Kementerian Urusan Strategi membentuk tim rahasia yang terdiri dari mantan jenderal dan mantan duta besar PBB. Badan rahasia ini nantinya berfungsi untuk menyadarkan masyarakat dan melawan kampanye delegitimisasi terhadap Israel secara internasional.
Dilansir dari laman Russia Today, kelompok tersebut, yang bernama Kella Shlomo, menerima dana sebesar USD 37 juta (Rp 403 triliun) dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Menurut sebuah laporan, rencana pemerintah yang diperoleh oleh media pengawas Seventh Eye, pendanaan ini bertujuan untuk melaksanakan sebagian dari kegiatan kementerian yang berkaitan dengan perjuangan melawan fenomena delegitimisasi dan boikot terhadap Israel.
Menurut daftar pemegang saham dan direksi perusahaan, mantan duta besar PBB Dore Gold, Yossi Kuperwasser, mantan direktur jenderal kementerian strategis, Sagi Balasha, mantan direktur jenderal Dewan Israel-Amerika (IAC) dan Ehud Danoch, mantan konsul jenderal Israel di Los Angeles adalah bagian dari tim tersebut.
Menurut penasihat hukum Kementerian Liat Glazer, organisasi tersebut akan melibatkan media daring dan media sosial, untuk mengarahkan upaya perlawanan serta menyadarkan dan beralih ke wilayah ini.
Selain itu, organisasi ini juga akan mengatur delegasi yang memimpin opini publik, termasuk mereka yang memengaruhi orang-orang non Yahudi.
Kementerian Urusan Strategis disebut sebagai anti BDS yang baru, dan mereka berada di balik 20 kelompok BDS internasional yang masuk daftar hitam.
Namun bekum jelas apakah Kella Shlomo akan dikecualikan oleh Undang-Undang Informasi Kebebasan Israel, seperti kegiatan Klandestin. Karena Kella Shlomo adalah lembaga ekstra pemerintah.
Menurut situs berita Haaretz, sebagai kementerian yang memimpin inisiatif tersebut, mereka sudah mengalokasikan alat pengawas tambahan dan berfungsi sesuai kebutuhan.