Kisah Tentang Daging Ayam di Tengah Perang untuk Megawati

Jumat, 21 Oktober 2022 06:08 Reporter : Ramadhian Fadillah
Kisah Tentang Daging Ayam di Tengah Perang untuk Megawati Bung Karno dan Fatmawati. ©2022 Yayasan Bung Karno

Merdeka.com - Di tengah perang, kondisi serba sulit. keluarga Presiden Sukarno terpaksa mengungsi. Megawati kecil ingin makan daging ayam kesukaannya. Bagaimana cara mendapatkannya?

Belanda menggelar Agresi Militer II tanggal 19 Desember 1948. Mereka ingin kembali berkuasa atas Republik Indonesia yang telah merdeka. Pasukan Belanda berhasil menguasai Kota Yogyakarta yang saat itu menjadi ibu kota perjuangan Republik indonesia.

Belanda menduduki Gedung Kepresidenan dan menahan Presiden Sukarno, Wapres Mohammad Hatta, sejumlah menteri dan tokoh Republik Indonesia. Bung Karno bersama Sutan Sjahrir diasingkan ke Parapat, Sumatera Utara. sementara Bung Hatta ditahan di Pulau Bangka.

2 dari 4 halaman

Derita Keluarga Bung Karno Diasingkan

Keluarga Bung Karno dan Bung Hatta tidak ikut diasingkan ke luar Pulau Jawa. Awalnya mereka ditahan di Gedung Kepresidenan dengan pengawalan ketat Belanda. Namun akhirnya mereka diusir keluar dari sana.

Di antara mereka ada istri Bung Karno, Fatmawati beserta anak-anaknya yang masih kecil. Guntur Soekarnoputra dengan Megawati Soekarnoputri. Fatmawati kemudian tinggal di sebuah rumah sederhana di Batanawarsa, dekat Kali Code. Kondisinya saat itu cukup menyedihkan.

"Daun pintu tak ada, jendela demikian juga. Semua kekurangan dan kerusakan itu kami perbaiki sendiri," kenang Fatmawati.

Hal itu ditulisnya dalam Fatmawati, Catatan Kecil Bersama Bung Karno, yang diterbitkan oleh Yayasan Bung Karno dan Media Pressindo

Keluarga presiden Sukarno tak pernah lepas dari pengawasan. Pasukan Belanda sering datang ke rumah tersebut untuk mengamati kegiatan mereka.

3 dari 4 halaman

Di Tengah Baku Tembak

Selama perang, kondisi dalam rumah pengungsian cukup menegangkan. Sering terdengar baku tembak antara pasukan TNI dan tentara Belanda. Kadang ada juga peluru nyasar mengenai rumah itu. Untungnya tak ada korban.

Untuk menakut-nakuti Fatmawati dan keluarga, tentara Belanda iseng menembaki tiang listrik dan tiang telepon.

Di halaman rumah, Fatmawati pernah menemukan beberapa puluh butir peluru yang masih utuh. Peluru-peluru itu rupanya milik tentara Belanda yang tercecer.

"Ternyata pelor-pelor yang kutemukan itu masih baik. Secara rahasia pelor-pelor yang kutemukan itu kuserahkan pada pemuda gerilya melalui kurir," tulis Fatmawati.

4 dari 4 halaman

Ayam Goreng untuk Megawati

Saat perang kemerdekaan, kondisi perekonomian cukup sulit. Megawati yang saat itu masih kecil, terus menerus minta daging ayam. Makanan favoritnya.

"Aku katakan dalam suasana perang, di pasar tidak ada yang menjual daging ayam," kata Fatmawati pada Mega kecil.

Baru saja Fatmawati selesai berkata demikian, tiba-tiba ada seekor ayam terbang masuk rumah. Spontan Mega berkata "Nah, itu ayam."

Mendengar ucapan Mega, Fatmawati merasa geli sekaligus terharu.

"Langsung ayam tadi aku 'lempar' ke dapur untuk memenuhi permintaan Megawati," kenangnya.

Fatmawati merasa bersyukur telah mendapat jalan keluar atas keinginan putrinya yang kangen makan daging ayam.

[noe]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini