Kisah Bergabungnya Kolonel Alex Kawilarang dengan Permesta: Murka saat Manado Dibom
Merdeka.com - Tak menerima tanah leluhurnya dibom pemerintah pusat, atase militer Republik Indonesia di Amerika Serikat pulang ke Manado dan masuk hutan. Diprovokasi CIA?
Penulis: Hendi Jo
Pembangkangan yang dilakukan oleh para tokoh daerah di Sulawesi Utara (sipil maupun militer) awal 1958 berimbas pada tindakan keras yang dilakukan Jakarta. Pada 22 Februari 1958, Manado dijatuhi bom oleh AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia), sehingga menimbulkan kerugian materi dan jiwa yang cukup banyak di pihak PRRI/Permesta (Pemerintah Revolusiener Republik Indonesia/Perjuangan Semesta), nama gerakan pembangkangan itu.
Kolonel Alex Evert Kawilarang, atase militer RI di Amerika Serikat, meradang. Dia tidak setuju atas pemboman tanah leluhurnya dan melakukan protes kepada Kepala Staf Angkatan Darat Mayor Jenderal A.H. Nasution.
"Dia mengajukan diri sebagai penengah antara PRRI (Permesta) dan pemerintah pusat dan untuk itu akan pergi ke Padang dan Manado untuk berbicara dengan para pemberontak," ungkap Audrey R. Kahin dan George McT. Kahin dalam Subversi Sebagai Politik Luar Negeri.
Nasution menolak permintaan Alex dan memerintahkanya untuk tetap berada di Washington. Merasa tidak puas atas penolakan itu, Alex lalu meletakan jabatannya.
"Saya marah…Tapi tidak pernah bilang saya akan bergabung dengan Permesta," ujar Alex dalam wawancara khusus dengan majalah Tempo, 10 Mei 1999.
Alex lantas memutuskan untuk pergi ke Manado sekadar untuk menguatkan perasaan rakyat Minahasa yang baru saja dijatuhi bom oleh AURI. Dalam otobiografinya, Untuk Sang Merah Putih (disusun oleh Ramadhan KH), Alex menyatakan bahwa kepergiannya itu sebagai bentuk langkahnya yang mengikuti 'deburan hati'.
Diangkat Panglima Besar PRRI
Kedatangan Alex di Manado ternyata tidak disia-siakan oleh para pembangkang dari Permesta. Pada pertengahan 1958, dia didapuk untuk menjadi Panglima Besar Pemerintah Revolusiener Republik Indonesia (PRRI).
"Mereka mengangkat saya sebagai Panglima Besar PRRI. Tapi saya tidak terima. Saya mau bergabung dengan Permesta saja," ujar mantan Panglima TT III Siliwangi itu.
Sejatinya Alex tidak begitu sreg dengan konsep politik PRRI yang dianggapnya separatis. Dia lebih nyaman untuk bergabung dengan Permesta yang lebih menekankan gerakannya sebagai sikap beroposisi. Antara PRRI dan Permesta, kata Alex, tujuan politiknya berbeda.
Itulah yang menyebabkan Alex bersikeras bahwa dirinya bukan bagian dari kekuatan militer PRRI. Ketika ikut masuk hutan dan berjuang bersama rakyat Minahasa, dia lebih merasa dirinya hanya sebagai Panglima Besar Angkatan Perang Revolusiener (APREV), sayap militer Permesta.
"(Karena sikap itulah) dia dicurigai oleh kalangan tertentu (di PRRI dan Permesta) merupakan agen Nasution," tulis Barbara Sillars Harvey dalam Permesta, Pemberontakan Setengah Hati.
Alex yang bimbang kemudian merasa bahwa di internal Permesta pun memiliki banyak masalah. Sebagai seorang nasionalis, dia merasa kecewa dengan motivasi sebagian orang-orang Permesta yang turut berjuang semata-mata ingin melawan dominasi orang-orang Jawa.
"Wah tidak benar kalau begitu. (Tetapi pendapat) itu kebanyakan (dianut) oleh bawahan-bawahan yang kurang mengerti," kata Alex.
Spekulasi Dikirim CIA
Ada versi lain mengenai penyebab awal bergabungnya Alex ke Permesta. Menurut salah satu agen CIA (Badan Intelejen AS) bernama Joseph Smit kepada Audrey dan George, sejak 15 Februari 1958 sudah ada kontak antara Alex dengan orang-orang CIA mengenai situasi panas di Sulawesi Utara.
"Dia malah (kemudian) pergi ke Manado dengan menumpang pesawat CIA dari Manila," ungkap Audrey dan George.
Soal enggannya Alex memimpin militer PRRI juga dikatakan Audrey dan George karena Alex ragu dengan kualitas tempur pasukan PRRI. Dia sempat mengeluh kepada sahabatnya Daan Jahja bahwa betapa rendahnya mutu pasukan yang harus dipimpinnya di Sumatra.
(mdk/noe)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya