Hikayat Rumah Pierre Tendean di Semarang

Jumat, 1 Oktober 2021 08:04 Reporter : Danny Adriadhi Utama
Hikayat Rumah Pierre Tendean di Semarang Lokasi bekas rumah Pierre Tendean di Semarang. ©2021 Merdeka.com

Merdeka.com - Gedung tiga lantai di Jalan Imam Bonjol Nomor 172, Kota Semarang menyimpan sejarah. Saat ini bangunan tersebut difungsikan sebagai Kantor Pelayanan Pastoral Keuskupan Agung Semarang (KAS).

Dahulu, bangunan berdiri di atas tanah itu merupakan rumah atau tempat tinggal Pahlawan Revolusi yang gugur dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965, Kapten Czi (Anumerta) Pierre Andries Tendean. Bahkan rumah itu pernah digunakan tempat praktik Dr Tendean, ayah Piere yang diketahui berprofesi sebagai seorang dokter AL.

"Saya pertama kali tugas sebagai frater sekitar 1991, bangunannya masih berupa rumah kuno yang sangat luas. Depan pintu ada pohon beringin besar. Di samping rumah juga terdapat banyak kamar. Mungkin itu untuk ruang praktik ayah Pierre Tendean yang berprofesi sebagai dokter," kata Kepala Bidang Sosial Ekonomi Romo Keuskupan Agung Semarang, Yohanes Krismanto kepada merdeka.com.

Berdasarkan Literatur Keuskupan Agung Semarang Jawa Tengah, Pierre Tendean pernah menghabiskan masa remaja atau saat duduk di bangku SMP hingga SMA di Kota Atlas tersebut.

Setelah peristiwa G30 September, tepatnya di tahun 1970, keluarga Tendean tidak lagi tinggal di rumah tersebut. Rumah beserta tanah milik keluarga Tendean dihibahkan kepada Yayasan Budi Mulia.

Lembaga tersebut merupakan lembaga Konggregasi Bruder-Bruder yang bertugas mengelola kepemilikan aset tanah dan bangunan.

Pemugaran dilakukan karena kondisi fisik bangunan yang sudah tua. Selain itu, Keuskupan Agung Semarang juga membutuhkan ruangan yang memadai sebagai pelayanan umat.

Pemugaran atas pertimbangan biaya perawatan yang mahal serta lokasi yang lebih rendah dari jalan raya, sehingga ketika hujan deras sering tergenang air.

"Kita bangun ulang menjadi Kantor Pelayanan Pastoral. Pembangunannya selesai 25 Juni 2009, atau saat peringatan HUT ke-69 KAS," jelasnya.

Meski bangunan sudah dihibahkan, pihaknya tidak mengetahui keluarga Dr Tendean beserta istri dan anak-anaknya pernah menengok kondisi rumah itu atau tidak.

"Kalau soal menengok rumah saya tidak tahu. Tapi ketika rumah Dr Tendean direnovasi total oleh Keuskupan Agung Semarang tahun 2007, ada kemungkinan ada pembicaraan dengan ahli waris keluarga Dr Tendean. Kan semua saudara Piere Tendean sekarang tinggalnya di Jakarta," jelasnya.

Seluruh sudut bangunan rumah peninggalan Dr Tendean direnovasi pada tahun 2007. Taman yang asri diubah jadi tempat parkir Pastoral. Pohon beringin yang rindang sudah ditebang. Sedangkan lorong kamar yang dijadikan tempat praktik itu sudah tidak adam termasuk peninggalan lain seperti foto keluarga Dr Tendean.

"Jadi kalau hujan banjir, kita putuskan bangun ulang menjadi sebuah Kantor Pelayanan Pastoral selama tiga tahun. Pembangunannya tuntas pada 25 Juni 2009 atau telat saat HUT KAS ke-69 lalu diresmikan oleh Monsinyur Ignasius Suharyo," jelasnya.

Kantor Pelayanan Pastoral pernah ditempati oleh sejumlah lembaga yang bernaung di bawah Keuskupan Agung Semarang. Mulai dari DELSOS bidang Panitia Sosial Ekonomi, Panitia Aksi Puasa Pembangunan, Lembaga Pelayanan Bantuan Hukum, Informasi bursa lowongan kerja, WKRI, Komisi Pendidikan, Komisi Hubungan Antar Keagamaan, Komisi Kepemudaan hingga lembaga Penghubung Karya Kerasulan Kemasyarakatan KAS, komisi kepemudaan komisi ketaketik.

Kemudian sejak 1999 Kantor Pelayanan Pastoral kini ditempati oleh, Unit Pengembangan Pastoral Sosial, Unit Pengembangan Pastoral, Kemasyarakatan dan Advokasi, Panitia APP KAS, Yayasan Sosial Soegijapranata, Yayasan Bernardus, WKRI Jateng dan Majalah Salam Damai.

Sementara itu Ketua Masyarakat Sejarawan Jawa Tengah, Prof Wasino mengatakan informasi mengenai kisah kehidupan Pierre Tendean hingga saat ini sangat minim. Pihaknya juga belum melakukan penelitian untuk mengulas sosok Pierre Tendean.

"Info-info yang kita peroleh masih sedikit. Tidak banyak cerita yang dikembangkan dari sisi lain kehidupan Pierre Tendean. Sehingga kita mendorong masyarakat untuk memperdalam bacaan lewat buku-buku sejarah maupun dari arsip kuno lainnya," pungkasnya. [cob]

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Pierre Tendean
  3. Semarang
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini