Cara Singapura Melacak Virus Corona, Hingga Tidak Ada Korban Jiwa

Sabtu, 21 Maret 2020 11:30 Reporter : Denny Marhendri
Cara Singapura Melacak Virus Corona, Hingga Tidak Ada Korban Jiwa diy13/shutterstock

Merdeka.com - Singapura adalah salah satu negara dengan populasi penduduk yang tidak begitu banyak. Saat pandemi virus corona merebak, Singapura pun dapat menjalankan sistemnya dengan baik. Sehingga tidak ada korban jiwa akibat dari terjangkitnya virus corona ini.

Pertama kali dimulai pada Januari lalu, ada 20 orang dari Guangxi, China yang melakukan kunjungan wisata. Mereka berkunjung ke Singapura dalam rangka untuk merayakan Hari Raya Imlek. Mereka juga berkunjung ke lokasi-lokasi yang terbilang mewah di Singapura.

Seperti informasi yang dilansir dari BBC, di dalam jadwal kunjungan mereka, ada kunjungan untuk pergi ke salah satu obat tradisional China di Singapura. Toko obat tersebut menjual berbagai obat herbal hingga minyak-minyak hewani. Toko ini memang menjadi salah satu tempat yang pasti dikunjungi oleh wisatawan China jika mereka pergi ke Singapura.

1 dari 3 halaman

Toko Obat Herbal

Ketika mereka berkunjung ke toko obat herbal tersebut, mereka dilayani dengan baik oleh pelayan toko tersebut. Mencoba berbagai produk herbal hingga mencoba produk minyak-minyak yang dijual di sana. Pelayan toko yang ramah mencoba mengoles dan memijat minyak tersebut kepada pelanggan toko yang berasal dari China tersebut.

Pada tanggal 4 Februari, Pemerintah Singapura melaporkan bahwa ada 18 kasus virus corona yang ditemukan pada orang-orang yang datang dari China. Kemudian virus corona tersebut telah menyebar ke komunitas lokal di obat-obatan China.

Toko obat China Yong Thai Hanf menjadi yang pertama terlacak dan ada penjaga toko yang jatuh sakit serta ada pemandu wisata. Dengan sistem pelacakan yang luas dan terstruktur, Singapura dapat mengikuti rantai virus tersebut.

Hal tesebut dilakukan dengan melacak siapa saja yang melakukan kontak terhadap pasien positif corona sebelum mereka memungkinkan untuk menyebarkan virus tersebut lebih lanjut. Melakukan identifikasi dan mengisolasi mereka.

Jika tidak dilakukan dengan terstruktur, pihak Singapura juga mengakui jika wabah corona di Singapura bisa terjadi seperti di Wuhan.

"Kita bisa saja berakhir seperti Wuhan," jelas Leong Hoe Nam, seorang dokter spesialis penyakit menular di rumah sakit Mount Elizabeth Novena dan penasihat pemerintah Singapura.

2 dari 3 halaman

Menggunakan Detektif

singapura corona

Reuters

Sistem tersebut diterapkan oleh Singapore General Hospital, dengan menggunakan tiga pelacak untuk melacak kontak. Salah satunya adalah, Conceicao Edwin Philip adalah pelacak kontak. Dia dan dua orang lagi adalah tim pertama yang melakukan investigasi terhadap pasien ketika mereka datang ke rumah sakit.

"Setelah kami mendapatkan hasil dari laboratorium (jika ada kasus positif) kami harus meninggalkan semua pekerjaan dan bekerja sepanjang malam sampai sekitar jam 3 pagi. Keesokan harinya, kami mulai bekerja lagi," jelasConceicao Edwin Philip.

Tim pelacak mencari tahu dengan siapa mereka telah melakukan kontak dan mencari tahu tentang keberadaannya. Setelah ditemukan tim pelacak menyerahkan data-data tersebut kepada Departemen Kesehatan yang kemudian dilanjutkan prosesnya.

Setelah mendapatkan data-data, tim selanjutnya bekerja dengan melibatkan unit investigasi kriminal dalam kasus ini. Pelacakan tersebut sangat memungkinkan untuk dilakukan karena tingkat kejahatan di Singapura memang rendah. Hal tersebut akhirnya menjadi prioritas kepolisian Singapura.

Salah satu contoh kasusnya adalah ada pasien positif yang kemudian dilacak dengan prosedur yang ada. Pasien tersebut pun diwawancarai hampir 3 jam oleh petugas.

Setelah mengetahui siapa saja yang melakukan kontak dengan pasien tersebut. Pihak Kementerian kesehatan kemudian melakukan karantina kepada orang-orang yang melakukan kontak terhadap pasien tersebut.

3 dari 3 halaman

WHO Beri Apresiasi Singapura

Sistem terstruktur sebenarnya sudah dilakukan oleh Singapura sejak lama. WHO pun memberikan apresiasi kepada Singapura.

Apresiasi diberikan karena Singapura dapat menjalankan sistem struktur di saat situasi kritis seperti ini. Para ahli epidemiologidari Harvard juga memuji hal tersebut dan berpendapat bahwa sistem tersebut "Standar Emas yang mendekati sempurna".

Kendati demikan, sistem yang dilakukan oleh Singapura sulit untuk dilakukan di negara-negara besar. Tidak banyak negara yang memiliki tingkat pengawasan seperti yang dimiliki oleh Singapura. Faktor patuhnya warga juga menjadi penentu untuk menjalankan sistem tersebut.

Hal tersebut karena ada juga peraturan-peraturan untuk mendukung sistem pelacakan . Menurut Undang-Undang yang berlaku di Singapura, jika menolak bekerja sama dengan pihak berwenang dalam hal ini polisi untuk mengumpulkan informasi akan dikenai denda. Hukumannya adalah denda sebesar 10.000 dollar Singapura atau sebesar Rp 110.3 Juta.

[dem]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini