Valentine si Jomblo III

Valentine si Jomblo: Hatta sang Jomblo Ideologis, Pantang Nikah sebelum Merdeka

Kamis, 13 Februari 2020 00:03 Reporter : Tantri Setyorini
Valentine si Jomblo: Hatta sang Jomblo Ideologis, Pantang Nikah sebelum Merdeka mohammad hatta. ©2015 blogspot.com

Merdeka.com - Pantang janur kuning melengkung sebelum Jepang ditelikung. Sepertinya itulah sumpah yang diikrarkan di dalam hati oleh Mohammad Hatta dan Tan Malaka. Dua tokoh nasional ini bernazar tak bakal menikah sebelum Indonesia bebas sepenuhnya dari penjajahan.

"Ia (Tan Malaka) tidak kawin karena perkawinan akan membelokkannya dari perjuangan," kata SK Trimurti yang menjalin hubungan baik dengan Tan Malaka saat yang bersangkutan tinggal di rumah Soebardjo pasca proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Sementara itu, Hatta tetap melajang hingga usianya lewat 40 tahun demi dedikasinya untuk perjuangan. "Bung Hatta sadar apa yang sedang dia prioritaskan," kata Halida Hatta, putri bungsu Bung Hatta seperti dilansir Historia.

1 dari 3 halaman

Berjuang Nomor Satu, Naik Pelaminan Urusan Nanti

Koleksi pribadi keluarga

Mohammad Hatta, salah satu proklamator kemerdekaan Indonesia memutuskan untuk memberi dedikasi penuh terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia. Waktunya dihabiskan untuk belajar dan mencari cara memerdekakan nusantara.

Hatta berjanji dia bakal melepas masa lajang hanya setelah Indonesia merdeka. Tak sedikit sanak saudara mencoba mengubah pendiriannya, sebab usianya tak lagi muda. Namun Hatta tetap kukuh dengan pendiriannya. Hingga usianya menginjak angka 43 tahun, Hatta masih betah tanpa pendamping.

2 dari 3 halaman

Jodoh Belia Hasil Comblang Bung Karno

Mohammad Hatta, Hati Nurani Bangsa

Setelah Indonesia menyatakan merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945, Bung Karno langsung menagih janji sahabatnya. Tak tanggung-tanggung, Bung Karno sendiri yang berinisiatif mencarikan jodoh buat Hatta.

Bung Karno memilihkan Siti Rahmiati, anak dari keluarga Abdul Rachim yang memang dekat dengan dirinya dan Hatta. Usia gadis berdarah Aceh itu baru 19 tahun. Dia bahkan memanggil Hatta dan Soekarno dengan sebutan Om. Ketika ditanya Soekarno mengenai perasaannya kepada gadis belia itu, Hatta hanya diam.

Soekarno tak menyerah dengan diamnya sang sahabat. Bersama R. Soeharto dia bertandang ke rumah keluarga Abdul Rachim. Tanpa banyak basa-basi, Soekarno menyampaikan maksud kedatangannya. Meminang Rahmi untuk diperistri Hatta.

Ny. Rachim jelas kaget, karena usia Hatta yang dipanggilnya Mas dan sang putri terpaut 24 tahun. Namun disampaikannya juga pinangan tersebut kepada Rahmi.

Jawaban Rahmi setali tiga uang dengan Hatta, diam seribu bahasa. Gadis yang biasa dipanggil Yuke itu juga mengaku ragu jika harus mendampingi seorang Mohammad Hatta. Namun akhirnya jadi juga mereka kawin.

3 dari 3 halaman

Mas Kawin Buku Filsafat Karangan Sendiri

Koleksi pribadi keluarga

Tiga bulan setelah kemerdekaan Indonesia, tepatnya tanggal 18 November 1945, Mohammad Hatta dan Rahmi melangsungkan pernikahan. Prosesi dilangsungkan di Megamendung, Bogor.

Upacara pernikahan digelar secara sederhana. Mungkin hanya sekitar tiga puluh orang yang hadir. Bung Karno sebagai comblang tentu saja hadir, kala itu bersama Fatmawati.

Uniknya, Hatta memberikan buku filsafat sebagai mas kawin untuk istrinya. Buku berjudul Alam Pikiran Yunani itu merupakan buah karyanya sendiri. [tsr]

Baca juga:
Valentine si Jomblo: Mengenal Black Day, Perayaan Valentine-nya Kaum Single di Korea

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini