VIDEO Dari Saddam Hussein Hingga Fidel Castro, Para Pemimpin Dunia Bongkar Kedok AS yang Incar Minyak, Bukan Demi Demokrasi

Menyusul penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, Aljazeera mengunggah arsip video para pemimpin dunia yang memperingatkan kejahatan AS.

Magang
Oleh Magang - Reporter
VIDEO Dari Saddam Hussein Hingga Fidel Castro, Para Pemimpin Dunia Bongkar Kedok AS yang Incar Minyak, Bukan Demi Demokrasi
pemimpin dunia (aljazeera)

Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh pasukan Amerika Serikat (AS) akhir pekan lalu seolah menjadi pembenaran atas ketakutan terbesar para pemimpin Dunia Selatan di masa lalu.

Ketika Presiden AS Donald Trump secara terbuka mengakui niatnya untuk "mengambil alih" cadangan minyak Venezuela pasca-penangkapan tersebut, dunia kembali teringat pada peringatan-peringatan mengerikan yang pernah dilontarkan oleh Saddam Hussein, Muammar Gaddafi, Hugo Chavez, hingga Fidel Castro.

Melansir video arsip yang diunggah Aljazeera, para pemimpin ini sejak puluhan tahun lalu telah membongkar pola permainan Washington: menggunakan topeng demokrasi dan keamanan untuk menutupi napsu penguasaan sumber daya alam.

Pola yang Sama

Berikut adalah rangkuman peringatan mereka yang kini terasa sangat relevan.

1. Saddam Hussein (Irak): "Kuasai Minyak, Kuasai Dunia"

Dalam sebuah wawancara tahun 2003 sebelum invasi AS, Presiden Irak Saddam Hussein dengan tenang membedah motif Barat.

"Jika kalian ingin menguasai dunia secara keseluruhan, kalian harus menguasai minyak. Salah satu syarat penting untuk menguasai minyak adalah dengan menghancurkan Irak," ujarnya.

Relevansi 2026: Ucapan ini terbukti di Venezuela. AS menuduh Maduro terlibat narko-terorisme, namun akhirnya mengakui mengincar 303 miliar barel cadangan minyak negara tersebut. Polanya sama: hancurkan negaranya (lewat sanksi/invasi), lalu ambil minyaknya.

2. Muammar Gaddafi (Libya): "Besok Giliran Kalian"

Peringatan paling mencekam datang dari Muammar Gaddafi di Liga Arab tahun 2008, pasca eksekusi gantung Saddam Hussein.

"Kenapa Irak? Apa alasannya? Senjata pemusnah massal? Tidak ada... Bagaimana bisa seorang presiden negara Arab, anggota Liga Arab, digantung? Dan mungkin, giliran itu akan datang kepada kalian semua berikutnya," tegas Gaddafi sambil menunjuk para pemimpin lain.

Relevansi 2026: Ramalan Gaddafi menjadi kenyataan pahit bagi Maduro. Status kedaulatan negara tidak lagi berarti di hadapan kekuatan militer AS. Siapa pun yang berseberangan, bisa "diambil" kapan saja.

Mereka Tidak Ingin Damai

3. Hugo Chavez (Venezuela): "Mereka Tidak Ingin Damai"

Sang mentor Maduro, Hugo Chavez, dalam pidato PBB tahun 2006 sudah memprediksi nasib negaranya sendiri.

"Pemerintah Amerika Serikat tidak menginginkan perdamaian. Mereka ingin memaksakan model eksploitasi, penjarahan, dan hegemoni mereka melalui perang," kata Chavez.

Relevansi 2026: Konflik panjang AS-Venezuela bukan soal demokrasi, melainkan penolakan Venezuela untuk tunduk pada hegemoni ekonomi AS.

4. Nelson Mandela (Afsel): "Kekejaman yang Tak Terkatakan"

Bahkan Nelson Mandela, simbol perdamaian dunia, pernah memberikan kritik pedas pada 2003.

"Jika ada negara yang telah melakukan kekejaman tak terkatakan di dunia, itu adalah Amerika Serikat. Mereka tidak peduli," ucapnya.

Properti Amerika

5. Fidel Castro (Kuba): "Tanah Terbaik Milik Mereka"

Pemimpin Revolusi Kuba, Fidel Castro, menyoroti aspek ekonomi dalam pidato PBB tahun 1960.

"Tanah-tanah terbaik di Kuba, dan industri-industri paling penting... adalah properti milik perusahaan Amerika Utara," ujarnya.

Relevansi 2026: Trump baru saja menyatakan bahwa perusahaan minyak AS akan masuk kembali ke Venezuela untuk "memperbaiki" infrastruktur dan mengambil minyaknya. Peringatan Castro tentang penguasaan aset asing kini terulang kembali di Caracas.

Reporter Magang: Ahmad Subayu

Rekomendasi