WNI di Kapal Pesiar Jepang Kecewa, Rencana Proses Evakuasi Makan Waktu 34 Hari
Merdeka.com - Warga negara Indonesia (WNI) yang berada di atas kapal pesiar Diamond Princess tengah menunggu evakuasi dari pemerintah. Pemerintah mengatakan jika salah satu opsinya adalah melalui jalur laut.
Dikutip dari laman ABC Indonesia pada Sabtu (22/2), meski menyambut rencana evakuasi itu, sejumlah WNI di Kapal Diamond Princess mengaku 'kecewa'. Sebab, opsi melalui jalur laut dinilai membutuhkan waktu lebih lama untuk sampai Indonesia.
Sejauh ini empat kru kapal pesiar Diamond Princess asal Indonesia telah dinyatakan terinfeksi virus corona (Covid-19).
Evakuasi lewat jalur laut rencananya akan menggunakan kapal medis milik Angkatan Laut, KRI DR Soeharso, yang saat ini bertempat di dermaga Komando Armada Dua (Koarmada II) Surabaya, Jawa Timur.
Kamis (20/2) malam, Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, dan KSAL Laksamana TNI Siwi Sukma Adji telah menggelar rapat koordinasi, sekaligus mendengarkan pemaparan kesiapan KRI Dr Soeharso untuk mengevakuasi WNI yang berada di Kapal Diamond Princess.
Proses Evakuasi Memakan Waktu 34 Hari
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comDalam penjelasannya, perkiraan perjalanan dari Surabaya ke Yokohama di Jepang melalui perairan Davao (Filipina) akan memakan waktu hingga 11 hari.
Setelah itu, perjalanan dari Yokohama ke Surabaya melalui perairan Ranai, Natuna, diprediksi akan memakan waktu sekitar 15 hari.
Dari perkiraan waktu perjalanan, waktu singgah di tiap pelabuhan, serta upaya evakuasi akan memakan waktu total sekitar 34 hari.
Selain melaporkan kesiapan KRI Dr Soeharso, rapat itu juga menjelaskan proses evakuasi yang akan melibatkan 153 awak kapal, termasuk personel petugas kesehatan.
Pilihan menggunakan KRI Dr Soeharso menjadi skenario pertama pemulangan kru kapal asal Indonesia dari kapal Diamond Princess.
Hampir Putus Asa
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comMeski menyambut baik pilihan evakuasi ke Indonesia, perjalanan laut ini tetap dipertanyakan oleh kru kapal asal Indonesia."Kami memang upset karena mendengar di berita katanya mau dijemput dengan kapal medis, dan penjemputannya (dari Indonesia ke Jepang) itu lama, 14 hari. (Dengan jangka waktu selama itu), sama saja dengan kita dikarantina di sini dong. Jika sudah selesai dikarantina di sini, sebenarnya kita juga akan diberi free tiket pesawat dari perusahaan," kata Sasa, salah satu kru kapal pesiar asal Indonesia."Bayangkan, kita di sini bakal dikarantina 14 hari, kalau misalnya bakal dijemput pakai kapal, berarti nanti (bertambah) 14 hari lagi," kata Sasa."Memang (dipulangkan dengan kapal) belum pasti juga sih, tapi (kami) hampir putus harapan untuk bisa dipulangkan lebih awal."
Rutin Cek Kesehatan
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comSementara itu, pemeriksaan kesehatan terhadap awak kapal sudah mulai dilakukan secara bertahap sejak Kamis (20/2). "Kemarin sore sebagian sudah mulai dicek kesehatannya. Saya baru dapat giliran siang ini," kata Sasa."Di tesnya di tenggorokan, menggunakan alat seperti cotton bud yang besar dan dimasukkan ke tenggorokan," jelasnya."Kemudian diambil air liur dan lendir di tenggorokan."Meski begitu, Sasa tetap bekerja seperti biasa, lebih dari 10 jam sehari, karena sebagian besar penumpang baru pulang pada Jumat (21/2). "Sasa masih bekerja seperti biasa. Setelah ini kembali kerja lagi."
Meski Dikarantina, Virus Tetap Ada
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comSementara itu, dua penumpang asal Australia yang baru saja dipulangkan dari kapal Diamond Princess dikonfirmasi positif terjangkit Covid-19 setelah dites.Warga Australia lainnya, Trevor Overton, yang juga baru dievakuasi dari kapal pesiar dan sedang dikarantina, mengaku tidak kaget mendengar kabar penumpang yang terinfeksi corona."Ketika kami berada di kapal, kami melihat banyak penumpang yang tidak mengikuti instruksi, misalnya, tidak mengenakan masker dan merokok. Sangat sulit untuk mengendalikan atau memantau 3.800 orang di atas kapal."Meski status karantina di kapal pesiar diberlakukan dua minggu sejak 4 Februari lalu, jumlah orang yang didiagnosa teruslah bertambah.Profesor Satoshi Hori dari Pengawasan Infeksi di Universitas Juntendo, Tokyo, mengatakan adanya kasus-kasus baru tidak menandakan proses karantina telah gagal. "Saya yakin tes hanya dilakukan bertahap, karenanya kasus-kasus baru dilaporkan," ujarnya.Namun sebuah institut penyakit menular di Australia mempertanyakan alasan kapal pesiar ditutup dan penumpangnya dilarang berpergian."Akan lebih baik jika mereka turun dari kapal sejak awal dan dikarantina dengan diisolasi di lingkungan yang layak," kata Professor Ian Mackay.ABC news juga menemukan bahwa pihak otoritas kesehatan di Jepang saat itu tidak melakukan tes kepada semua orang di kapal pesiar.Fasilitas pemerintah hanya dapat melakukan tes 300 sampel setiap harinya, sehingga akan sulit dengan total 3.600 orang yang berada di atas kapal.Dua penumpang, berusia 80 tahun, meninggal akibat Covid-19, seperti yang dilaporkan media Jepang NHK. Badan Kesehatan Dunia, WHO, mengatakan lebih dari setengah kasus Covid-19 di luar China terjadi di kapal pesiar Diamond Princess.Reporter Magang : Roy RidhoSumber : Liputan6.com
(mdk/bim)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya