Saat Sukabumi masih bernama Jampang paruh abad ke-19, kondisinya belum semodern sekarang. Masih banyak wilayah tersebut yang merupakan hutan, serta kebun milik warga dengan pepohonan yang rindang.
Akses juga dekat dengan lereng gunung, yang merupakan habitat hewan liar salah satunya harimau. Di masa itu tak sedikit konflik antara warga dengan kucing besar tersebut, bahkan hingga menimbulkan korban jiwa.
Pemerintah Belanda belum memiliki kebijakan khusus, atau aturan terkait konservasi hewan liar jenis harimau karena populasinya dianggap belum kritis. Belum lagi, hewan tersebut kerap terbunuh setelah menyerang manusia sehingga mengancam keberadaannya.
Kasus penyerangan harimau terhadap manusia sendiri kala itu sampai mendapat sorotan koran asing milik Belanda, karena seringkali brutal dan korbannya sulit tertolong.
Berikut kilas baliknya.
Gambar: Youtube Nusa History
Advertisement
Advertisement
Sejumlah surat kabar Belanda banyak memuat keganasan harimau yang menyerang warga secara brutal.
Gambar: Ig Sejarah Jampang.
Hewan besar itu langsung menerkam, mencabik dan mengigit seseorang yang kebetulan bersinggungan.
Dalam Instagram @sejarahjampang, wilayah yang kala itu merupakan Das Sungai Cimandiri tersebut dilaporkan berkali-kali terjadi serangan harimau Jawa. Datangnya secara tiba-tiba, dari kawasan hutan lereng gunung sekitar.
Dalam pemberitaan surat kabar De Staandard edisi 13 Februari 1883, diberitakan tentang seorang warga yang diterkam harimau dan jasadnya ditemukan di hutan.
Advertisement
Wartawan koran Standaard melaporkan bahwa mulanya kejadian tersebut berlangsung pada malam hari. Jam sudah menunjukkan sekitar tengah malam, dan seorang warga yang tengah terlelap kemudian mendengar suara hewan ternaknya secara tak wajar.
Kemudian, sang pemilik bergegas mengecek kondisi kandangannya dan mendapati hewan ternaknya sudah tak bisa diselamatkan.
Tak berselang lama, pria malang itu tiba-tiba disergap oleh hewan buas tersebut dan diseret ke dalam hutan. Tubuhnya terkoyak, hingga pagi hari jasadnya ditemukan dalam kondisi sudah menjadi tulang belulang.
Advertisement
Lain lagi dalam pemberitaan Surat Kabar Spion dan Pemandangan yang terbit di Jampang, Sukabumi.
Dua koran itu juga memberitakan harimau yang masih menyerang warga sampai sekitar tahun 1930-an.
Dilaporkan sebuah kejadian mengerikan dirasakan oleh seorang warga Tionghoa saat hendak menuju Jalan Doea Ambtenaar (Doa Ambtenar – ejaan lama), Desa Ujunggenteng, Kecamatan Ciracap.
Ia yang menaikki taksi pada malam hari, dikejutkan dengan serangan harimau yang datang tiba-tiba dari arah hutan.
Harimau bergerak begitu cepat, dan menabrak kendaraan taksi tersebut hingga bergoyang. Baik penumpang yakni warga Tionghoa, dan sang sopir bernama Ma’roef langsung terkejut dan mengendalikan laju kendaraan.
Beruntung mobil bisa kembali stabil, dan raja hutan itu langsung berlari ke arah hutan seberang dengan berlari cepat. Walau demikian, Ma’roef dan sang penumpang sempat syok karena hampir masuk ke dalam jurang.
Advertisement
Advertisement
Harian Spion dan Pemandangan sempat mewawancarai warga setempat. Ketika itu banyak yang percaya bahwa harimau tersebut tinggal di sebuah gua yang gelap dan besar.
Harimau biasanya akan keluar untuk mencari makan di malam hari, seperti kejadian yang dialami sopir taksi Ma’roef dan seorang penumpang Tionghoa tersebut.
Gerakannya cepat, lincah dan mengejutkan sehingga calon mangsa kebanyakan tak menyadari serangan tersebut.
Sampai pertengahan abad ke-20, harimau dan hewan buas lainnya kerap jadi musuh warga dan seringkali dibunuh saat dijumpai masuk ke permukiman masyarakat.
Advertisement
Di masa itu harimau menjadi ancaman yang serius bagi para pejalan kaki. Dalam laporan koran Belanda saja banyak diberitakan tentang pejalan kaki yang tiba-tiba diterkam, tanpa diketahui posisi harimau sebelumnya.
Ketika pejalan kaki tidak membawa senjata, dapat dipastikan kondisinya tidak terselamatkan. Bisa saja, jasadnya diseret ke hutan lalu menjadi santapan koloninya. Keesokan hari, yang ditemukan hanya tulang belulang.
Kondisi ini lah yang menggambarkan kecemasan warga Jampang alias Sukabumi di zaman Hindia Belanda, ketika hewan liar dan buas masih sangat banyak dan kerap bersinggungan dengan masyarakat.
Ini kemudian memunculkan pertanyaan peranan pemerintah kolonial tentang jaminan keamanan warga yang rentan diserang, terutama yang bertempat tinggal di wilayah pedesaan atau kampung pelosok.
Advertisement