Pejuang dari Cianjur (2)

Kisah Penembak Runduk dari Cisarandi

Selasa, 12 Oktober 2021 07:06 Reporter : Merdeka
Kisah Penembak Runduk dari Cisarandi Asmin Sucipta di tengah para muridnya saat kunjungan ke Kebun Raya Bogor. ©2021 dokumen keluarga Asmin Sucipta

Merdeka.com - Dari seorang guru SMP, dia berubah menjadi sniper jempolan. Korban pertamanya: para serdadu Inggris dari kesatuan British Indian Army.

Penulis: Hendi Jo

TIGA hari lalu, komunitas sejarah De Brings Tjiandjoer mengadakan diskusi online bertema "Asmin Sucipta: Pejuang Cianjur yang Terlupakan". Hadir dalam acara itu Mahkun Cipta Subagyo (putra dari Asmin Sucipta) dan Herman (adik ipar almarhum Asmin Sucipta).

"Saya merasa terharu dan berterimakasih, akhirnya perjuangan bapak di Cianjur ada juga yang mengangkat," ungkap Mahkun.

Keluarga Asmin Sucipta memang layak merasa terharu. Setelah puluhan tahun tak ada yang peduli, nama Asmin Sucipta kembali muncul. Seiring kemunculannya itu, tuntutan untuk mengganti kembali Jalan Adi Sucipta menjadi Jalan Asmin Sucipta mulai marak. Bukan saja datang dari para aktivis pecinta sejarah namun juga media massa ikut mengemukakan ide tersebut.

"Mudah-mudahan, pemkab Cianjur yang baru ini bisa lebih mendengar aspirasi kami," ungkap Sudradjat Laksana, sesepuh De Brings Tjiandjoer.

Menurut Mahkun, selain sebagai seorang guru yang baik, Cipta (panggilan akrab Asmin Sucipta) juga adalah pejuang yang sangat ditakuti oleh serdadu Inggris dan tentara Belanda. Ketakutan itu didasarkan pada keahlian sang guru dalam menghabisi musuh-musuhnya lewat bidikan jitu senjata Lee Enfield-nya yang berjuluk 'Si Dukun'.

"Kang Cipta memiliki prinsip: satu musuh, satu peluru..." ungkap Herman.

Lantas dari mana sang pejuang memiliki keahlian sebagai penembak runduk jempolan?

Setelah mendapatkan sepucuk Lee Enfield hasil rampasan dari tentara Inggris, Cipta lantas membawa senjata itu ke kawan-kawannya yang menjadi anggota unit laskar Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo). Dia kemudian meminta mereka untuk mengajarkan cara menembak. Seharian berlatih, ternyata Cipta memiliki bakat bagus sebagai penembak runduk. Beberapa hari setelah latihan, dia berhasil menguasai senjata buatan Inggris itu secara baik.

Cipta kemudian bergabung dengan laskar Pesindo. Karena kharismanya, dia kemudian memiliki unit sendiri yang bernama Laspo (kependekan dari Laskar Pesindo). Hampir sebagian besar anggota Laspo adalah anak didiknya di SMP Pertanian Bojongkoneng. Salah satunya adalah almarhum Hadi, seorang eks pejuang Laspo yang sempat saya wawancarai pada 2016.

"Saya ingat waktu pertama kali bergabung dengan Pak Cipta, senjata yang saya pegang adalah sebilah bambu hijau yang diruncingkan," kenang lelaki kelahiran tahun 1933 itu.

Hadi menjadi saksi hidup jika Cipta adalah seorang penembak runduk jempolan. Dia mengenang kebiasaan gurunya itu kalau sedang beraksi: tak mau ditemani sama sekali oleh siapapun. Dengan menyeren Si Dukun di punggungnya, dia akan pergi sendiri lalu menyelusup ke semak-semak sekitar Sungai Cisarandi.

"Dari sana ke jalan raya, jaraknya paling sekitar 500 meter," ujar Hadi.

Mahkun membenarkan cerita Hadi tersebut. Dari kakeknya (Lurah To’ib), dia mendengar cerita dalam sebuah penghadangan di jalan raya Sukabumi-Cianjur, Si Dukun pernah sampai memakan korban 11 serdadu 'ubel- ubel' (British Indian Army).

"Menurut kakek, waktu itu bapak menembaki satu persatu serdadu-serdadu tersebut dari balik pepohonan dan semak-semak secara berpindah di pinggir Sungai Cisarandi…" tutur Mahkun.

Keahlian menembak Cipta terdengar sampai ke telinga pimpinan Pesindo Sukabumi-bernama S. Waluyo. Dia kemudian didapuk oleh Waluyo untuk menjadi bagian dari Pesindo Sukabumi dan mendapat pangkat kapten. Belakangan ketika Waluyo keluar dari Pesindo dan bergabung dengan Laskar Rakyat Jawa Barat (milisi yang secara ideologis pro Tan Malaka, Cipta pun mengikuti jejak sang komandan.

"Waluyo kemudian memimpin Laskar Rakyat Jawa Barat...," tulis Harry A.Poeze dalam Tan Malaka, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia Jilid III.

Ketika disepakati Perjanjian Renville oleh Belanda dan Indonesia pada Januari 1948, kekuatan bersenjata Republik harus keluar dari Jawa Barat. Laskar Rakyat Jawa Barat pimpinan Waluyo menolak mentah-mentah kesepakatan itu. Bahkan melalui restu dari Panglima Besar Sudirman, mereka tetap memilih untuk melanjutkan perlawanan di Jawa Barat dan mengganti nama kesatuannya menjadi Divisi Bambu Runcing.

Otomatis sebagai bawahan Waluyo, Cipta pun ikut mengganti nama unit menjadi Bambu Runcing. Bahkan dengan nama itu, Cipta tampil dalam koran-koran Belanda sebagai 'pimpinan teroris dari Cianjur'. [noe]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini