayah Sumatra Selatan. Bukan musik daerah setempat yang ia biasa dengarkan di Radio Republik Indonesia (RRI), namun lagu-lagu Sunda.

Kemudian, ia belajar, dengan bermain suling dan harmonika dari keluarganya hingga menekuninya. Di usia 16 tahun, ia memutuskan pulang kembali ke kampungnya di Bandung, agar bisa bersinggungan langsung dengan musik yang ia sukai.

Selain menjadi pedangan, ayah Tan Deseng juga merupakan ahli lukis, termasuk instrumentalis tradisional Tiongkok sehingga ia menyerap ilmu tersebut untuk dikembangkan. Dari delapan bersudara, hanya Tan Deseng dan kakaknya yang menuruni bakat seni dan musik, hingga fokus di bidang tersebut.

Perjuangan Tan Deseng di Musik Sunda

Tan Deseng banyak mengabdikan hidupnya di dunia musik tradisional Sunda, dengan seniman lokal lain seperti Titin Fatimah, Upit Sarimanah, dan Tati Saleh. Dahulu, ia kerap membuatkan berbagai ilustrasi instrumen untuk penampilan musik tradisional di khalayak umum maupun dunia film.

Bahkan di tahun 1990-an, dirinya pernah membawa musik karawitan Sunda untuk ditampilkan secara internasional dengan disaksikan audiens asal Jepang dan Tiongkok, hingga mendapatkan apresiasi. Kepiawaiannya terus berlanjut, dirinya juga sangat mahir memainkan kawih atau nyanyian Sunda, dan mengabadikannya dalam bentuk kaset. Di rumah, ia memiliki studio rekaman musik tradisional Sunda, yang merupakan warisan dari seniman Titin Fatimah.

“Alat-alat ini yang dibelikan oleh Titin Fatimah tidak boleh hilang, bukan nilai angka dari ini, tapi sejarahnya yang harus dijaga,” kata Tan Deseng tahun 2021 lalu, dikutip dari kanal Youtube Dedi Mulyadi.

Tan Deseng juga fasih mengalunkan kawih yaitu salah satu jenis nyanyian Sunda bahkan menciptakan banyak kawih yang banyak disimpannya dalam bentuk rekaman kaset.

Dapat Penghargaan dari Presiden

Sebagai pelaku kesenian Sunda, Tan Deseng juga pernah mendapat penghargaan dari Pemprov Jabar dan Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono. Di tahun 2004, Pemerintah Provinsi Jawa Barat memberikan apresiasi, karena ia terus melestarikan warisan Sunda, salah satunya melalui arsip berupa kaset yang terbilang jarang.

Di tahun  2008, ia sempat memperoleh penghargaan sebagai maestro musik Sunda, hingga dipanggil ke istana oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono karena menyimpan dokumentasi berbagai kesenian tradisional Sunda yang sudah sangat langka, seperti Angklung Buhun dari Tasikmalaya.

”Aya hiji catetan ti umur belasan taun dugi ka ayeuna di imah kuring tara tingaleun kacapi, goong,jeung kendang jeung suling (Ada satu catatan dari umur belasan tahun sampai sekarang di rumah selalu ada kecapi, gong dan suling)," katanya.

Punya Julukan "Setan" Melodi dari Bandung

Selain dekat dengan musik lokal, ternyata Tan Deseng juga rutin memainkan musik ala barat, dengan berbagai genre seperti Country, Blues, Jazz bahkan yang berat sekelas Rock and Roll.

Di kanal YouTube Dedi Mulyadi, dirinya menampilkan kepiawaian dalam memetik gitar dengan cepat. Bahkan dengan menguasai berbagai genre dan memainkannya dengan cepat, ia pernah mendapat julukan “Setan Melodi dari Bandung”.

“Tah iyeu kuring mainkeun Jazz, Country, Bee Gees, John Lennon (Rock and Roll) komo deui atuh (nih saya mainkan Jazz, Country, Rock and Roll apalagi),” katanya.

Saat muda, dirinya juga pernah tergabung di beberapa grup musik Kota Bandung, salah satunya Harmning Youth.

Bangga Jadi Orang Sunda hingga Akhir Hayatnya

Tan Deseng menyebut dirinya sangat bangga bisa dilahirkan dan dibesarkan di tanah Sunda, termasuk ikut serta mengangkat tradisi setempat.

“Jadi saya itu karena takdir Tuhan, dilahirkan di sebuah tanah bernama tatar Sunda, tepatnya Bandung, 78 tahun silam. Jadi sejak kecil saya merasa, tubuh say aitu Tionghoa, namun nasi yang ada di Sunda sudah menjadi daging saya dan air sudah menjadi darah saya,” katanya, mengutip YouTube Napak Jagat Pasundan.

Tan Deseng diketahui meninggal dunia di usianya yang ke-80 tahun pada Minggu (6/11) lalu. Sebelumnya, ia sempat menderita sejumlah penyakit seperti pernapasan, pencernaan hingga stroke ringan. Dirinya sempat menjalani sejumlah rumah sakit di wilayah Bandung, Jawa Barat. Kini beberapa anak dan cucunya masih tetap melanjutkan warisan seni Sunda agar terus bertahan.

 

(mdk/nrd)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP