Ilmuwan Pertama Kali Temukan Mikroplastik pada ASI, Makin Membahayakan Kesehatan Bayi

Penelitian yang dipublikasi dalam Jurnal Polymers menunjukkan jika ASI ibu-ibu itu terkontaminasi mikroplastik polietilena, PVC, dan polipropilen.

Rita
Oleh Rita - Reporter
Ilmuwan Pertama Kali Temukan Mikroplastik pada ASI, Makin Membahayakan Kesehatan Bayi
Ibu menyusui. ©shutterstock.com/Goran Bogicevic

Ilmuwan berhasil menemukan keberadaan mikroplastik dalam ASI (air susu ibu). Keberadaan mikroplastik dalam ASI dapat mengancam kesehatan bayi yang masih menerima ASI dari ibunya.

Sebelumnya mikroplastik adalah partikel kecil plastik yang sulit hancur dan memiliki diameter kurang dari 5 milimeter. Mikroplastik sendiri adalah partikel yang berasal dari produk kosmetik kecantikan, pakaian, bungkus makanan, dan barang-barang proses industri. Mikroplastik juga dikenal sebagai partikel yang merusak lingkungan.

Keberadaan mikroplastik pertama kali ditemukan pada 2004. Kini mikroplastik sudah menyebar ke berbagai tempat, dari salju di Kutub Utara dan Selatan Bumi, dalam makanan laut, garam meja, hingga air minum.

Namun temuan mikroplastik dalam ASI bayilah yang mengagetkan ilmuwan.

Dikutip dari laman Wion, Senin (10/10), ilmuwan melakukan penelitian pada ibu yang baru seminggu melahirkan bayi di Kota Roma, Italia. Ilmuwan menemukan jika 34 ibu bayi memiliki ASI yang terkontaminasi mikroplastik. Keberadaan mikroplastik sebesar 75 persen berhasil dideteksi pada asi ibu-ibu itu.

Penelitian yang dipublikasi dalam Jurnal Polymers menunjukkan jika ASI ibu-ibu itu terkontaminasi mikroplastik polietilena, PVC, dan polipropilen.

Temuan 3 partikel mikroplastik ini lebih berbahaya dibanding temuan mikroplastik phthalates dalam ASI yang pernah dijumpai sebelumnya.

Dalam penelitian, para peneliti mencatat konsumsi makanan dan minuman ibu-ibu itu. Mereka menemukan jika ibu-ibu itu sering mengonsumsi makanan dan minuman yang dikemas plastik, memakan makanan laut, dan menggunakan produk kebersihan pribadi yang mengandung plastik.

Namun ilmuwan tidak menemukan hubungan keberadaan mikroplastik dengan produk-produk yang digunakan ibu-ibu itu.

Akhirnya ilmuwan menarik kesimpulan jika ASI ibu-ibu itu tercemar mikroplastik karena keberadaan mikroplastik yang dapat ditemukan di mana-mana. Paparan mikroplastik kepada ibu-ibu itu pun tak terelakkan.

“Jadi, bukti keberadaan mikroplastik dalam ASI meningkatkan kepedulian kami terhadap populasi bayi yang sangat rentan,” jelas Dr Valentina Notarstefano.

“Sangat penting untuk menilai cara mengurangi paparan kontaminan ini selama kehamilan dan menyusui,” lanjutnya.

“Tetapi harus ditekankan bahwa keuntungan menyusui jauh lebih besar daripada kerugian yang ditimbulkan oleh adanya mikroplastik yang mencemari. Studi seperti kami tidak boleh mengurangi pemberian ASI pada anak-anak, tetapi sebaliknya, meningkatkan kesadaran publik untuk menekan politisi agar mempromosikan undang-undang yang mengurangi polusi,” jelasnya.

Reporter Magang: Theofilus Jose Setiawan

Rekomendasi