Nila Tanzil sosok berdedikasi di balik Taman Bacaan Pelangi

Minggu, 7 September 2014 10:36 Reporter : Tim Merdeka
Nila Tanzil sosok berdedikasi di balik Taman Bacaan Pelangi Taman Bacaan Pelangi. ©2014 tamanbacaanpelangi.com

Merdeka.com - Siapa yang sangka, di balik sosok mungil seorang Nila Tanzil, tersimpan jiwa tangguh yang penuh dedikasi untuk aksi pencerdasan anak bangsa melalui taman baca yang ia dirikan pada Desember 2009, Taman Bacaan Pelangi. perempuan yang tengah menunggu kelahiran anak pertamanya ini mengaku mendapat ide untuk membangun sebuah taman baca melalui hobi travellingnya. Berawal dari keputusannya menerima tawaran menjadi seorang konsultan komunikasi di Nature Conservancy Taman Nasional Komodo, Flores, pada Juli 2009, Nila mendapat kesempatan untuk tinggal dalam waktu yang cukup lama di sana. Salah satu alasan perempuan pecinta olahraga diving ini mengambil tawaran tersebut ialah karena ia punya banyak kesempatan untuk menjelajahi lautan yang memiliki keanekaragaman bawah laut terlengkap di seluruh dunia jika tinggal di Labuan Bajo, Pulau Komodo.

Berawal dari pekerjaan itu, Nila mulai kerap berinteraksi dengan penduduk lokal, terutama saat rehat dari jam kerjanya. Di sinilah ia menyaksikan ironi yang terjadi pada dunia pendidikan negeri ini. "Di sana tuh gak ada kios-kios buku gitu, apalagi toko buku besar. Anak-anak di sana lebih sering cari kayu bakar sepulang sekolah. Budaya membaca benar-benar belum ada di sana," ujarnya dalam wawancara dengan merdeka.com (19/9). Melihat kondisi tersebut, perempuan yang sekarang masih aktif sebagai konsultan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ini berinisiatif mendirikan sebuah taman baca.

Berkaca dari pengalamannya di masa kecil yang gemar membaca buku-buku cerita seperti Tintin, Donald Bebek dan Bobo, Nila merasa ingin membagi pengalaman masa kecilnya tersebut kepada anak-anak di daerah Labuan Bajo. Menurutnya, setiap anak-anak harus memiliki impian yang akan mereka wujudkan di masa mendatang. Kemudahan akses buku bacaan berkualitas tentunya akan dapat menunjang mereka untuk tidak lagi takut bermimpi. Selain itu, meningkatkan minat baca bagi generasi muda penerus bangsa juga merupakan visi yang diemban Nila bersama puluhan teman-teman relawan Taman Bacaan Pelangi.

Menginjak umurnya yang kelima, Taman Bacaan Pelangi telah ada di 28 tempat yang tersebar di 14 pulau di daerah timur Indonesia, yang terbaru dibangun di kota Mulia, Puncak Jaya, Papua. Fokus taman bacaan ini diakui oleh Nila memang masih di daerah pelosok Indonesia timur karena memang fasilitas dan akses terhadap bukunya yang sangat tidak memadai. Bukan tanpa kendala, Nila mengakui harus menghadapi banyak tantangan sulit ketika awal mendirikan taman bacaan ini.

"Mengubah paradigma orang tua-orang tua di sana bahwa hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan seperti membaca, menulis, dan sebagainya gak harus dilakukan di sekolah tapi juga bisa dilakukan di rumah itu cukup sulit. Maka dari itu, kita sempat agak sulit mencari tempat untuk pendirian taman baca di awal-awal, karena ada beberapa kepala sekolah yang lebih milih untuk menambah koleksi buku di perpustakaan sekolah, ujarnya.

Namun, perempuan yang masih aktif menulis di kolom Market Plus dan Rappler.com ini mengaku tidak pernah patah semangat dalam memperjuangkan hak anak-anak pelosok timur Indonesia ini terhadap kemudahan akses buku-buku berkualitas. Ia mengaku kegembiraan dan antusiasme yang terpancar dari wajah anak-anak tersebut ketika pertama kali mendatangi taman bacaan yang terletak di daerahnya selalu bisa menjadi suntikan semangat bagi dirinya untuk terus mengembangkan Taman Bacaan Pelangi, sampai di seluruh daerah pelosok.

Selain itu, Nila yang sedang dalam proses penyelesaian bukunya yang bercerita tentang Taman Bacaan Pelangi ini juga berujar ada yang berubah pada dirinya setelah aktif selama kurang lebih 5 tahun mengurusi taman bacaan. "Aku jadi nggak boros sekarang," candanya. "Tiap mau belanja tuh jadi agak-agak feeling guilty gimana gitu sekarang. Aduh, uang segini kalo dibeliin buku bisa dapet banyak banget pasti," tambahnya lagi.

Berkaitan dengan program Merdeka Berbagi yang menjual barang pribadi beberapa selebriti Indonesia kepada masyarakat yang total hasil penjualannya disalurkan kepada Taman Bacaan Pelangi, Nila Tanzil merasa sangat berterima kasih. "Taman Bacaan Pelangi berterima kasih sekali kepada merdeka.com dan Berniaga.com atas program Merdeka Berbagi ini karena dengan support seperti ini kita bisa terus berkembang," ujarnya.

Berkat dedikasi besarnya terhadap usaha peningkatan minat baca dan pembukaan akses anak-anak daerah pelosok terhadap buku-buku berkualitas lewat Taman Bacaan Pelangi yang telah berjalan selama 5 tahun, Nila Tanzil selaku pendiri dari organisasi nirlaba ini pun dianugerahi penghargaan sebagai Kartini Next Generation pada tahun 2013 dalam bidang pembangunan masyarakat oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika serta Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak sebagai penyelenggara ajang tersebut. [hwa]

Topik berita Terkait:
  1. Merdeka Berbagi
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini