Sosok Soegondo Djojopoespito Ketua Kongres Pemuda II dan Pidatonya Tentang Persatuan

Jumat, 28 Oktober 2022 09:52 Reporter : Merdeka
Sosok Soegondo Djojopoespito Ketua Kongres Pemuda II dan Pidatonya Tentang Persatuan Kongres Pemuda 1928. ©2016 Merdeka.com

Merdeka.com - Sumpah Pemuda merupakan hasil Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928. Kongres yang diketuai Soegondo Djojopoespito itu berjalan baik dan menghasilkan beberapa keputusan penting.

Beberapa diantaranya 3 butir sumpah pemuda, dasar-dasar persatuan nasional, bendera, lagu kebangsaan, dan lambang negara Indonesia.

Kesuksesan berjalannya Kongres Pemuda II tidak terlepas dari peran para pemuda yang ikut andil di dalamnya. Soegondo Djojopoespito adalah pemuda kelahiran Tuban, Jawa Timur 22 Februari 1905. Dia bersekolah di HIS Tuban dilanjutkan ke MULO di Surabaya dan diakhiri di AMS Yogyakarta.

Selama di Yogyakarta, Soegondo tinggal di indekos yang berada di kediaman Ki Hadjar Dewantara. Jiwanya yang masih muda seperti menemukan tempat untuk berkembang. Melalui pengajaran Ki Hadjar, Soegondo mampu menemukan dasar kebangsaan yang kuat.

soegondo djojopoespito ketua kongres pemuda ii

2 dari 3 halaman

Majalah Dilarang

Pemikirannya semakin berkembang ketika Soegondo melanjutkan pendidikan ke Sekolah Hakim Tinggi (Rechte Hoge School) di Jakarta pada tahun 1925. Ketika itu, dia menumpang tinggal di rumah seorang pegawai pos di Gang Rijksman (sebuah kampung di sebelah Utara Rijswik) Jalan Segara. Di lingkungan tersebut, Soegondo tinggal bersama para klerk pos. Dari seorang klerk yang bertugas menyortir surat, Soegondo mendapat majalah 'Indonesia Merdeka' yang diterbitkan oleh Perhimpunan Indonesia di Belanda.

Majalah tersebut seharusnya dibakar karena peredarannya dilarang, tetapi klerk pos itu merasa perlu memberikan itu kepada Soegondo. Dengan membaca majalah tersebut, semangat Soegondo semakin membara. Dia semakin meresapi pentingnya persatuan. Dari 'Indonesia Merdeka', dia tersadarkan. Bahwa pergerakan Kemerdekaan yang terpisah-pisah mudah ditindas oleh penjajah.

Tulisan itu telah membuat Soegondo mulai memikirkan pergerakan bangsanya. Dia ingin berbuat sesuatu. Maka dari itu, dia sering berkunjung ke rumah Haji Agus Salim untuk berdiskusi dan belajar politik. Soegondo pun meneruskan majalah 'Indonesia Merdeka' kepada teman-temannya agar bisa diajak diskusi, beberapa diantaranya seperti Soewiryo, Usman Sostroamidjojo, dan Muksinun.

Dalam buku Soegondo Djojopoespito: Hasil Karya dan Pengabdiannya, keempat orang yang telah membaca majalah 'Indonesia Merdeka' itu semakin sering mengadakan pertemuan. Mereka bertemu di tempat Soegondo seminggu sekali untuk membicarakan soal politik. Namun, pada tahun 1926 Usman yang telah lulus dari RHS sibuk menjadi guru di Taman Siswa. Sementara Muksinun sibuk dengan ujian. Maka, tersisa Soegondo dan Soewiryo.

Kendati demikian, mereka berhasil mendapat tiga kawan baru yakni Sigit (mahasiswa RHS), Gularso dan Darwis (mahasiswa STOVIA). Mereka bertemu di kediaman Soegondo seminggu sekali untuk membicarakan soal politik.

Pada tahun 1926, kelima orang yang terdiri atas Soegondo, Soewirjo, Sigit, Gularso dan Darwis berkomitmen untuk membuat sebuah perhimpunan yang terinspirasi dari Perhimpunan Indonesia di Belanda. Perhimpunan itu mereka namakan Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI). Tujuannya menggalang persatuan Indonesia.

Lima orang anggota inti tersebut memiliki tugas khusus. Yakni menghubungi mahasiswa baru dan pemimpin perkumpulan pemuda untuk mengajak bersatu. Mereka bahkan pernah membuat pamflet rahasia, yang isinya mengajak para pemimpin untuk menggulingkan pemerintah jajahan. Pamflet tersebut mereka kirimkan kepada pengurus parpol, ormas, dan perkumpulan pemuda. Pada tahun 1927 Sigit menyerahkan jabatan Ketua PPPI kepada Soegondo.

