Pada Rabu (18/3), Italia melaporkan 475 kematian baru karena virus corona, angka kematian tertinggi dalam sehari di seluruh dunia sejak kasus pertama terdeteksi di China akhir tahun lalu.
Total kematian di Italia telah mencapai angka 2.978, lebih dari setengah dari semua kasus yang tercatat di luar China, sementara angka infeksi sebanyak 35.713.
Seiring angka kematian terus melonjak kendati negara di Mediterania itu memasuki pekan kedua karantina wilayah (lockdown), pemerintah mendesak warga untuk tetap yakin dan kuat.
"Hal paling utama adalah, jangan menyerah," kata Kepala Institut Kesehatan Nasional Italia, Silvo Brusaferro dalam sebuah siaran konferensi pers, dilansir dari Channel News Asia, Kamis (19/3).
Brusaferro menambahkan, membutuhkan waktu beberapa hari sebelum dapat melihat manfaat dari langkah-langkah menghentikan penyebaran virus.
"Kita harus tingkatkan langkah-langkah inti untuk melihat efeknya, dan utamanya untuk melindungi yang paling rentan," jelasnya.
Advertisement
Ditetapkan secara nasional pada 12 Maret, penutupan sebagian besar bisnis Italia dan larangan pertemuan publik akan berakhir pada 25 Maret. Tapi penutupan sekolah dan langkah-langkah lainnya, seperti larangan menghadiri kegiatan olahraga, berlaku sampai 3 April.
Pejabat tinggi pemerintah pada Rabu mengisyaratkan penutupan sekolah akan diperpanjang hingga bulan depan, jika tidak lebih lama.
Angka di Italia sendiri tetap stabil, dengan dua pertiga dari kematian - seluruhnya 1.959 - dilaporkan di wilayah Lombardy utara di sekitar Milan, ibukota mode dan keuangan Italia.
Wilayah tetangga Emilia-Romagna di Bologna mencatat total 458 kematian, dan wilayah Piedmont Turin terdata ada 154 kematian. Sementara di Lazio Roma ada 32 kematian dan 724 infeksi.