Mayat Tentara Australia Bergelimpangan di Tengah Kota Cianjur
Merdeka.com - Tak mendapat perlawanan sama sekali, dengan leluasa pesawat Jepang meluluhlantakan Cianjur dengan bom-bom berukuran besar.
Penulis: Hendi Jo
Cianjur, 24 Maret 1945. Empat pesawat pembom Jepang melayang rendah di atas kota. Usai berkeliling beberapa kali, mereka lantas melepaskan bom dan tembakan bertubi-tubi ke beberapa sasaran. Halaman stasiun kereta api yang dipasang sejumlah meriam penangkis serangan udara nyaris habis dihantam bom.
"Rumah-rumah penduduk di wilayah Warujajar, Cikidang, Sayang dan Banceuy juga mengalami kerusakan parah akibat pemboman itu," ungkap salah seorang saksi bernama E.Muchtarman dalam otobiografinya, Saya Masih Ingat: Sejarah Perjuangan Kemerdekaan RI di Cianjur.
Berbagai kawasan vital seperti Alun-Alun Cianjur, Stasiun Pengisian Bensin, Pabrik Roti Tan Keng Tju dan Markas KNIL tak luput dari serangan. Dalam sebuah tulisan yang dipublikasikan oleh Java Post, penulis Bert Immerzeel mengutip kesaksian seorang gadis Belanda berusia 13 tahun saat Cianjur dihantam bom yang dijatuhkan pesawat Jepang.
"Kami tinggal di dekat stasiun, dan menyaksikan tempat pengisian bahan bakar dibom. Saat itulah kami juga harus berlindung di sebuah lubang perlindungan darurat yang terletak di taman samping rumah dan mendengar semuanya terjadi," demikian pengakuan sang gadis dalam tulisan berjudul Tjiandjoer in oorlogstijd (Cianjur di Masa Perang).
Pesawat-pesawat terbang Jepang pun menembaki para serdadu Australia yang berlarian di jalanan. Akibatnya banyak di antara mereka yang terluka, bahkan langsung terbunuh saat itu juga. Karena rumah sakit tidak berfungsi – para pegawainya telah melarikan diri – maka para serdadu itu lantas ditolong dan dirawat oleh penduduk setempat.
"Ibuku, yang pernah menjadi perawat, bahkan ikut mengatur agar yang terluka bisa dirawat di rumah kami. Kebanyakan dari mereka mengalami luka bakar. Aku dan adikku ikut juga melepaskan pakaian mereka dan menutupi lukanya dengan seprai bersih. Mereka berteriak kesakitan. Sungguh mengerikan! Saya tidak pernah bisa melupakan kejadian itu," ungkap sang gadis remaja yang tak disebutkan namanya itu.
Mayat Bergelimpangan
Pesawat-pesawat pembom itu baru pergi sejam kemudian. Besoknya, dengan beberapa truk, sekelompok tentara Australia datang dari Bandung untuk menjemput rekan-rekan mereka.
Jaja masih ingat, mayat-mayat itu dideretkan bak 'ikan pindang' di jalan depan stasiun kereta api. Sejak itulah muncul di kalangan penduduk Cianjur istilah 'pindang Ustrali'.
Begitu banyaknya korban tewas di pihak tentara Australia, hingga truk-truk yang didatangkan itu memuat penuh mayat yang mulai berbau busuk tersebut.
Isu pun beredar, ketika melewati Jembatan Cisokan, sebagian mayat-mayat itu ada yang dibuang ke Sungai Cisokan karena dikhawatirkan akan menimbulkan penyakit. Hanya yang terluka saja yang kemudian dibawa sampai ke Bandung.
"Karena isu itu, ikan-ikan yang diambil dari Sungai Cisokan tak laku di pasaran," kenang Jaja.
Orang Belanda Mengaku Pribumi
Beberapa hari setelah kepergian orang-orang Australia, giliran orang Belanda berduyun-duyun meninggalkan Cianjur. Sebagian besar dari mereka pergi menuju Bandung atau Batavia. Sementara itu, para prajurit KNIL membuka seragam mereka dan membuang senjata-senjata ke sungai atau situ (danau). Mereka seolah berlomba untuk menampilkan diri sebagai orang sipil.
"Seorang tentara KNIL berkebangsaan Belanda yang dulu dikenal sombong dan kejam kepada penduduk Cianjur, dipergoki tengah membaluri seluruh tubuhnya dengan lumpur hitam. Dia ingin menutupi kulit terangnya supaya dianggap sebagai orang pribumi dan terhindar dari penangkapan tentara Jepang," ungkap Jaja.
Bukan saja orang-orang Belanda, Bupati Cianjur R.A.A. Soerja Nataatmadja (yang dilantik pemerintah Hindia Belanda pada 1934, pun tak luput dari rasa takut akan ditangkap tentara Jepang. Guna menutupi 'kebelandaannya' itu, dia tak segan mengecam orang-orang Belanda dalam pidatonya pada Mei 1942.
"Pemerintah Belanda sialan itu berani menyatakan perang terhadap Nippon yang agung. Itu adalah suatu hal yang konyol! Lalu apa yang sebenarnya diinginkan orang-orang Amerika itu? Semua orang Amerika memang layak dibantai tanpa kecuali!," ujar sang bupati seperti dikutip dalam artikel Bert Immerzeel di Java Post, edisi 21 September 2019.
Pernyataan itu menimbulkan sikap rasis di kalangan sebagian orang Cianjur. Seperti mendapat komando, beberapa hari setelah pidato tersebut, rumah-rumah orang-orang Belanda di Cianjur pun habis dijarah oleh massa.
(mdk/noe)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya