Dihujani Tembakan Hingga Terpojok di Jurang, Prajurit APRA Berwajah Garang Menyerah

Setelah mengobrak-abrik Bandung, anak buah Kapten Westerling bergerak menuju Jakarta. Namun di Cianjur, pasukan Divisi Siliwangi berhasil menghancurkan mereka.

Rita
Oleh Rita - Reporter
Dihujani Tembakan Hingga Terpojok di Jurang, Prajurit APRA Berwajah Garang Menyerah
Westerling. sesukakita.files.wordpress.com

Setelah mengobrak-abrik Bandung, anak buah Kapten Westerling bergerak menuju Jakarta.Mereka adalah prajurit Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) yang berwajah garang.

Penulis: Hendi Jo

Cimahi, 23 Januari 1950. Hari sudah menjelang malam. Situasi kota dibekap kesunyian. Tiba-tiba dari arah Asrama Batujajar, muncul iringan konvoi truk yang didahului sebuah mobil pikap melaju kencang ke arah Padalarang. Total semuanya berjumlah sepuluh kendaraan yang masing-masing berisi prajurit-prajurit berwajah garang. Siapakah mereka?

"Mereka orang-orang Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) yang siang harinya baru saja meneror Bandung," ungkap Letnan Dua (Purn) O. Soedarja, mantan anggota Seksi I (Bagian Intelijen) Divisi Siliwangi.

APRA merupakan sayap militer dari sebuah gerakan yang bernama Ratu Adil Persatuan Indonesia (RAPI). Komandannya bernama Kapten R.P.P. Westerling, eks pimpinan Korps Pasukan Khusus (KST) yang pernah melakukan penjagalan orang-orang Republik di Sulawesi Selatan pada awal 1946.

Akibat aksi mereka di Bandung 79 prajurit Divisi Siliwangi, termasuk Letnan Kolonel Adolf Gustaaf Lembong dan pengawalnya Letnan Satu Leo Kailola, gugur seketika.

"Namun kami berhasil menggagalkan mereka menguasai Bandung," ungkap O. Soedarja, eks anggota Seksi I (intelijen) Divisi Siliwangi.

Gagal menguasai Bandung, pasukan APRA berkonsolidasi di Asrama Batujajar, markas KST. Mereka lantas bergerak menuju Jakarta dengan memakai rute Padalarang-Cianjur. Itu terjadi karena isu yang beredar di jalur Padalarang-Purwakarta pasukan Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS) sudah siap mengadang sekaligus menghabisi mereka.

Persoalannya, kekuatan APRA yang terdiri dari gabungan prajurit dari KNIL, KST dan Polisi Negara Pasundan memiliki persenjataan cukup lengkap. Menurut Soedarja ada puluhan senapan karaben, tiga brengun dan empat senapan mesin 12,7 di tangan mereka. Suatu unit pasukan yang cukup kuat dan berpengalaman.

Tidak ingin kehilangan buruan, Markas Staf Kwartier Divisi Siliwangi yang baru saja dibebaskan langsung mengontak Batalyon H pimpinan Mayor Sutoyo. Sebagai pasukan organik APRIS yang ditempatkan di wilayah Cianjur, Yon H pun bersiap dengan menempatkan Peleton-3 pimpinan Letnan Dua Furqon di jalan besar sekitar Stasiun Cipeuyeum.

Sementara untuk menutup jalur alternatif menuju Jakarta via Cikalong-Mande ditempatkan Peleton-1 di bawah pimpinan langsung komandan kompi Letnan Satu Siradz dan Danton-1 Letnan Dua Barnas.

"Kami membuat perhitungan jika di Cipeuyeum lolos, mereka akan dihajar oleh Peleton-2 pimpinan Letnan Dua Yusuf," ujar Soedarja.

Menjelang tengah malam, konvoi APRA pimpinan Komisaris Polisi J.H. van der Meulen itu masuk dalam killing ground. Begitu menaiki jalan yang agak menanjak sebelum pintu kereta api dekat Stasiun Cipeuyeum, ratusan peluru disiramkan Peleton-3 ke iringan-iringan konvoi mereka.

Tak ada balasan berarti. Anak buah Letnan Furqon tak memberi kesempatan kepada mereka untuk menyalakan senjata. Hanya tembakan membabibuta yang mereka bisa lakukan sambil merunduk di atas truk. Namun akhirnya mereka lolos juga.

