Twitter, Facebook Tuding China Galang Kampanye Mencela Demonstran Hong Kong

Selasa, 20 Agustus 2019 19:05 Reporter : Merdeka
Twitter, Facebook Tuding China Galang Kampanye Mencela Demonstran Hong Kong Aksi demo di Hong Kong. ©AFP/HECTOR RETAMAL

Merdeka.com - Jejaring sosial Twitter dan Facebook menuding pemerintah China turut mendukung kampanye media sosial untuk mencela gerakan pro-demokrasi Hong Kong dan menebar perselisihan politik di kota itu.

Dilansir dari laman AFP, Selasa (20/8), kedua perusahaan raksasa teknologi Amerika itu mengumumkan pada Senin kemarin mereka telah menutup hampir 1.000 akun pengguna aktif yang terkait dengan kampanye mencela demonstran Hong Kong, sementara Twitter mengatakan telah menonaktifkan 200.000 lebih akun.

"Akun-akun ini sengaja dan secara khusus berusaha menabur perselisihan politik di Hong Kong, termasuk merusak legitimasi dan posisi politik gerakan protes di lapangan," kata Twitter, merujuk pada akun aktif yang ditutupnya (20/8).

Facebook mengatakan sejumlah unggahan pada laman Facebook dari akun yang ditutup membandingkan aksi protes Hong Kong dengan kelompok militan ISIS, menyebut pendemo 'kecoa' dan menuduh mereka merencanakan untuk membunuh orang dengan menggunakan katapel.

Pemerintah China telah memberi peringatan bahwa mereka siap untuk mengerahkan pasukan untuk menghadapi hampir tiga bulan kerusuhan yang terjadi, dan menyamakan demonstran dengan sebutan "teroris".

Namun mereka secara terbuka telah meninggalkan para pemimpin kota dan kepolisian kota untuk mencoba dan menyelesaikan krisis.

Menurut Twitter dan Facebook, di luar dunia maya pemerintah China berusaha mempengaruhi opini publik tentang Hong Kong.

"Kami mengungkap operasi informasi yang didukung negara (China), terutama gerakan protes dan seruan mereka untuk perubahan politik," kata Twitter.

Media sosial itu juga telah menutup 936 akun yang berasal dari China yang menyebarkan informasi salah.

"Kami punya bukti kuat yang menyatakan ini adalah operasi yang didukung oleh negara," kata Twitter.

Twitter dan Facebook selama ini dilarang di China. Kebijakan itu bagian upaya sensor dari negara.

Karena adanya larangan itu, banyak akun palsu mengakses Internet menggunakan "jaringan pribadi virtual" atau VPN yang bisa menyembunyikan lokasi pengguna, kata Twitter.

"Namun, beberapa akun mengakses Twitter dari alamat IP tertentu yang tidak diblokir yang berasal dari China daratan," ujar Twitter.

Facebook mengatakan telah bertindak atas petunjuk dari Twitter, menghapus sebanyak tujuh halaman, tiga grup, dan lima akun Facebook yang memiliki sekitar 15.500 pengikut.

"Meski orang-orang di balik kegiatan ini berusaha menyembunyikan identitas mereka, penyelidikan kami menemukan tautan ke orang-orang yang terkait dengan pemerintah China," kata Facebook.

Reporter Magang: Ellen Riveren [pan]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini