Dulu Jualan Air Minum di Stasiun, Tak Disangka Akhirnya Jadi Jenderal TNI

Jumat, 27 Januari 2023 07:10 Reporter : Ramadhian Fadillah
Dulu Jualan Air Minum di Stasiun, Tak Disangka Akhirnya Jadi Jenderal TNI Try Sutrisno. ©2023 Merdeka.com

Merdeka.com - Kisah hidup Jenderal Try Sutrisno seperti dalam cerita. Siapa sangka anak kecil yang dulu menenteng kendi berjualan air minum di stasiun, di kemudian hari menjadi Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI). Bahkan menjabat wakil Presiden.

Masa kecil Try dilaluinya di Surabaya. Tahun 1945 terjadi perang mempertahankan kemerdekaan, sehingga keluarganya mengungsi ke Mojokerto.

Di kota ini, Try yang baru berusia 11 tahun ikut membantu perekonomian keluarganya yang sedang sulit. Tanpa rasa malu, dia menenteng kendi berisi air. Dengan sabar dia menjajakan air minum di Stasiun Mojokerto.

Dengan baju kumal dari bahan blacu yang panas, Try melompat dari satu gerbong satu ke gerbong lainnya.

"Setiap sore dihitungnya uang yang didapat. Koin demi koin. Sebagian diberikan pada ibunya, sebagian dipegangnya sendiri."

Demikian ditulis dalam buku Jenderal Try Sutrisno, Sosok Arek Suroboyo yang diterbitkan Disjarah tahun 2019.

Setelah menjajakan air minum, Try mulai mencoba berjualan koran. Dia kemudian mengumpulkan uang untuk berjualan rokok secara asongan. Semua dilakukan dengan senang hati.

2 dari 3 halaman

Berkenalan dengan Dunia Militer

Sekitar tahun 1948, saat beranjak remaja, Try menjadi pesuruh di markas militer TNI di Purwoasri, Kediri. Sebutannya tobang, tugasnya bantu-bantu di barak.

Aneka pekerjaan dilakukan Try. Mulai dari mencuci piring, mengangkut barang, mengelap senjata hingga menyemir sepatu bapak-bapak TNI.

Saat agresi militer Belanda II tahun yang sama Try, bertugas sebagai intel. Dia menyusup dan menyampaikan pesan untuk TNI yang masih bertahan di Kota Surabaya. Try muda juga bertugas mengantarkan obat-obatan dan memantau kekuatan Belanda.

Risiko menjadi intel TNI sangat besar. Jika ketahuan Belanda, tak jarang pelakunya langsung ditembak mati. Namun terdorong jiwa petualangannya, Try melakukan tugas itu dengan semangat.

3 dari 3 halaman

Dari Ajudan Presiden Menjadi Wakil Presiden

Masa remaja yang akrab dengan kehidupan militer itu yang mendorong Try mendaftar menjadi taruna. Dia rela meninggalkan kampus untuk menjadi seorang perwira TNI.

Try mendaftar ke Akademi Teknik Angkatan Darat (Atekad) di Bandung. Dia sempat dinyatakan gagal. Namun Komandan Atekad Brigjen TNI Djatikusumo memanggilnya kembali untuk bergabung.

Try lulus Atekad tahun 1959 dengan pangkat letnan dua korps zeni. Dia memulai karirnya sebagai komandan peleton, kompi, hingga batalyon. Try dipilih menjadi ajudan Presiden Soeharto tahun 1974.

Karirnya melesat setelah itu. Dia menjadi Kasdam Udayana, Pangdam Sriwijaya, lalu Panglima Kodam V/Jaya di Jakarta. Try diangkat menjadi Wakasad, lalu menjadi jenderal bintang empat dan memimpin TNI AD sebagai kepala staf angkatan darat.

Tak lama, Try dipromosikan menjadi Panglima ABRI menggantikan Jenderal Benny Moerdani. Tahun 1993, bocah kecil penjaja air minum di stasiun itu terpilih menjadi wakil presiden RI.

[noe]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini