UNIFIL Catat 152 Pelanggaran Udara Israel ke Lebanon dalam Tiga Hari

IDF juga terus menjatuhkan jeriken berisi bahan peledak di dalam wilayah operasi misi penjaga perdamaian.

Raynaldo Ghiffari Lubabah
UNIFIL Catat 152 Pelanggaran Udara Israel ke Lebanon dalam Tiga Hari
Seperti diketahui, Lebanon terseret ke dalam perang Timur Tengah ketika Hizbullah melancarkan serangan terhadap Israel untuk membalas gugurnya pemimpin Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Tampak dalam foto, para petugas penyelamat memeriksa puing-puing bangunan yang hancur di lokasi serangan Israel di wilayah Maarakeh, Lebanon selatan, dekat kota pesisir Tyre pada Sabtu 4 April 2026. (Kawnat HAJU/AFP)

Pasukan Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Lebanon (UNIFIL) mencatat 152 pelanggaran wilayah udara Lebanon oleh militer Israel dalam tiga hari terakhir. Hal itu disampaikan Juru Bicara PBB Stephane Dujarric, Kamis (17/9).

“Rekan-rekan penjaga perdamaian kami di Lebanon melalui UNIFIL terus mengamati aktivitas harian Pasukan Pertahanan Israel (IDF) di wilayah Lebanon ... Penjaga perdamaian mencatat 152 pelanggaran wilayah udara Lebanon oleh IDF dalam tiga hari terakhir,” kata Dujarric dalam sebuah taklimat pers.

Selain pelanggaran wilayah udara, militer Israel juga melancarkan 24 serangan udara dan delapan kali melanggar perairan berdaulat Lebanon.

Dujarric mengatakan IDF juga terus menjatuhkan jeriken berisi bahan peledak di dalam wilayah operasi misi penjaga perdamaian.

“Sedikitnya 11 ledakan tercatat pada Senin dan Rabu,” kata Dujarric, seraya menambahkan bahwa insiden tersebut terjadi di dekat Al-Mansouri, Lebanon selatan.

 

Pelanggaran di Tengah Kesepakatan

Pada Rabu, sebuah drone milik IDF yang tidak dilengkapi senjata jatuh di dekat posisi UNIFIL di Houla. Drone tersebut berasal dari posisi IDF di sebelah selatan Garis Biru.

“Pada Rabu, sebuah drone tanpa senjata yang berasal dari posisi IDF di sebelah selatan Garis Biru jatuh di dekat posisi UNIFIL di Houla. Drone-drone IDF lainnya kemudian memantau upaya evakuasi drone tersebut,” katanya.

Situasi tersebut berlangsung di tengah kesepakatan kerangka kerja antara Lebanon dan Israel yang ditandatangani di Washington, DC, pada 26 Juni.

Kesepakatan itu mengatur gencatan senjata penuh serta pemulihan kendali tentara Lebanon atas wilayah selatan negara tersebut dengan syarat pelucutan senjata Hizbullah.

Pembicaraan mengenai mekanisme pelaksanaan kesepakatan tersebut kemudian berlanjut di Roma pada 6-7 Agustus. Namun, serangan Israel terhadap Lebanon masih terjadi hampir setiap hari.

Israel juga mempertahankan keberadaan militernya di Lebanon selatan. Kondisi tersebut menyebabkan sebagian besar penduduk setempat terpaksa meninggalkan wilayah tersebut.

Rekomendasi