Sampai Kapan Raja Saudi Bisa Melindungi Pangeran bin Salman?

Sabtu, 26 Januari 2019 07:50 Reporter : Pandasurya Wijaya
Sampai Kapan Raja Saudi Bisa Melindungi Pangeran bin Salman? Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al Saud. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Harapan besar yang mengiringi terpilihnya Salman bin Abdulaziz Al Saudi sebagai raja Arab Saudi empat tahun lalu kini tampaknya sulit bertahan.

Ketika putranya, Pangeran Muhammad bin Salman (MBS) diangkat menjadi Putra Mahkota dan memimpin pemerintahan, Raja Salman tampaknya menghilang dari sorotan publik.

Dikutip dari laman Middle East Eye, Kamis (24/1), sejumlah krisis masih membayangi Saudi belakangan ini, terlebih gelombang kritik terus menerpa di tahun-tahun paling kontroversial dalam sejarah Saudi. Negeri Petro Dolar kini mengalami kebuntuan.

Paling tidak begitulah gambaran yang diungkap pengamat Timur Tengah dari London School of Economic, Profesor Madawi al-Rasyid dalam tulisannya di laman Middle East Eye.

Di dalam negeri, kata Rasyid, Pangeran MBS cukup buruk dalam menangani urusan keluarga Kerajaan dan dia mengguncang landasan aturan keluarga al-Saud ketika memperlakukan sejumlah pangeran senior dengan menangkap dan menyiksa mereka di hotel Ritz Carlton. Mereka kemudian dibebaskan setelah sepakat membayar uang tebusan.

Meski secara finansial Saudi masih selamat, tapi negara itu kehilangan kehormatan dan pengakuan di dunia internasional.

Yang pertama adalah masalah para pengkritik. MBS memperlihatkan kepemimpinan yang tidak memberi toleransi bagi mereka yang mengkritik secara damai. MBS menjebloskan ratusan orang pengkritik kerajaan, termasuk para profesional, aktivis perempuan, dan kaum Islamis ke penjara di Riyadh dan Jeddah yang terkenal kejam. Sebagian dari mereka melarikan diri ke luar negeri seperti Inggris dan Kanada.

Kaum muda Saudi selama ini perhatiannya dialihkan ke sejumlah program hiburan untuk menutupi tinggi angka pengangguran di kalangan anak muda, terutama bagi mereka yang baru kembali dari pendidikan tinggi di luar negeri.

Sektor swasta masih harus bergelut untuk tumbuh. Permintaan pejabat Saudi yang menyerukan agar para elit tidak menaruh uangnya di luar negeri menunjukkan cukup besarnya krisis di dalam negeri. Sejumlah proyek pembangunan juga harus ditunda, bahkan mungkin untuk selamanya.

Faktor Khashoggi

Perekonomian Saudi masih bergantung pada minyak, namun harga komoditas energi masih cenderung datar. Saudi membutuhkan masuknya investasi asing.

Kondisi ini justru dipersulit dengan munculnya pembunuhan Jamal Khashoggi di Konsulat Saudi di Istanbul, Turki pada 2 Oktober lalu. Sejumlah investor asing menolak hadir dalam konferensi untuk merayu mereka menanamkan uang ke Saudi.

MBS pada akhirnya harus menyadari jika Palestina menolak rencana damai maka dia harus mengizinkan Israel masuk ke pasar Saudi, sementara konflik antara kedua negara masih terus berlanjut.

Di saat yang sama hubungan Saudi dengan para negara sekutunya kian memburuk. Riyadh kini bersitegang dengan Kanada, Jerman, dan Swedia. [pan]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini