Mengurangi sampah plastik saat Iduladha jadi fokus warga Talun Kidul. Uniknya wadah tahu bernama bongsang digunakan untuk mengganti plastik. Terlihat ibu-ibu memasukkan daging ke dalam bongsang. Setelahnya daging langsung dibagikan ke penerima yang berhak.
Advertisement
Dikonfirmasi Ketua DKM Masjid Al Barokah, Talun Kidul, Hendra Purnama, menggunakan bongsang tahu sebagai wadah daging saat pembagian dilakukan untuk mengurangi penggunaan kantong plastik. Penggunaan bongsang dianggap lebih ramah lingkungan karena terbuat dari anyaman bambu yang mudah diurai. "Salah satu upaya menjaga lingkungan dari sampah plastik, jadi kami gunakan bongsang tahu untuk wadah daging kurban, yang nantinya dibagikan ke masyarakat sekitar," katanya, Kamis (29/6) mengutip laman Pemkab Sumedang.
Advertisement
Menurut Hendra, alasan lain menggunakan bongsang adalah untuk membangkitkan geliat UMKM perajin wadah makanan khas tahu Sumedang itu. Seperti diketahui selama ini, bongsang jadi wadah khas saat konsumen membeli tahu Sumedang di outlet-outlet. Ini juga sebagai upaya membangkitkan tradisi buhun (nenek moyang) yang kerap menggunakan bongsang sebagai wadah makanan. "Kami juga ingin menjaga tradisi buhun. Karena scara tradisi sejak dulu leluhur untuk ciri khas makanan Sumedang itu menggunakan bongsang yang terbuat dari bambu, seperti tahu Sumedang dan ubi Cilembu," beber Hendra.
Advertisement
Dikutip dari kanal YouTube Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir, bongsang merupakan wadah makanan berbentuk keranjang. Bongsang dibuat dari potongan bambu yang dianyam, dengan rongga-rongga besar. Biasanya bongsang digunakan pada penjual tahu Sumedang untuk membungkus tahu yang dibeli pelanggan. Wadah ini cukup kokoh untuk membungkus berbagai makanan, termasuk daging. Bongsang juga mudah dibawa ke mana-mana karena bisa dijinjing, dan bisa ditutup dengan cara diikat pada bagian atasnya. Bongsang merupakan kearifan lokal masyarakat di Kabupaten Sumedang.
Advertisement
Bongsang jadi wadah berbentuk anyaman bambu yang biasa digunakan warga Sumedang untuk bungkus tahu.
Advertisement
Selain Sumedang, warga di Kampung Rawageni, Kelurahan Ratujaya, Kecamatan Cipayung juga berupaya menerapkan budaya ramah lingkungan dengan mengganti plastik sebagai pembungkus daging kurban. Warga yang tinggal di RW 07 itu menggunakan wadah besek yang juga terbuat dari anyaman bambu. Informasi ini disampaikan oleh Ketua RW 07 Kampung Rawageni, Sanusi. "Panitia sudah sepakat untuk tidak menggunakan kantong plastik. Jadi, sebagai gantinya, kami menggunakan besek bambu dan daun jati. Kegiatan ini sudah berjalan selama empat tahun," katanya, mengutip laman Pemkot Depok.
Advertisement
Selain besek, panitia juga menyiapkan wadah lain berupa daun jati untuk membungkus daging. "Jumlah warga di wilayah kami dari RT 01 hingga RT 06 terdapat 895 KK. Seluruh warga akan kami distribusikan daging kurban," terang Sanusi. Langkah ini turut diapresiasi Camat Cipayung, karena warga serius mengurangi penggunaan kresek sekali pakai. "Mudah-mudahan ke depan, bukan hanya digunakan saat Iduladha (kurban) tapi juga dalam setiap kesempatan,” kata Camat Cipayung, Hasan Nurdin.
Advertisement
Warga di RW 07, Kampung Rawageni, Kelurahan Ratujaya, Kecamatan Cipayung menerapkan budaya ramah lingkungan di hari raya Iduladha. Mereka mengganti kantong plastik sekali pakai dengan besek bambu.
Advertisement
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta, Asep Kuswanto mengatakan jika menggunakan wadah alternatif yang mudah terurai bisa mencegah pencemaran lingkungan di hari raya Iduladha. Menurutnya, kantong plastik memerlukan waktu bertahun tahun untuk bisa terurai di tanah. Selain itu, plastik berwarna hitam merupakan hasil daur ulang plastik-plastik sebelumnya dan berbahaya bagi kesehatan. “Dalam pembuatannya juga ditambahkan berbagai kimia yang berdampak ke kesehatan, dan kita juga tidak bisa mengetahui penggunaan plastik hitam itu sebelum didaur ulang, ” terangnya mengutip ANTARA.
Advertisement
Menurut dia, selain bongsang dan besek bambu, terdapat bahan lainnya yang bisa digunakan sebagai alternatif penggunaan plasti dalam pendistribusian daging kurban seperti daun-daun lebar. Beberapa yang layak digunakan di antaranya daun pisang, daun talas, daun jati, daun kelapa dan daun pandan. “Banyak alternatif pengganti plastik atau kresek sekali pakai,” katanya.