Tiba di Ciranjang, siraman peluru lagi-lagi menerjang posisi mereka. Kali ini 'tembakan selamat datang' dilakukan oleh Peleton-2 yang dipimpin Letnan Dua Yusuf. Mungkin karena lebih awas, perlawanan APRA di Ciranjang malah berlangsung alot.

"Akhirnya Ciranjang juga bobol diterobos APRA dengan perlawanan yang hebat lalu mereka terus menerobos ke jurusan Cianjur," demikian menurut Kolonel (Purn) Mohamad Rivai dalam biografinya, Tanpa Pamrih Kupertahankan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Menghindar masuk Cianjur kota, konvoi pasukan APRA itu lantas berbelok ke kanan jalan. Mereka akan menuju Mande. Namun baru beberapa kilometer dari jalan besar, di pintu gerbang Perkebunan Karet VADA konvoi diadang pasukan Letnan Satu Siradz.

Komisaris van der Meulen yang duduk di bagian depan mobil pikap memilih sikap tenang. Setelah menghentikan mobilnya, dia menyalami Letnan Siradz. Begitu ditanya tujuan, anggota Polisi Negara Pasundan itu mengatakan bahwa mereka diperintahkan oleh Panglima Divisi Siliwangi untuk mengejar 'buronan APRA' yang lari ke arah Perkebunan Kiara Payung.

"Baik tapi kalau Tuan-Tuan mau selamat, saya akan periksa dulu seluruh kendaraan dan lebih dahulu menelepon Tuan Klassen (Adminisratur Perkebunan Kiara Payung) untuk memberitahukan kedatangan tuan-tuan," ujar Siradz.

Van der Meulen setuju. Dia mempersilakan Siradz mengecek semua kendaraan. Dalam sorotan cahaya bulan, Siradz melihat badan semua kendaraan bolong-bolong akibat hajaran peluru.

Saat melongok ke satu truk, sang letnan menyaksikan darah menggenang di lantai kendaraan itu, dengan orang-orang terluka parah tergeletak begitu saja. Beberapa prajurit yang kelelahan terlihat memelototkan matanya dan siap menembak saat Siradz menyibakan terpal penutup.

Siradz lantas menghentikan pengecekan. Nalurinya mengatakan bahwa dia sedang ada dalam bahaya. Betul saja, saat dia berteriak 'gempur', tiba-tiba Van der Meulen mengeluarkan brengun-nya dan menembakan senjata berat itu ke arah Siradz. Untung-lah dia sigap dan cepat tiarap. Peluru-peluru yang ditembakan sekira 7 meter darinya itu hanya lewat di atas kepala Siradz.

Pertempuran jarak dekat pun tak terelakan. Merasa kalah stamina dan persenjataan Van der Meulen memerintahkan pasukannya untuk segera kabur menuju perkebunan. Tak mau kehilangan jejak, Peleton-3 dari Kompi III pimpinan Letnan Dua Bustaman pun memburu mereka.

"Kami yakin dari Perkebunan VADA, mereka akan menuju Hutan Bakong yang terletak di sebelah timur Cipanas," ujar Bustaman.

Perkiraaan Bustaman ternyata keliru. Pasukan APRA justru terus bergerak menuju Maleber. Begitu sampai jalan besar Cianjur-Cipanas, mereka menyeberang ke arah Pasir Sarongge. Karena buta akan medan, mereka malah tersesat ke kawasan lembah-lembah.

"Di sana mereka terjebak medan yang berat hingga menyebabkan salah satu truknya masuk ke jurang," ungkap Soedarja.

Di Pasir Sarongge, lagi-lagi mereka dihabisi oleh pasukan Divisi Siliwangi yang dibantu masyarakat setempat. Karena tersudut ke satu kawasan yang belakangnya adalah jurang yang menganga, para prajurit APRA itu pun akhirnya menyerah Mereka lantas dibawa kembali ke Bandung kecuali Komisaris J.Van der Meulen.

Menurut Soedarja, tangan kanan Westerling itu ditahan di penjara militer Cianjur. Dari sana besoknya dia dikirim ke Sukanagara. Setelah diinterogasi dan diadili secara kilat, nyawanya kemudian dihabisi di sebuah hutan.

Rekomendasi