Pot Kesayangan Pecah, Bung Karno Marah Hingga Pelayan Ketakutan dan Ngompol

Sabtu, 2 Juli 2022 07:06 Reporter : Merdeka
Pot Kesayangan Pecah, Bung Karno Marah Hingga Pelayan Ketakutan dan Ngompol Soekarno. ©AFP PHOTO/STR

Merdeka.com - Presiden Sukarno sangat teliti dan hapal terhadap berbagai koleksi kesukaannya. Termasuk ketika pot antik miliknya yang dipajang di Istana Negara tiba-tiba rusak.

Penulis: Hendi Jo

Istana Negara di Jakarta heboh pada suatu senja. Presiden Sukarno terlihat bermuka masam. Itu terjadi setelah Si Bung Besar berkeliling kawasan istana bersama putra sulungnya, Guntur Sukarnoputra yang saat itu masih remaja.

"Tok (paggilan akrab Guntur), coba panggilkan Pak Pelayan," kata Bung Karno.

Enem, pelayan yang dimaksud pun langsung datang ke hadapan Bung Karno. Dia nampak ketakutan. Dengan wajah yang pucat dan memelas, dia setengah berjingkat menghampiri bos-nya itu.

"Nem, pot antik Bapak yang di sini kemana?" tanya Bung Karno dalam bahasa Sunda.
"Ehm…Pepeus (pecah), Pak…" jawab Enem. Suaranya gemetar.
"Hah peupeus! Siapa yang memecahkan!? Siapa yang melakukan!?" teriak sang presiden.
"Aa..Ab…Abdi teu terang, Pak…(Saya tidak tahu, Pak)."
"Maenya jurig nu meupeuskeun, hah! Hayo kabeh pelayan kadarieu! Saha nu nyaho! Mun teu aya nu ngaku, kabeh kudu dipariksa pulisi (Masa hantu yang memecahkannya, hah! Ayo semua pelayan kumpul! Siapa yang tahu! Kalau tidak ada yang mengaku, semua akan berurusan dengan polisi)."

2 dari 4 halaman

Gertakan Bung Karno Bikin Pelayan Ngompol

Tak perlu waktu cepat, semua pelayan pun berkumpul di belakang Istana Negara. Mulailah Bung Karno menginterogasi satu persatu para pelayannya.

"Sueb! Maneh nyaho henteu?!"
"Abdi teu terang, Pak…"
"Saleh!?"
"Teu…Ter…Terang, Pak…"
"Sain!?"

Ditanya demikian, kakek berusia 70 tahun itu alih-alih menjawab. Yang ada dia malah kumat penyakit asmanya.

"Aaaaa..Abdi…Ngik…Ngik…Teu…Te..Terang, Pak…Ngik…Ngik"

Kemarahan Bung Karno semakin besar mendengar jawaban semua pelayannya tersebut. Dia kemudian memerintahkan pengawalnya untuk memanggil komandan jaga hari itu. Datanglah dia dengan tergopoh-gopoh.

"Siap, Pak!"

Bung Karno lantas memerintahkan sang komandan jaga untuk memeriksa semua pelayan ini dan para tukang kebun. Begitu marahnya sang presiden, hingga dia memerintahkan jika pelakunya ketemu untuk langsung 'digantung'. Tentunya perintah itu hanya untuk menggertak saja.

"Pada saat itu kulihat Pak Saiin yang tengah berdiri gemetaran tetiba celananya sudah basah kuyup karena mengompol," kisah Guntur Sukarnoputra dalam Bung Karno: Bapakku, Kawanku, Guruku.

3 dari 4 halaman

Ternyata Guntur

Beberapa saat kemudian, sang komandan sudah kembali. Menurut penyidikan yang sudah dilakukannya, ternyata pot itu pecah karena terkena cakram. Bung Karno nampak terkejut mendengar laporan tersebut. Dia pastinya tahu bahwa satu-satunya orang yang memiliki hobi main lempar cakram adalah putera sulungnya.

Dia kemudian memerintahkan semua pelayan dan pasukan penjaga Istana untuk kembali bekerja. Begitu tempat itu sepi, diajaknya Guntur kembali jalan-jalan. Setelah agak jauh, sambil terus berjalan, Bung Karno berbisik serak kepada Guntur:

"Lain kali kalau bikin salah, kasih tahu Bapak ya! Jangan seperti ini, tenggorokan Bapak hampir-hampir putus, Saiin terkencing-kencing, pengawal repot…Jebulnya kau punya ulah!"
"Ya, Pak…" jawab Guntur sambil tertunduk.

4 dari 4 halaman

Pelayan Kentut

Layaknya manusia biasa, Presiden Sukarno kadang-kadang suka kesal dan marah kepada orang-orang di sekitarnya. Namun itu dilakukannya supaya orang-orang itu berlaku disiplin dan tak lalai kepada tugasnya masing-masing. Semacam peringatan karena rasa sayang. Makanya menurut salah satu pengawal dekatnya H. Mangil Martowidjojo, kemarahan Bung Karno tak pernah berlama-lama.

Salah satu kondisi yang paling 'ditakuti' para pelayan istana adalah saat Bung Karno tengah uring-uringan karena masalah negara atau terkait soal pribadi. Enem, adalah salah satu pelayan yang pernah dipanggil dalam situasi seperti itu.

Begitu takutnya, hingga tak terasa sang pelayan yang sudah sepuh itu terkentut-kentut di depan sang presiden. Murka-kah Bung Karno? Tidak sama sekali.

"Bung Karno justru malahan ketawa…" ungkap Mangil dalam bukunya, Kesaksian Tentang Bung Karno 1945—1967.

[noe]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini