Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt baru saja melahirkan putrinya. Momen tersebut tidak luput dari sorotan Iran.
Melalui Kedutaan Besar Iran di Yerevan, Armenia mengucapkan selamat atas kelahiran putri Leavitt, Sabtu (9/5). Namun, mereka juga mengingatkannya untuk memikirkan para ibu yang kehilangan anak-anak mereka akibat serangan di Minab.
"Selamat untuk Anda. Anak-anak itu polos dan menggemaskan. Ke-168 anak yang dibunuh oleh atasan Anda di sekolah di Minab dan yang tindakannya Anda benarkan juga adalah anak-anak. Saat Anda mencium bayi Anda, ingatlah para ibu dari anak-anak tersebut," demikian bunyi pernyataan Kedubes Iran di media sosial X.
Pernyataan tersebut merupakan balasan atas unggahan Leavitt pada tanggal 7 Mei yang mengumumkan kelahiran putrinya, Viviana, atau yang akrab disapa 'Vivi'.
Dalam unggahannya, Leavitt mengekspresikan kebahagiaannya, "Pada 1 Mei, Viviana atau yang kami panggil 'Vivi' hadir melengkapi keluarga kami, dan hati kami langsung dipenuhi luapan cinta. Ia lahir dengan sempurna dan sehat, dan kakak laki-lakinya pun dengan gembira mulai menyesuaikan diri dengan kehadiran adik bayinya. Kami menikmati setiap momen indah dalam kebahagiaan menyambut anggota keluarga baru ini. Terima kasih kepada semua orang yang telah mengirimkan doa selama masa kehamilan saya saya benar-benar merasakan dukungan itu sepanjang perjalanan ini. Tuhan sungguh baik."
Serangan di Minab terjadi pada 28 Februari 2026 di Sekolah Dasar khusus perempuan Shajareh Tayyebeh, Minab, Provinsi Hormozgan, Iran selatan. Pada hari pertama operasi militer gabungan AS dan Israel, militer AS meluncurkan serangan rudal jelajah Tomahawk yang menghancurkan gedung sekolah tersebut.
Serangan itu menyebabkan 168 orang tewas, termasuk guru dan staf sekolah. Di awal Maret, Leavitt membela posisi AS dengan menyatakan bahwa negara tersebut tidak menargetkan warga sipil.
"Departemen Perang sedang menyelidiki masalah ini," ungkap Leavitt pada saat itu.
"Dan saya ingin menegaskan dengan sangat jelas bahwa AS tidak menargetkan warga sipil, berbeda dengan rezim Iran yang menyimpang, yang menargetkan warga sipil, membunuh anak-anak, telah menewaskan ribuan rakyatnya sendiri dalam beberapa pekan terakhir, serta sangat efektif menggunakan propaganda. Dan sayangnya, banyak orang di ruangan ini telah termakan propaganda tersebut."
Presiden AS Donald Trump bahkan sempat menyatakan bahwa Iran mungkin bertanggung jawab atas tragedi ini. Pernyataan tersebut menunjukkan kompleksitas dan ketegangan yang ada dalam situasi ini, serta bagaimana peristiwa tragis seperti serangan di Minab dapat memicu reaksi yang beragam dari berbagai pihak.