Di kalangan para kolega dan anak buahnya, Panglima ABRI ke-10 Jenderal TNI Edi Sudradjat dikenal sebagai perwira tinggi yang fair dan sportif. Sang jenderal juga punya hobi spesial.
Oleh Hendi Jo
Tak hanya di lapangan dan saat bertugas, sikap sportif juga diperlihatkan Edi dalam saat memainkan hobinya yang lain: Bermain gaple alias domino. Tersebutlah, pada suatu siang di kala senggang pada penghujung 1980-an, tiba-tiba Edi yang saat itu menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) memanggil Brigjen Kuntara, Kolonel Sutiyoso dan Kolonel Agum Gumelar.
Sutiyoso menjabat sebagai Asisten Operasi Komandan Jenderal Kopassus, di bawah Brigadir Jenderal Kuntara. Sementara, Agum Gumelar sebagai asisten intelijennya.
Dipanggil secara mendadak oleh atasannya, tentu saja mereka ketiga perwira tinggi Kopassus itu menjadi bertanya-tanya. Apalagi Edi Sudradjat meminta ketiganya datang ke langsung ke rumahnya. Akhirnya datanglah ketiganya ke rumah sang jenderal.
Setibanya di sana, bukan misi penting atau teguran yang didapat namun ajakan untuk bermain bermain gaple. Pucuk dicinta ulam tiba, ketiganya yang memang juga hobi bermain gaple langsung mengiyakan ajakan tersebut. Edi berpasangan dengan Kuntara, yang sama-sama perwira tinggi. Sutiyoso berpasangan dengan Agum, sama-sama perwira menengah.
Advertisement
Meski pangkatnya lebih rendah, ternyata pasangan Sutiyoso-Agum mujur. Pada suatu kesempatan, Agum bisa memenangkan permainan, sehingga skor langsung berubah menjadi 2-0. Entah girang atau karena apa, seketika itu juga Agum berteriak senang sambil menari-nari jejingkrakan.
Melihat ulah Agum itu, Sutiyoso sempat kebat-kebit juga. Maklum, lawan yang barusan mereka kalahkan adalah jenderal bintang empat, pucuk pimpinan TNI-AD pula, dan pasangannya adalah perwira bintang satu yang notabene atasan Sutiyoso dan Agum.
Namun, Sutiyoso akhirnya lega. Alih-alih menjadi marah, Jenderal Edi Sudradjat malah tertawa senang melihat ulah Agum. "Di situlah saya melihat sosok Pak Edi yang sangat fair dan gentlemen. Kalau main kalah, ya kalah," kata Sutiyoso.
Tapi, tak urung, sepulang dari sana, Sutiyoso sempat merasa heran sendiri.
"Gum, kamu nggak sadar ya, tadi kamu nari-nari di depan Kasad," tegur Sutiyoso.
"Waduh, iya Yos, aku lupa," kata Agum sambil mesam-mesem.
Advertisement
Jenderal (Purn) HBL Mantiri juga memiliki kisah sendiri terkait soal sportivitas Edi. Pada suatu hari, Jenderal Edi tengah melakukan kunjungan kerja ke Timor Timur. Di sela-sela kunjungan itu, Edi meminta Panglima Komando Operasi Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib) tersebut mencarikan lawan yang tangguh untuk bermain tenis.
"Pak Edi itu memang sangat menggilai olahraga tenis. Tiap pergi kemana pun dia pasti membawa raket tenis kesayangannya," ungkap Mantiri.
Mantiri ingat jika Komandan Resort Militer (Danrem) Dili Kolonel Yunus Yosfiah, jago bermain tenis. Dia lantas mengajak sang kolonel untuk melayani keinginan Panglima ABRI. Alih-alih merasa gembira, Kolonel Yunus malah ketar-ketir.
Dia lalu bertanya kepada Mantiri: Bagaimana bila dia dapat mengalahkan sang jenderal? Bagaimana permainan harus dimainkan? Mantiri menjawab kegundahan Yunus.
"Kamu tidak perlu khawatir. Main saja segarang mungkin. All out. Aku tahu Pak Edi, kok," ungkap Mantiri.
Benar saja. Yunus main bagai kesetanan. Bagi seekor rusa, dia meloncat kesana kemari, menahan sekaligus melakukan serangan kepada Edi. Tidak ada kecanggungan sama sekali dalam diri Yunus. Pukulannya kuat dan selalu terarah.
Hasilnya, Panglima ABRI pun dibuat takluk. Tersinggungkah Edi? Tidak sama sekali. Dia malah memperlihatkan semangat sportivitas: menerima kekalahannya dengan besar hati.