India Blokir Aplikasi Bulli Bai yang Unggah 100 Foto Perempuan Muslim untuk Dijual

Kepolisian di dua negara bagian di India menangani kasus aplikasi ponsel yang membagikan foto lebih dari 100 perempuan Muslim yang "dijual".

Hari Ariyanti
Oleh Hari Ariyanti - Reporter
India Blokir Aplikasi Bulli Bai yang Unggah 100 Foto Perempuan Muslim untuk Dijual
ilustrasi aplikasi mobile. ©2012 smallbusinessindia.intuit.in

Kepolisian di dua negara bagian di India menangani kasus aplikasi ponsel yang membagikan foto lebih dari 100 perempuan Muslim yang "dijual". Tersangka dalam kasus ini termasuk pengembang aplikasi tersebut dan admin Twitter yang membagikan foto-foto dan konten terkait hal tersebut.

Sejak kasus ini mencuat, aplikasi Bulli Bai - yang dihosting di platform GitHub itu telah diblokir atau ditutup.

Ini adalah upaya kedua dalam beberapa bulan terakhir untuk melecehkan perempuan Muslim di India dengan "melelang" mereka di dunia maya.

Pada Juli, aplikasi dan situs web "Sulli Deals" menampilkan profil lebih dari 80 perempuan Muslim - menggunakan foto yang mereka unggah online - dan menyebut mereka "tawaran hari ini".

Dalam dua kasus ini, tidak ada transaksi jual beli di dunia nyata, dan tujuannya adalah untuk merendahkan dan menghina perempuan Muslim dengan membagikan foto pribadi mereka.

Sulli adalah istilah slang bahasa Hindi hinaan yang digunakan buzzer Hindu sayap kanan untuk perempuan Muslim, dan "bulli" juga bermakna merendahkan.

Dikutip dari BBC, Selasa (4/1), jurnalis Ismat Ara, yang nama dan fotonya muncul di aplikasi Bulli Bai, mengajukan laporan ke kepolisian akhir pekan kemarin di Delhi. Laporan itu menyasar orang yang tidak teridentifikasi dan dakwaannya termasuk pelecehan seksual dan menghasut kebencian atas nama agama.

Kepolisian di Mumbai menangani kasus kedua menyasar beberapa admin Twitter dan pencipta aplikasi tersebut berdasarkan laporan dari perempuan yang berada dalam daftar Bulli Bai. Daftar perempuan yang dilecehkan dalam aplikasi ini termasuk jurnalis, aktivis, aktor Bollywood pemenang penghargaan, dan bahkan ibu seorang mahasiswi yang hilang pada 2016.

Banyak perempuan yang fotonya diunggah di aplikasi Bulli Bai menulis di Twitter mereka trauma dan takut.

Hampir enam bulan kemudian, polisi belum melakukan satu pun penangkapan terkait kasus Sulli Deals ini.

Asra menyampaikan kepada Al Jazeera, lambannya penyelidikan membuatnya kurang percaya terhadap kinerja aparat.

"Tentu mengecewakan melihat impunitas para penyebar kebencian terus menargetkan perempuan Muslim, tanpa takut atas sanksi apapun," tulisnya dalam laporannya.

Menteri Informasi dan Teknologi, Ashwini Vaishnaw menyampaikan pada Sabtu, GitHub memblokir pengguna yang mengunggah aplikasi tersebut, dan polisi berkoordinasi dengan badan siber untuk "tindakan lebih lanjut".

"Selain memblokir platformnya, menghukum pelaku yang membuat situs semacam itu juga penting," kata Priyanka Chaturvedi, anggota parlemen dari Partai Shiv Sena.

Chaturverdi menyampaikan kepada kantor berita ANI, aplikasi baru dibuat karena para pembuat Sulli Deals belum dihukum.

Laporan Amnesty International pada 2018 menyampaikan, pelecehan online di India menunjukkan, semakin vokal perempuan, semakin mungkin dia ditargetkan dan skala yang menargetkan perempuan dari kalangan agama dan kasta minoritas meningkat.

"Bulu kuduk saya merinding," kata seorang perempuan yang menjadi korban, yang namanya berada dalam daftar Sulli Deals kepada BBC.

Para pengkritik mengatakan, penyerangan perempuan Muslim di dunia maya meningkat dalam beberapa tahun terakhir di tengah iklim polarisasi politik yang semakin parah.

"Serangan yang ditargetkan dan direncanakan ini merupakan upaya untuk membungkam suara Muslim berpendidikan yang mengekspresikan pendapat mereka dan berbicara menentang Islamofobia," kata Nazia Erum, penulis dan mantan juru bicara Amnesty International India kepada BBC.

Rekomendasi