Manfaatkan Tirai Sawit untuk Hidup, Warga Lebak Mampu Raup Rp6-8 Juta Per Bulan
Merdeka.com - Hadirnya pandemi Covid-19 di Indonesia membuat seluruh geliat perekonomian masyarakat terganggu hampir di seluruh wilayahnya. Di tengah keterpurukan tersebut ternyata ada sebagian warga yang mampu bertahan, hingga mengatasi dampak signifikan ekonomi.
Mereka adalah warga di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Banyak kalangan masyarakat di sana yang saat ini beralih ke industri rumahan untuk membuat krey atau tirai dari pohon sawit.
Bahkan berdasarkan pantauan merdeka.com pada Jumat, (26/2), dari kegiatan industri tersebut warga di sana mampu bertahan hidup, dan membuka lapangan pekerjaan baru yang cukup menjanjikan. Dalam sekali produksi mereka diketahui bisa mengantongi hingga jutaan rupiah.
Bagaimana kisah sejumlah masyarakat di Kabupaten Lebak yang mampu memperbaiki perekonomian mereka? Simak ulasannya berikut ini.
Permintaan Kian Meningkat

Ilustrasi Tirai Bambu
©2021 Pixabay/editorial Merdeka.com
Toto (55), selaku Ketua Paguyuban Perajin Krey Kabupaten Lebak mengungkapkan usaha pembuatan krey sawit tersebut telah dimulai sejak 10 tahun lalu.
Menurutnya semakin ke sini permintaannya kian meningkat, terutama saat memasuki musim penghujan untuk melindungi rumah dari terpaan cuaca.
"Kita merintis usaha kerajinan krey sawit itu sejak 10 tahun lalu dan kini berkembang sehubungan tingginya permintaan pasar," kata Ketua Paguyuban Perajin Krey Kabupaten Lebak Toto (55) di Lebak, seperti melansir dari ANTARA.
Permintaan Banyak dari DKI hingga Jawa Barat
Toto mengungkapkan, pangsa pasar yang tinggi dari produk krey atau tirai sawit tersebut biasanya berasal dari beberapa daerah seperti Provinsi Banten, DKI Jakarta hingga dari Jawa Barat.
Ia mengatakan, perajin krey sawit yang tergabung dalam paguyuban itu sekitar 290 perajin dan tersebar di Desa Rangkasbitung Timur dan Pasir Tanjung Kabupaten Lebak.
Berkembangnya perajin krey sawit membuat pendapatan ekonomi dari masyarakat di sana meningkat. Sehingga kehidupan di masa pandemi Covid-19 seperti sekarang pun diklaim tetap sejahtera.
Menekan Angka Kemiskinan
Menurut Toto, dari hasil usaha krey dilakukan bisa memakmurkan para warga yang sebagian besar merupakan buruh sawit PTPN VIII Cisalak di Kampung Cihiyang, Catihan, Cipancur dan sebagian Kecamatan Rangkasbitung yang sebelumnya memiliki angka kemiskinan dan pengangguran yang tinggi.
Saat ini, kata dia, kondisi bangunan rumah mereka kebanyakan semi permanen. Bahkan para anak-anaknya juga bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Mampu Meraup Hingga Rp6-8 Juta Per Bulan
Toto melanjutkan, banyak para penampung dan pembuat krey membuat gulir keuangan di wilayah tersebut hingga mencapai ratusan juta rupiah per pekan. Jika diangka kan per bulan mereka bisa memproduksi rata-rata 10 lembar per anggota.
"Kami sendiri memasok krey sawit sebanyak 10.000 lembar dan dijual ke agen Rp25.000/lembar, sehingga pendapatan mencapai Rp250 juta per pekan," katanya menjelaskan.
Untuk para perajinnya sendiri jika mampu menghasilkan 300 lembar dengan harga Rp20 ribu/lembar maka diakumulasikan pendapatan total Rp6 juta/anggota. "Saya kira pendapatan sebesar itu tentu cukup sejahtera dibandingkan menjadi buruh tani," katanya menjelaskan.
Kewalahan Memenuhi Permintaan Pasar
Salah seorang perajin krey asal Cihiyang, Lebak, Anda (50) mengatakan saat ini tingkat ekonomi keluarganya cenderung membaik dibanding ketika ia menjadi pengemudi ojek motor. Saat ini, para perajin di wilayanya merasa kewalahan untuk melayani permintaan pasar, terlebih curah hujan masih meningkat di banyak daerah. "Kami sangat dengan memproduksi kerajinan krey sawit, sehingga menyumbangkan perekonomian keluarga sekitar Rp6-8 juta/bulan," katanya menjelaskan.
Produksi krey sawit kerap memanfaatkan limbah pelepah kelapa sawit yang dibuang pihak perkebunan dan dijual ke penampung.
Pembinaan Ekonomi Lokal
Sementara itu Kepala Seksi Aneka Industri Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Lebak Sutisna menyebut bahwa berkembangnya usaha krey sawit di Kabupaten Lebak merupakan bagian rintisan pengembangan ekonomi lokal dengan melakukan pembinaan dan pelatihan ketrampilan.
Dasar pembinaan itu berangkat dari melimpahnya ketersediaan bahan dari aktivitas perkebunan PTPN VIII di Kecamatan Rangkasbitung, Cimarga, Kalanganyar, Leuwidamar dan Cileles.
"Kami berharap para perajin dapat meningkatkan mutu dan kualitas sehingga bisa diekspor ke luar negeri," katanya.
(mdk/nrd)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya