8 Penyebab Gorong-Gorong Jadi Sarang Ular Sanca, Jadi Antisipasi dan Peningkatan Kewaspadaan

Temukan 8 penyebab gorong-gorong menjadi sarang ular sanca, sempat viral di wilayah Sukabumi, Jawa Barat.

Nurul Diva
Oleh Nurul Diva - Reporter
8 Penyebab Gorong-Gorong Jadi Sarang Ular Sanca, Jadi Antisipasi dan Peningkatan Kewaspadaan
Ilustrasi Ular (/Photo by Kseniia Stepanenko 🇺🇦 on Unsplash)

Fenomena munculnya ular sanca di kawasan perkotaan menarik perhatian publik. Baru-baru ini, insiden ini menghebohkan masyarakat dan menjadi viral di media sosial setelah puluhan anak ular ditemukan di gorong-gorong yang terletak di depan Kantor Dinas Pariwisata Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, pada Selasa (9/12). Kejadian ini berawal ketika seorang warga yang sedang mengejar biawak menemukan ular-ular tersebut di saluran air. Setelah laporan diterima, pihak Pemadam Kebakaran (Damkar) segera menuju lokasi untuk melakukan evakuasi dengan sangat hati-hati.

Gorong-gorong sebenarnya merupakan salah satu area yang memiliki potensi tinggi untuk dihuni oleh ular. Hal ini disebabkan oleh sifat tempat tersebut yang cenderung tertutup dan lembap, yang sangat cocok sebagai habitat bagi hewan melata. Namun, masalahnya adalah gorong-gorong merupakan infrastruktur yang berdekatan dengan pemukiman warga, sehingga kehadiran reptil liar seperti ular dapat menimbulkan risiko serangan saat terjadi interaksi yang tidak diinginkan. Lalu, apa sebenarnya penyebab utama ular memilih untuk tinggal di gorong-gorong maupun tempat serupa? Berikut ini, merdeka.com merangkum delapan akar permasalahan sebagai langkah antisipasi dan peningkatan kewaspadaan.

1. Hilangnya Habitat Alami

Ular sanca gegerkan warga Sukabumi.
Ular sanca gegerkan warga Sukabumi. (Liputan6.com/Fira Syahrin)

Urbanisasi yang berlangsung dengan cepat mengakibatkan berkurangnya habitat alami ular sanca. Dulu, hutan dan area hijau yang menjadi tempat tinggal mereka kini telah banyak beralih fungsi menjadi permukiman atau lahan komersial. Menurut Snake Removal Nationwide Service, sebuah situs penanganan ular di Amerika Serikat, kondisi ini memaksa ular sanca untuk mencari lokasi baru yang dapat mendukung kelangsungan hidup mereka. Situs tersebut juga menyatakan bahwa ular cenderung memilih area yang memudahkan mereka untuk bergerak, seperti gorong-gorong atau saluran pipa yang pipih, gelap, dan minim jangkauan manusia.

Gorong-gorong menjadi pilihan utama karena menyediakan perlindungan dan menghindarkan mereka dari paparan cahaya. Pembangunan yang masif ini menimbulkan tekanan bagi satwa liar, termasuk ular sanca. Ular yang sebelumnya hidup dalam ekosistem yang seimbang kini harus beradaptasi dengan lingkungan perkotaan yang baru. Dengan struktur yang mirip liang, gorong-gorong berfungsi sebagai solusi sementara bagi ular sanca yang telah kehilangan rumah mereka.

2. Pencarian Sumber Makanan

Gorong-gorong sering kali menjadi tempat yang menarik bagi ular sanca karena terdapat sumber makanan yang melimpah. Di lingkungan perkotaan, populasi hewan pengerat seperti tikus sangat banyak, dan ini menjadi mangsa utama bagi ular sanca. Keberadaan tikus di dalam gorong-gorong menarik perhatian ular, yang merupakan predator penyergap. Kondisi gorong-gorong yang gelap dan tersembunyi memberikan kesempatan ideal bagi ular untuk menunggu dan menyerang mangsanya.

Selain tikus, gorong-gorong juga dapat menjadi tempat berkumpulnya hewan lain yang menjadi sasaran ular, seperti katak atau serangga besar. Oleh karena itu, gorong-gorong berfungsi sebagai area berburu yang efisien bagi ular sanca. Keberadaan berbagai jenis mangsa di dalam gorong-gorong menciptakan ekosistem mikro yang mendukung kelangsungan hidup ular sanca. Dengan demikian, dapat dipahami mengapa ular sanca sering dijumpai di lokasi tersebut, mengingat ketersediaan makanan yang melimpah.

3. Tempat Berlindung dan Persembunyian

Ilustrasi ular sanca
Ilustrasi ular sanca /credit: Pexels/Diego

Gorong-gorong berfungsi sebagai tempat perlindungan yang aman bagi ular sanca dari ancaman predator dan gangguan manusia. Dengan struktur yang gelap dan sulit dijangkau, gorong-gorong memberikan rasa aman bagi ular untuk beristirahat, yang sangat penting bagi hewan yang memerlukan privasi untuk mencerna makanan mereka.

Selain itu, gorong-gorong juga menjadi tempat persembunyian yang baik dari kondisi cuaca ekstrem. Ketika hujan deras, ular dapat berlindung di dalam gorong-gorong untuk menjaga suhu tubuh mereka agar tetap stabil. Lingkungan yang terjaga di dalam gorong-gorong membantu ular dalam mengatur proses metabolisme mereka dengan lebih baik.

Ular sanca memerlukan lokasi yang tenang untuk melakukan proses berganti kulit atau bertelur. Dalam hal ini, gorong-gorong yang terisolasi menjadi tempat yang ideal untuk aktivitas biologis yang sangat penting tersebut. Dengan demikian, keberadaan gorong-gorong di lingkungan perkotaan secara tidak langsung memberikan fasilitas yang vital bagi siklus hidup ular sanca.

4. Kondisi Suhu dan Kelembapan yang Sesuai

Ular sanca merupakan hewan berdarah dingin yang memanfaatkan suhu lingkungan untuk mengatur suhu tubuhnya. Gorong-gorong sering kali menyediakan kondisi suhu dan kelembapan yang stabil, yang sangat dibutuhkan oleh ular. Ketika cuaca menjadi panas, gorong-gorong dapat memberikan suasana yang lebih sejuk, sementara saat cuaca dingin, tempat tersebut menjadi lebih hangat. Di musim hujan, ketika habitat alami ular terendam air, gorong-gorong menawarkan tempat yang lebih kering dan hangat. Ular cenderung mencari perlindungan dari air dan kelembapan yang berlebihan di luar. Perubahan suhu dan kelembapan yang terjadi selama musim hujan mendorong ular untuk mencari tempat yang lebih nyaman untuk beristirahat.

Kehangatan yang dihasilkan dari perangkat elektronik di sekitar gorong-gorong juga dapat menarik perhatian ular. Misalnya, area di bawah kulkas atau mesin cuci yang memproduksi panas sering kali menjadi tempat persembunyian yang disukai oleh ular. Gorong-gorong yang terletak dekat dengan sumber panas buatan menjadi pilihan utama bagi ular untuk menghangatkan diri. Dengan demikian, keberadaan ular sanca di sekitar gorong-gorong sangat dipengaruhi oleh kondisi suhu dan kelembapan, serta sumber panas yang ada di sekitarnya.

5. Musim Kawin dan Bertelur

Musim kawin ular sanca terjadi antara bulan September hingga Maret. Pada periode ini, ular menjadi lebih aktif dalam mencari pasangan dan tempat yang tepat untuk bertelur. Penurunan panjang siang hari dan suhu udara yang lebih dingin menjadi pemicu bagi ular untuk memasuki fase kawin. Ular betina pun mulai mencari tempat yang ideal untuk meletakkan telurnya.

Gorong-gorong yang gelap dan lembap merupakan lokasi yang sangat cocok bagi ular sanca betina untuk bertelur. Dalam proses ini, ular betina akan melingkari telur-telurnya guna menjaga suhu serta melindungi dari ancaman predator. Lingkungan yang stabil di dalam gorong-gorong sangat mendukung proses inkubasi telur tersebut. Penemuan puluhan anak ular sanca di gorong-gorong di Sukabumi membuktikan bahwa tempat ini telah digunakan sebagai sarang untuk bertelur.

Musim hujan sering kali bertepatan dengan waktu menetasnya telur ular, sehingga anak-anak ular dapat menyebar ke berbagai tempat setelah menetas. Hal ini menunjukkan bahwa siklus hidup ular sanca sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dan waktu. Dengan demikian, keberadaan gorong-gorong menjadi sangat penting bagi kelangsungan hidup ular sanca di alam liar.

6. Akses Mudah ke Struktur Gorong-Gorong

Gorong-gorong dirancang dengan bukaan yang mudah diakses oleh ular, baik dari permukaan maupun saluran air lainnya. Desain infrastruktur kota yang tidak memperhatikan pergerakan satwa liar menciptakan jalur masuk bagi ular. Celah atau lubang yang ada pada gorong-gorong berfungsi sebagai pintu masuk yang memungkinkan. Ular sanca, dengan tubuhnya yang fleksibel, mampu menyelinap melalui celah sempit. Kemampuan ini membuat mereka dapat masuk ke gorong-gorong yang mungkin tidak bisa diakses oleh hewan lain. Begitu mereka masuk, struktur gorong-gorong yang panjang dan berkelok-kelok menjelma menjadi labirin yang aman bagi mereka.

Konektivitas antar sistem gorong-gorong yang berada di bawah tanah juga memiliki peranan penting. Satu gorong-gorong dapat terhubung dengan gorong-gorong lainnya, sehingga menciptakan jaringan luas yang dapat dijelajahi oleh ular. Jaringan ini memberikan kemudahan bagi ular untuk berpindah dari satu area ke area lain tanpa terlihat oleh manusia. Dengan demikian, gorong-gorong tidak hanya berfungsi sebagai saluran air, tetapi juga sebagai habitat yang mendukung kehidupan ular sanca di lingkungan perkotaan.

7. Kurangnya Penerangan di Sekitar Gorong-Gorong

Ilustrasi Ular
Ilustrasi Ular /Photo by Kseniia Stepanenko 🇺🇦 on Unsplash

Gorong-gorong yang gelap karena minim penerangan malam hari menjadi tempat ideal bagi ular sanca untuk beraktivitas atau bersembunyi. Ular cenderung menghindari area terang karena merasa terancam.

Penerangan yang minim juga memudahkan ular untuk berburu tikus atau hewan kecil lainnya tanpa terlihat manusia.Memasang lampu di sekitar gorong-gorong atau area yang rawan dapat membantu mengurangi aktivitas ular dan mencegah mereka bersarang.

8. Perubahan Iklim dan Cuaca Ekstrem

Perubahan iklim global berdampak pada ketidakpastian dan ekstremitas pola cuaca. Hal ini memengaruhi habitat alami ular, sehingga mereka cenderung mencari tempat berlindung yang lebih aman. Ular sanca, khususnya, sangat peka terhadap perubahan suhu. Ketika banjir terjadi, habitat alami ular akan terendam, memaksa mereka untuk mencari lokasi yang lebih tinggi dan kering. Dalam situasi ini, gorong-gorong yang biasanya terletak di atas permukaan air banjir menjadi pilihan yang lebih aman bagi mereka. Ular juga dapat terjebak dalam arus banjir yang mengalir dari habitat asalnya.

Musim hujan yang berkepanjangan dapat meningkatkan kelembapan tanah, yang pada gilirannya memicu penetasan telur ular. Setelah menetas, anak-anak ular akan menyebar untuk mencari tempat yang aman serta makanan. Proses ini dapat dipercepat oleh perubahan iklim, yang meningkatkan frekuensi kemunculan ular di daerah permukiman. Dengan meningkatnya interaksi antara ular dan manusia, penting bagi kita untuk memahami dampak perubahan iklim terhadap perilaku ular dan habitat mereka. Kesadaran ini dapat membantu kita dalam mengelola lingkungan dan menjaga keseimbangan ekosistem.

Rekomendasi