Polisi Papua Nugini kini tengah menggelar operasi penyelamatan profesor Universitas Australia dan tiga peneliti asal universitas lokal yang disandera kelompok bersenjata. Mereka disandera di dekat Fogoma’iu, daerah perbatasan Dataran Tinggi Selatan dan Provinsi Hela, Papua Nugini.
Penyanderaan terjadi sejak para akademisi itu dibawa dengan todongan senjata pada Minggu Pagi (19/02).
Komisionaris Polisi David Manning menyatakan kelompok bersenjata itu menginginkan sejumlah uang tunai untuk membebaskan tawanan. Nominal tuntutan mereka mencapai USD 1 juta dolar dalam waktu 24 jam.
Namun, jumlah dan tenggat waktu tersebut dibatalkan.
“Personel pasukan keamanan khusus kami akan menggunakan cara apapun untuk melawan para penjahat, termasuk menggunakan kekuatan mematikan demi memberikan keselamatan dan keamanan para tawanan,” ujar Manning, seperti dilansir laman Aljazeera, Selasa (21/2).
Advertisement
Profesor yang ditawan merupakan seorang arkeolog di Universitas Australia yang sedang melakukan kunjungan lapangan ke desa Fogoma’iu di wilayah Gunung Bosavi.
Polisi mengatakan kelompok bersenjata itu secara kebetulan melihat para akademisi dan langsung membawa mereka ke dalam hutan.
“Kami menawarkan jalan keluar bagi para penculik. Mereka dapat membebaskan tawanan dan akan diperlakukan secara adil melalui sistem peradilan pidana. Namun, jika mereka melawan maka nyawa mereka bisa hilang,” ucap Manning.
Dalam beberapa tahun terakhir, wilayah Papua Nugini mengalami peningkatan perang suku dan masuknya senjata modern.
Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia tidak memberikan komentar atas permintaan tanggapan.
Reporter magang: Yobel Nathania