Jejak Pelarian D.N Aidit saat Musso Ditangkap

Di manakah keberadaan Aidit ketika Musso CS melancarkan aksinya?

Rita
Oleh Rita - Reporter
Jejak Pelarian D.N Aidit saat Musso Ditangkap
Aidit Berpidato sebagai Ketua CC PKI Pada Pemilu 1955. Aidit Dua Wajah Dipa©2022 Merdeka.com

Pemberontakan revolusioner yang dilakukan Partai Komunis di Indonesia boleh dikatakan terjadi dalam tiga waktu yang berbeda. Yakni Pemberontakan ISDV tahun 1926, Pemberontakan PKI Madiun tahun 1948 dan terakhir Peristiwa G30S 1965. Peristiwa yang mengakhiri riwayat Komunisme di negeri ini.

Dalam peristiwa malam 30 September 1965, D.N Aidit yang saat itu menjadi Ketua CC PKI, harus mengakui kekalahannya dan berakhir nahas di ujung tembakan militer.

Namun, kegagalan ini bukanlah yang pertama. Hal serupa juga dialami oleh sosok yang dikagumi oleh Aidit, yakni Musso pada tahun 1948.

Lantas, di manakah keberadaan Aidit ketika Musso CS melancarkan aksinya?

Kepulangan Musso dari Rusia membangkitkan semangat Aidit muda. Aidit terkesan gagasan Musso tentang 'Jalan Baru bagi Republik'. Dalam buku Aidit Dua Wajah Dipa Nusantara dijelaskan bagaimana Musso menghendaki adanya persatuan seluruh kekuatan Sosialis. Untuk merebut tampuk kekuasaan, PKI tidak boleh bergerak sendiri.

Lebih lanjut dalam buku G30S/PKI dan Peran Aidit dikatakan bahwa Musso mencibir Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Dianggap sebagai kegagalan kaum revolusioner. Lantaran kekuasaan jatuh ke tangan borjuis, yakni Sukarno-Hatta.

Bagi Musso, revolusi yang ideal adalah ketika kaum proletar, buruh dan tani memimpin. Aidit meyakini Musso tidak menjanjikan isapan jempol belaka, tetapi memang berambisi menuntaskan misi revolusi. Keyakinannya tersebut menjadi nyata ketika Musso melancarkan sebuah pemberontakan pada 18 September 1948.

Tepat pertengahan tahun 1948 Aidit yang baru berusia 25 tahun diangkat menjadi seksi perburuhan partai. Posisi tersebut merupakan sebuah kehormatan besar bagi Aidit yang merupakan tamatan sekolah dasar.

Hanya satu bulan setelah Aidit mengemban tanggung jawab tersebut, 18 September 1948 Musso CS melancarkan aksinya pada dini hari. Massa yang menyebut dirinya kaum revolusioner memenuhi kota Madiun. Ribuan buruh dan tani bergerak mengambil alih kekuasaan pemerintah.

Dalam aksi tersebut, Musso berusaha untuk mendirikan apa yang disebutnya sebagai 'Soviet Republik Indonesia' di beberapa daerah seperti Madiun, Magetan, Cepu, Blora, dan sejumlah kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Seperti yang diungkapkan dalam buku Aidit Dua Wajah Dipa Nusantara bahwa bendera bergambar palu arit ditancapkan dan berkibar di banyak tempat. Musso pun dilabeli pengkhianat republik.

Sementara Musso balik menuduh Dwi Tunggal sebagai kolaborator imperialis. Peristiwa ini merupakan fase yang penuh kegetiran. Karena hampir sebagian besar pimpinan PKI tertangkap, termasuk sosok yang dikagumi oleh Aidit yakni Musso.

Aidit bisa dibilang lebih beruntung. Meskipun sempat tertangkap di Yogyakarta, dia berhasil melepaskan diri karena tak dikenali. Putri dari Aidit menggambarkan bahwa Aidit berhasil lolos dari kejaran dengan menyamar sebagai pedagang China.

"Rambutnya digundul habis, Papa ikut iring-iringan konvoi barang," ujar Ibarruri Putri Alam yang merupakan putri Aidit.

Dalam beberapa sumber dikatakan bahwa Aidit kabur ke Beijing, China. Namun, menurut buku karangan Murad Aidit yang merupakan adik dari Aidit, sang Kakak tidak melarikan diri ke China. Tetapi bersembunyi di Kawasan Tanjong Priok menyamar dengan nama samaran 'Ganda'.

Situasi tersebut merepotkan bagi Aidit. Kendati demikian, Aidit bersama rekannya Lukman nekat menerbitkan Bintang Merah pada 15 Agustus 1950. Setiap dua pekan sekali mereka meluncurkan Suara Rakjat yang merupakan embrio dari Harian Rakjat. Koran tersebut berhasil menjadi surat kabar terbesar dengan jumlah oplah 55 ribu per hari.

Pada tahun 1951, Njoto bergabung ke dalam redaksi. Tiga tahun setelahnya tiga sahabat tersebut memimpin Partai Komunis Indonesia dengan puncaknya pada peristiwa G30S.

Reporter Magang: Muhammad Rigan Agus Setiawan

Rekomendasi