3 dari 3 halaman

Soegondo dan Kongres Pemuda II

Meskipun dalam Kongres Pemuda I PPPI belum ikut andil, tetapi sejak Februari tahun 1927 Soegondo dan PPPI telah bergabung dengan pertemuan-pertemuan itu. Setelah itu, PPPI justru yang mengambil inisiatif mengadakan pertemuan. Hal ini tidak lagi dilakukan secara perorangan, tetapi mengundang perwakilan perkumpulan untuk maksud yang sama, yakni membahas Persatuan.

Partai politik sudah bersatu dalam PPPKI, namun para pemuda merasa perlu mendapat bentuk kesatuan. Oleh karena itu, tercetuslah ide untuk mengadakan sebuah rapat umum (kongres) untuk membahas hal tersebut. Pada bulan Juni 1928, daftar panitia telah ditentukan dan terdiri atas perwakilan dari perkumpulan-perkumpulan yang ada.

Berikut adalah susunan panitia Kongres:
Soegondo dari PPPI (Ketua)
Djoko Marsaid Jong Jawa (Wakil Ketua)
Mohammad Yamin dari Jong Sumatranen Bond (Sekretaris)
Djohan Moh. Tjai dari Jong Islamieten Bond (Pembantu I)
Kotjosungkono dari pemuda Indonesia (Pembantu II)
Sunduk dari Jong Celebes (Pembantu III)
J. Leimena dari Jong Ambon (Pembantu IV)
Rohyani dari Pemuda Kaum Betawi (Pembantu V)

Menurut Soegondo, terdapat perbedaan antara Kongres Pemuda I dan II. Perbedaannya adalah pada kongres pertama yang dipimpin oleh M. Tabrani, para panitia tidak berhubungan sama sekali dengan perhimpunan pemuda. Sementara Kongres Pemuda II terdiri atas wakil-wakil perhimpunan pemuda.

Selain itu, pada kongres yang pertama dimaksudkan untuk menyiarkan perasaan persatuan Indonesia, sementara kongres yang dipimpin olehnya bermaksud untuk menguatkan perasaan persatuan dan kebangsaan para pemuda.

Kongres dilaksanakan selama 3 kali, pertama di tanggal 27 Oktober 1928 pukul 07.30-1.30 (di Gedung Katholike Jongekngen Bond), kedua pada 28 Oktober 1928 pukul 8-12 (di Oost Java Bioscoop Koningsplein Noord), dan ketiga pada 28 Oktober 1928 pukul 5.30-7.30 malam (di Gedung Indonesische Clubhuis Kramat). Kongres dihadiri oleh para pemuda dan kalangan dewasa yang terdiri atas wakil PNI, PPPKI, Dewan Rakyat hingga wakil dari Belanda.

Kongres diawali dengan pembacaan amanat tertulis dari Ir. Soekarno sebagai ketua PNI, amanat Perhimpunan Indonesia, dan amanat Tan Malaka. Setelah itu, dilanjutkan dengan pidato Soegondo selaku ketua kongres.

"Perangilah pengaruh cerai-berai dan majulah terus ke arah Indonesia bersatu yang kita cintai," penutup pidato Soegondo.

Dalam acara sambutan di hari pertama sempat terjadi masalah, karena ada penyebutan kata 'kemerdekaan'. Kata tersebut oleh polisi Belanda dianggap sebagai sebuah pernyataan politik. Karena para pemuda berusia di bawah 18 tahun, mereka dilarang membicarakan politik.

Selain itu, terdapat pernyataan untuk bekerja lebih keras agar Indonesia dapat menjadi negara seperti Inggris, Jepang, dan yang lainnya. Pernyataan tersebut juga mendapat teguran. Akan tetapi, berkat bantuan Sartono SH, insiden berhasil diatasi.

Kongres dilanjutkan oleh Moh. Yamin dengan pidatonya yang berjudul 'Persatuan dan Kebangsaan Indonesia'. Selanjutnya, pada kongres di hari kedua dilakukan pembahasan mengenai pendidikan dan dihasilkan resolusi yang kita kenal dengan Sumpah Pemuda. Resolusi tersebut disusun oleh Moh. Yamin dan disetujui oleh Soegondo.

Reporter Magang: Muhammad Rigan Agus Setiawan

[noe]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini