5 Makanan ini punya perbedaan bentuk signifikan sebelum diolah!
Merdeka.com - Ketika Anda memakan sekotak cokelat, menyesap secangkir kopi, atau ngemil sekantong kacang mete yang gurih, pernahkah Anda bertanya-tanya akan asal-usul dari makanan-makanan tersebut? Tentu tak banyak dari kita mengetahui bagaimana pertama kali bahan dasar dari makanan tersebut dipanen, diolah, dan diproses sedemikian rupa sehingga menjadi konsumsi kita sehari-hari.
Menariknya, tak semua produk makanan punya bahan dasar yang 'indah.' Bahan tersebut justru terlihat sangat berbeda dengan bentuk akhirnya yang jadi konsumsi kita sehari-hari. Bahkan asumsi kita terhadap makanan tersebut jauh dari fakta yang prosesnya tidak kita ketahui. Faktanya, banyak sekali bahan makanan yang diperoleh justru di alam liar.
Kehidupan kita di tengah-tengah masyarakat modern, tentu jauh dari apa yang kita ketahui tentang asal mula berbagai makanan dan bagaimana cara mengolahnya. Untuk mengetahuinya saja, kita bisa sedikit mengingat tentang seberapa terpisahnya kita dengan alam, dan betapa kita bergantung pada persediaan makanan yang telah melimpah.
Berikut beberapa makanan yang populer untuk kita konsumsi, yang terlihat sangat berbeda ketika bahan makanan tersebut dipanen dan diolah.
Kacang mete
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comKita seringkali menikmati kacang mete sebagai kudapan asin ataupun manis. Seringkali juga mete adalah pelengkap makanan ataupun kue. Namun untuk menyebutnya kacang, ternyata tidak benar secara teknis.
Mete bukanlah kacang secara botanikal, karena bagian yang kita kenal sebagai mete sebenarnya adalah sebuah biji yang menggantung dari buah jambu monyet atau jambu mete. Di negara kita daging jambu monyet seringkali kita nikmati sebagai buah segar. Di beberapa negara lain daging buah jambu monyet juga difermentasikan menjadi alkohol.
Dari bentuk, memang biji yang menggantung tersebut sudah terlihat seperti kacang mete yang sering kita kudap. Namun dalam proses pengolahannya, 'cangkang' luar dari biji tersebut harus dibuang, karena mengandung senyawa kimia yang dapat menyebabkan keracunan jika dikonsumsi. Semua kacang mete berasal dari buah ini, jadi tak pernah ada kacang mete yang tak dikupas dulu cangkangnya, sebelum di konsumsi.


Almond
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comSeperti mete, almond juga seringkali jadi pelengkap kue atau makanan, yang juga nikmat sebagai kudapan langsung. Namun sama seperti mete pula, almond secara teknis juga bukanlah kacang-kacangan.
Almond tumbuh dari pohon berbunga yang menghasilkan buah berbiji, atau dikenal dengan 'drupe.' Buah persik, ceri, aprikot, zaitun, dan beberapa buah yang lain adalah berbagai macam buah yang digolongkan sebagai drupe. Dan almond sendiri, mempunyai bunga yang indah, bahkan kita tak akan menyangka bahwa biji yang berada satu tangkai dengan bunga tersebut ternyata bisa dikonsumsi.

Almond sendiri merupakan biji dari buah almond. Pada awalnya, buah almond hanya sebuah buah kecil berwarna hijau yang tak terlihat tak bisa dikonsumsi. Bagian terluar dari buah ini memang sangat mudah untuk dikupas menggunakan tangan. Namun setelah itu, Anda akan menemukan bagian cangkang yang lebih keras lagi. Bahkan, butuh sebuah palu untuk memecahkan biji tersebut.
Cokelat
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comTak ada yang pernah menolak manisnya cokelat di berbagai macam kudapan, minuman, kue, es krim, serta masakan. Namun serupa dengan 'rasa-rasa' yang lain, cokelat ternyata berasal dari buah-buahan. Yap, cokelat sebenarnya adalah buah.

Sebuah pohon cokelat akan memproduksi buah yang berukuran cukup besar, dengan warna bervariasi dari hijau, merah, hingga ungu, tergantung dari jenis apa cokelat tersebut. Ketika buah tersebut matang, buah akan berubah menjadi berwarna kuning atau jingga. Di momen tersebut, buah sudah siap dipanen.
Jika buah tersebut dibuka, Anda masih belum akan melihat warna cokelat ataupun bentuk-bentuk cokelat. Bahkan proses tersebut sepertinya masih jauh. Kita masih harus membuang kulit terluar dari buahnya untuk membuka bijinya, yang nantinya akan diolah menjadi cokelat. Nantinya biji ini masih akan difermentasi selama beberapa hari, agar biji cokelat berasa lebih manis dan tidak pahit.

Biji inilah yang dikirim ke berbagai pabrik, di mana nantinya akan dijadikan bubuk cokelat. Untuk pemrosesannya, bubuk cokelat ini harus dicampur dengan susu, lemak, serta gula, untuk akhirnya menjadi cokelat batangan yang sering kita konsumsi untuk memperbaiki suasana hati.
Asparagus
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comSering kita temui di hidangan sup, asparagus sering kita golongkan sebagai sayuran 'mewah' dengan rasa gurih dan tekstur unik. Meski nampak mewah, asparagus sebenarnya tidak terlalu muluk-muluk dalam hal penanaman. Tanah gembur dan hawa sejuk bisa menumbuhkan asparagus yang berkualitas tanpa perlu perawatan berarti.
Untuk penanaman di daerah tropis seperti Indonesia, butuh waktu kurang dari 12 bulan untuk menanam tanaman ini hingga bisa dipanen. Berbeda dengan di negara 4 musim yang butuh hingga 2 tahun untuk menanamnya. Menariknya, asparagus pun bukan tanaman yang rewel dan tak butuh perawatan. Hama pun tak tertarik untuk menyerang tanaman ini.
Meski kita tak perlu banyak-banyak merawat, kita pun tak boleh terlalu lama untuk memanennya, karena makin lama ia tumbuh, batangnya akan makin mengeras dan menjadi layaknya batang pohon biasa.


Kopi
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comDi coffee shop, seringkali menu minuman kopi bersanding dengan minuman cokelat. Secara asal-usul pun, mereka sebenarnya juga hampir mirip, yakni sama-sama merupakan biji dari buah.
Minuman yang pertama kali dikenal di daratan Ethiopia dan diperkenalkan ke dunia luar oleh bangsa Arab ini, tumbuh di sebuah pohon yang tinggi dan berbuah layaknya ceri. Dari sebuah 'buah' untuk menjadi minuman kopi, ada banyak sekali proses yang harus dilalui.
Setelah panen, biji kopi harus disortir berdasarkan buah berpenyakit atau cacat, serta buah yang bagus, guna membedakan mana saja biji kopi yang berkualitas. Setelah itu buah dikupas dan mengeluarkan biji kopi. Dalam setiap buah ada dua buah biji kopi yang masih berwarna hijau. Biji ini harus difermentasi dengan merendamnya dalam air atau ditutup dengan karung basah, selama beberapa hari.

Asal mula kopi ©2016 Merdeka.com
Setelah fermentasi, proses pengeringan dibutuhkan agar kadar air dalam biji hanya ada 12 persen saja. Hal ini dilakukan agar kopi tak mudah berjamur dan berubah rasa secara tidak stabil. Setelah melalui sortir tahap akhir, barulah biji kopi bisa dikemas hingga sampai ke meja coffee shop tempat kita nongkrong. Tentu dari banyak proses tersebut banyak sekali perubahan yang terjadi dari buah hingga menjadi minuman yang menjaga kita 'melek' tiap begadang.
(mdk/idc)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya