Riset : Burung hantu di Indonesia semakin rentan karena Harry Potter

Minggu, 13 Agustus 2017 14:34 Reporter : Aryo Putranto Saptohutomo
Burung Hantu. ©2015 merdeka.com/imam mubarok

Merdeka.com - Kisah tentang penyihir lelaki muda, Harry Potter, melawan musuhnya, Voldemort, sangat membekas di benak anak-anak dan para penikmatnya. Cerita rekaan penulis JK Rowling itu juga meledak ketika dibuat di layar lebar.

Di balik seluruh kesuksesan itu ada dampak buruknya. Sebab malah memicu perburuan satwa liar, terutama burung hantu. Tercatat sejak film Harry Potter ditayangkan 16 tahun lalu, justru perdagangan burung hantu di pasar hewan semakin meningkat, termasuk di Indonesia.

Dilansir dari laman The Guardian, Minggu (13/8), hal itu diketahui dari laporan berjudul Ekologi dan Konservasi Global ditulis oleh dua peneliti, Vincent Nijman dan Anna Nekaris, dari Universitas Oxford Brookes. Dalam hasil riset mereka dipaparkan bagaimana permintaan terhadap burung hantu liar melonjak.

Vincent dan Nekaris menyatakan pada 2001 ketika film Harry Potter perdana dirilis, hanya beberapa ratus burung hantu didapat secara ilegal laku terjual. Selang 16 tahun, mereka mencatat penjualan satwa itu mencapai angka sekitar 13 ribu.

Menurut keduanya, orang-orang banyak mencari burung hantu itu buat anaknya yang mendadak menginginkan hewan peliharaan setelah menyaksikan film Harry Potter. Harga jualnya yang berkisar antara USD 10 hingga USD 30 (setara sekitar Rp 135 ribu hingga Rp 400 ribu) dirasa masih terjangkau kalangan kelas menengah.

"Meningkatnya popularitas burung hantu sebagai hewan peliharaan justru membahayakan upaya konservasi satwa yang jumlahnya tidak banyak itu," kata keduanya.

Nijman dan Nekkaris juga berkeliling ke sejumlah pasar hewan di Jakarta. Di masa awal 2000-an, kata Nijman, cuma beberapa lapak menjajakan burung hantu.

"Saya ke Pasar Jatinegara pekan lalu, dan selama setengah jam saya melihat ada 135 burung hantu dijual 13 pedagang," ujar Nijman.

Karena hal itu, Nijman sudah mendesak pemerintah Indonesia supaya memasukkan burung hantu ke dalam daftar satwa dilindungi. Sebab, boleh jadi burung hantu terlihat menggemaskan ketika dijadikan hewan peliharaan, tetapi sejatinya dia tidak bisa hidup lama setelah ditangkap dari alam liar.

Melonjaknya perdagangan burung hantu juga terjadi di India, Malaysia, dan Thailand. Meski kaitan antara kisah Harry Potter dan meningkatnya permintaan burung hantu belum bisa dibuktikan, tetapi hal itu tak bisa dibantah. Di Negeri Jiran, burung hantu dijajakan malah kerap disebut Burung Harry Potter.

JK Rowling jauh-jauh hari sudah memperingatkan supaya orang-orang tidak memburu burung hantu dan dijadikan peliharaan, meski dengan dalih terinspirasi tokoh rekaannya. Sebab kenyataannya, biaya mengurus burung hantu sangat mahal dan banyak yang ditelantarkan pemiliknya.

"Kalau kalian terpengaruh isi buku saya dan berpikir burung hantu akan senang dimasukkan dalam kandang dan disimpan di rumah, maka kalian keliru. Burung hantu di dalam cerita Harry Potter tidak pernah bermaksud menggambarkan perangai satwa itu, atau mengajak kalian memeliharanya," kata Rowling. [ary]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.