Mencicipi Binte Biluhuta, Sup Jagung khas Gorontalo yang Jadi Simbol Pemersatu Bangsa
Merdeka.com - Binte Biluhuta menjadi salah satu kuliner khas Gorontalo yang cukup digemari. Cita rasanya yang gurih, pedas dan sedikit manis membuat kehadirannya selalu dinanti saat berkunjung ke wilayah di utara Pulau Sulawesi itu.
Berbahan dasar jagung manis, binte biluhuta seakan menegaskan sayur jagung bisa berpadu padan dengan isian seafood seperti udang maupun ikan cakalang. Hasilnya, sensasi sup nan segar sulit untuk dilupakan.
Ada cerita unik dari semangkuk sup jagung yang kini menjadi warisan budaya tak benda nasional sejak tahun 2016 lalu. Kelezatannya pernah diabadikan lewat lagu populer di dekade 1980-an.
Selain itu, di masa lampau, semangkuk binte biluhuta pernah dijadikan simbol persatuan dari dua kerajaan yang bertikai. Melansir laman indonesia.go.id Minggu (3/10), berikut informasi selengkapnya.
Mengajak Masyarakat untuk Mencicipi Kelezatannya Lewat Lagu

Mencicipi Binte Biluhuta, Sup Jagung khas Gorontalo yang Jadi Simbol Pemersatu Bangsa ©2021 Youtube Lingkar Temu Kabupaten Lestari/editorial Merdeka.com
Salah satu penyanyi era 1980-an, Charles Edison Silitonga pernah menyanyikan lagu dengan judul yang sama yakni 'Binde Biluhuta'.
Lagu ciptaan Rusdin Palada itu memiliki lirik yang menceritakan tentang rasa sup binte biluhuta yang otentik. "Binde Biluhuta, diyaluo tou weo, binde biluhuta, bome to hulondalo" (jagung yang dikuah, tidak ada di tempat lain, jagung yang dikuah, hanya ada di Gorontalo).
Bahkan di lagu tersebut penyanyi pop itu dua kali melantunkan kalimat 'timi idu bele dila tamotolawa' yang artinya ‘tidak ada yang mau ketinggalan’. Seakan ingin mengajak para pendengarnya untuk mencicipi kuliner khas kota berjuluk Serambi Madinah itu
Simbol Persatuan Dua Bangsa

Semangkuk sup Binte Biluhuta ©2021 Youtube Lingkar Temu Kabupaten Lestari/editorial Merdeka.com
Selain diabadikan ke dalam sebuah lagu, binte biluhuta juga disebut memiliki filosofi untuk mempersatukan dua bangsa.
Dalam buku Jejak Kuliner Indonesia yang terbit pada 2010, karya Mansoer Pateda, di sana tertulis jika bulir jagung yang tercerai berai dari bonggolnya bisa kembali dipersatukan di dalam semangkuk binte biluhuta.
Pernyataan ini mengacu pada keadaan di Sulawesi pada abad ke-15, di mana terdapat dua kerajaan yakni Kerajaan Gorontalo dengan Limboto sedang bertikai. Dan salah satu cara untuk mendamaikannya adalah melalui diplomasi kuliner sup jagung tersebut.
Cara Membuatnya
Di dalam semangkuk binte biluhuta disuguhkan beraneka rasa, ada pedas, asam, dan manis. Semua bersumber dari percampuran berbagai bumbu dalam proses pembuatan kuahnya.
Selain rempah seperti merica dan cabai untuk menciptakan rasa pedas, ada pula jeruk nipis yang menciptakan rasa asam di dalamnya.
Untuk membuat sup unik tersebut, beberapa bumbu perlu disiapkan seperti bawang merah, bawang putih, garam, kelapa parut, daun kemangi, tomat potong, dan bawang goreng. Kemudian ada juga bahan utama seperti jagung, ikan cakalang dan atau udang.
Untuk jagung, biasanya masyarakat setempat hanya memakai jagung khusus yang sudah direbus bernama jagung pulut, varietas asli Gorontalo yang memiliki tekstur lebih kenyal dan manis.
Mula-mula rebus air secukupnya dalam wadah hingga mendidih, kemudian masukkan irisan bawang merah, bawang putih, irisan cabai, dan garam.
Dilanjutkan memasukkan cakalang bersama udang disusul beberapa saat kemudian daun kemangi, tomat potong, perasan jeruk nipis, dan kelapa parut. Sensasi aroma harum langsung menyergap.
Terakhir, siapkan jagung rebus yang sudah dipritil di mangkuk untuk disiram kuah biluhuta. Jika sudah, taburkan bawang goreng ke dalam mangkuk binte biluhuta saat siap untuk disantap.
Kehadiran binte biluhuta bukan hanya menjadikan badan lebih sehat karena mengandung protein, serat, karbohidrat, mineral, vitamin B dan C, juga sebagai antioksidan.
(mdk/nrd)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya